Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Sabang Daat, Pura Unik di Tengah Hutan Tanpa Palinggih

17 Juli 2019, 08: 11: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Sabang Daat, Pura Unik di Tengah Hutan Tanpa Palinggih

HUTAN: Pura Sabang Daat terletak di tengah hutan Desa Pakraman Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar. Tak ada palinggih khusus, yang ada hanya pembatas pagar, wastra dan gedung putih kuning. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Mendengar kata pura sudah tentu pikiran kita akan tertuju dengan bentuk bangunan suci. Namun, berbeda dengan Pura Sabang Daat yang berada  di tengah hutan. Tak ada bangunan khusus, yang ada hanya berupa asagan, yakni tempat meletakkan banten (sesajen). 

Pura Sabang Daat berada di perbatasan Kabupaten Gianyar dengan Bangli. Tepatnya 
terletak di kawasan Desa Pakraman Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar.
Pemangku Pura Sabang Daat, Jero Mangku Puseh Desa Puakan menjelaskan, Pura Sabang Daat terdiri atas dua kata. “Sabang bermakna Saba, yaitu pertemuan orang penting, sedangkan Daat itu berarti pingit atau sakral. Jadi, Sabang Daat berarti pura yang diperuntukan pertemuan pingit," paparnya kepada  Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin. 

Pura Sabang Daat, Pura Unik di Tengah Hutan Tanpa Palinggih

PEMANGKU: Upacara di Pura Sabang Daat tak dipuput sulinggih, dan ada lingga yoni yang muncul dari tanah. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)


"Konon dahulu sebelum upacara dilakukan, disinilah dilaksanakan pertemuan terlebih dulu oleh para sulinggih, pemangku, dan orang penting lainnya,” tutur pemangku yang enggan menyampaikan nama aslinya itu.


Pura Sabang Daat merupakan pura  tanpa ada bangunan palinggih yang dibuat seperti zaman sekarang. Melainkan masih mempertahankan yang ada sejak dahulu, yakni sebuah asagan di tengah-tengah hutan. Sehingga dikenal dengan pura yang tanpa palinggih. Pura tersebut berdiri sejak 2000 sebelum masehi, dan sampai saat ini masih dipertahankan utuh.


Meski demikian, secara sekala memang tidak dapat ditemui sebuah palinggih. Namun, secara niskala di kawasan tersebut konon sudah ada  bangunan pura yang megah. Ada bangunan Padmasana yang besar berbahan emas. “Kalau kita memang melihatnya sekadar pasangan. Namun, orang-orang spiritual mengakui terdapat bangunan yang sangat megah sekali. Hal itu dubuktikan oleh salah satu sulinggih yang  sempat ke sini dan kaget meilhat bangunan yang ada, dikatakan megah dan sangat besar,” jelasnya.


Pura yang luasnya keseluruhan dua  hektare tersebut,  hanya terdiri  jeroan dan jaba sisi.  Jeroan disengker menggunakan turus hidup seluas 6 are. Terdapat lingga yoni di jeroan pura yang muncul di permukaan tanah. “Yang membuat aneh, areal jeroan pura  lokasinya rendah, sedangkan di pinggirnya lebih tinggi. Meski hujan dan bertahun-tahun tetap saja rendah, semestinya aliran air membawa tanah ke jeroan pura. Ini nyatanya tetap rendah dan sekelilingnya tinggi seperti dibatasi sebuah tembok ,”  terang Jero Mangku Puseh Puakan.  


Pria 38 tahun tersebut menambahkan,  Pura Sabang Daat diempon  35 desa pakraman. Selain dari Desa Taro sendiri, dari wilayah Ubud dan Kintamani juga  ikut menjadi pangempon. Sehingga semua sasuhunan  dari 35 desa tersebut nangkil  untuk matur piuning sebelum ngunya di desanya masing-masing. “Sebelum sasuhunan nangkil ke Pura Sabang Daat ini tidak boleh ngunya.Iistilahnya  ini sebagai tempat untuk nunas panugerahan saat Galungan. Ketika itu dilanggar, maka ada saja halangan, mungkin akan turun hujan dan kehilangan sarana upacara,” paparnya.


Selama ini, lanjutnya,  tidak ada satupun yang berani melanggar pantangan tersebut. Meskipun ada harus segara menghaturkan upacara guru piduka, mohon maaf atas kekeliruan yang  dilakukan.


Pria asli Desa Pakraman Puakan ini menegaskan,  di pura tersebut tidak boleh menggunakan gambelan dan genta, juga tidak boleh sulinggih yang muput upacara. Bahkan di seluruh Desa Pakraman Puakan tidak diperkenankan yang muput sulinggih. Melainkan jero mangku setempat, mengingat  sudah terdapat pura linggih Ida Rsi Markandya di Pura Sabang Saat.

“Sebesar apapun  upacara di sini, tidak ada sulinggih yang muput, Yang muput hanya pemangku saja. Karena keyakinan masyarakat di sini semuanya sudah ada, tinggal nunas tirta saja di Pura Sabang Daat kemudian dihaturkan oleh pemangku,” tandasnya.


Warga setempat meyakini di Pura Sabang Daat yang merupakan linggih Ida Rsi Markandya ini, tempat memohon berkah.Salah satu warga, Ketut Dharma mengakui tidak sedikit warga yang sembuh setelah nunas tirta, termasuk bagi pasangan yang lama belum dikaruniai keturunan.

 “Warga di lingkungan Desa Pakraman Puakan ini sudah banyak membuktikan. Ada yang sakit tidak sembuh-sembuh, setelah nunas tamba di pura ini bisa sembuh. Begitu juga yang lama belum memiliki anak, berhasil juga setelah nunas di sini,” ujarnya. Nunas tamba dan keturunan itu, lanjutnya,   biasanya berawal dari firasat dan petunjuk secara niskala. 


“Kalau sarana yang dihaturkan   tidak mematok harus begini dan begitu. Tergantung pamedek,  sesuai kemampuan dan keyakinannya masing-masing. Semuanya kembali kepada keyakinan dan ketulusan,” imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia