Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

USAT Liberty Tulamben; Kadang Bak Istana, Kadang Muncul Suara Tangisan

16 Juli 2019, 20: 46: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

USAT Liberty Tulamben; Kadang Bak Istana, Kadang Muncul Suara Tangisan

BAWAH LAUT: Pemandangan bawah laut di perairan Tulamben, Karangasem. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TULAMBEN - Sejak kapal USAT Liberty karam di perairan, Tulamben, Karangasem, sejumlah orang meninggal dunia di sana. Korban pertama adalah salah satu buruhnya Busro yang lehernya putus hingga kepalanya mental. Ada juga warga Tulamben meninggal dunia saat mencari karet.

“Warga Tulamben itu zaman dulu,” sebut saksi mata karamnya kapal tersebut, I Nyoman Kariyasa, 84.

Ceritanya, ada dua orang warga Tulamben mengambil karet kapal. Saat matahari mulai tenggelam, salah satu di antarnya mengajak rekannya pulang. Namun rekannya tersebut mengatakan “nanti dulu, lagi satu karet saja”. Dengan polos rekannya menunggu. Namun tak berselang lama,  rekan yang menunggu tersebut melihat darah. Ternyata temannya meninggal. “Bisa saja karena terjepit,” katanya.

Selain itu, pernah juga seorang petani meninggal dunia saat mandikan sapi di laut areal kapal karam. Informasi yang berkembang di masyarakat, petani itu meninggal tenggelam saat mengejar sapinya mandi semakin ke tengah. Khawatir sapinya tenggelam, lalu dikejar. “Ternyata sapinya kembali.  Yang punya malah meninggal dunia karena tenggelam tidak bisa berenang,” kata Kariyasa.

Selain itu, sejumlah wisatawan juga meninggal saat diving. Koran ini sempat meliput korban diving meninggal dunia pada 9 Agustus 2018. Saat itu korban ikut rombongan mengibarkan bendera Merah Putih yang merupakan program salah satu TV.

Terlepas dari faktor skala seperti kehabisan oksigen atau faktor lainnya, Desa Adat Tulamben meyakini bahwa di balik beberapa orang meninggal itu ada unsur niskala. Sebagai desa yang kecipiratan berkah dari kapal yang kini ramai jadi wisata menyelam, Desa Adat Tulamben secara rutin menggelar upacara. Yakni ngaturang pakelem di wilayah tersebut.

Upacara pakelem rutin digelar sejak sekitar tiga tahun lalu. Pakelem berupa hewan. Di antaranya kambing, bebek, ayam dan lainnya. Upacara tersebut merupakan tanggung jawab desa adat. Upacara digelar di Pura Dalem yang ada di sekitar itu. Pakelem tak harus di kapal. Terpenting di perairan Tulamben. “Kami tidak bilang dengan upacara pakelem menjamin tidak akan ada meninggal, tapi sebagai umat Hindu kami berdoa. Kami menggelar upcara pakelem supaya tidak ada korban,” tuturnya. 

Warga Tulamben I Wayan Mangku Suardana menambahkan, tak hanya orang meninggal di sana. Sejumlah wisatawan pernah merasakan hal-hal di luar nalar. Misalnya mendengar orang menangis minta tolong. Ada yang melihat kapal bak istana. Beberapa orang juga mengalami hal aneh lainnya. Misalnya, hasil foto tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kalau saya sih syukur tidak pernah mengalami langsung kejadian aneh. Ada yang bilang sudah yakin dengan objek yang difoto. Ternyata hasilnya objek lain,” tutur anak kelima Karyasa ini.

Keanehan semacam itu juga diungkapkan seorang instruktur diving Made Sukarmita, 54. Instruktur yang sudah sering mengantar wisatawan diving ke Liberty sejak sekitar 20 tahun lalu itu mengakui pernah mendengar cerita-cerita aneh dari rekannya. Namun hal itu tak membuatnya maupun wisatawan khawatir. Terpenting melakukan aktivitas sesuai prosedur. Wisatawan sebelum diving dicek kesehatannya.

“Mungkin saja teman-teman yang melihat hal-hal aneh itu punya indigo. Kalau saya syukurlah sampai sekarang tidak pernah meliahat hal-hal aneh,” tegasnya ditemui di Tulamben usai mengantar wisatawan diving. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia