Rabu, 21 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Viral Bullying, Penonton dan Pengunggah juga Bisa Jadi Pelaku

17 Juli 2019, 18: 38: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Viral Bullying, Ketua Himpsi Sesalkan Penonton dan Pengunggah

BULLYING: Humas Pengurus Pusat HIMPSI Bali Retno IG Kusuma menyarankan agar pemerintah mulai merampingkan jumlah siswa untuk menurunkan perilaku bullying. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Fenomena penganiayaan oleh siswi-siswi sekolah yang kemudian direkam dan diunggah ke media sosial mulai menjadi suguhan umum di wilayah Bali. Kondisi yang sangat memprihatinkan ini rupanya juga ditonton banyak pihak saat kejadian berlangsung. Mereka justru memilih menjadi penonton dan merekam daripada melerai kejadian bullying tersebut.

Menanggapi kondisi remaja seperti ini, mantan Ketua HIMPSI (Himpunan Psikologi) Bali yang sekarang menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat HIMPSI  Retno IG Kusuma saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos group), Rabu (17/7), sangat menyayangkan kejadian tersebut. Bahkan kejadian ini seharusnya membuat semua pihak prihatin akan kondisi remaja saat ini.

“Dorongan agresivitas mereka memang jauh lebih tinggi kan. Memang ada beberapa kondisi patologis dari si pelaku yang memang punya satu kebutuhan tadi. Bullying kan banyak banget terjadi di antara remaja. Bagian dia mengekspresikan entah kondisi rumahnya, tekanan sekolah ataupun memang gangguan kepribadian,” jelas Retno.

Terjadinya fenomena ini, dikatakannya, tidak luput dari peran media sosial, dimana dalam perkembangannya dimanfaatkan banyak orang dengan banyak tujuan. Mulai dari hasrat mencari perhatian, ingin eksis atau diakui, hingga ingin nge-top. Sehingga dengan banyak yang menonton dan menge-like, mereka akan merasa diakui oleh publik.

Inilah yang disebutnya menjadi PR (pekerjaan rumah) semua pihak, mulai dari pertanyaan mengapa sampai sebegitunya?. Karena dalam dunia bullying dipastikan ada tiga unsure, yakni pelaku, korban dan penonton. Kondisi lebih memprihatinkan, disebutnya, adalah penonton yang memilih tidak melerai, tetapi justru asyik memvideokan.

“Sebenarnya yang sangat berbahaya adalah penontonnya juga. Kenapa tidak mencegah, tetapi justru memvideokan? Ada apa nih. Satu dinamika psikologis apa nih yang terjadi pada remaja penonton tersebut. Karena termasuk agresivitas visual, yang menjadi pendorong itu terjadi. Jika memang punya hati nurani, kan harusnya mencegah,” jelasnya.

Para penonton ini, menurutnya, juga bisa menjadi pelaku bullying. Lantaran adanya unsur kesengajaan saat kejadian, kesengajaan membiarkan bullying itu terjadi. Bahkan dengan memviralkan unggahan ke media sosial pun termasuk bullying melalui sosial media. Sementara dipandang dari segi pendidikan, Retno menjelaskan, kondisi tersebut dipastikan adanya keinginan untuk eksis. Hingga menjadi kebanggaan tersendiri sampai membuat kecanduan untuk mengulanginya lagi. Sehingga tindak kekerasan ini disebutnya seperti memberikan efek dua mata uang. Antara empati dan prihatin atau justru efek keterbangkitkan agresivitas.

Mengomentari kondisi psikologis rata-rata remaja di Bali, Retno mengatakan, perlunya Dinas Pendidikan, Psikologi dan semua pihak terkait prihatin terhadap kondisi ini karena remaja banyak yang tidak paham bullying dan efeknya.

“Sosialisai perlu, apalagi ke guru, agar guru bisa menyebarkan kepada anak didiknya secara intensif, bukan hanya sekali. Saya melihat semakin ke sini, guru semakin cuek, empati kepada siswanya kurang sekali,” tegasnya.

Pemerintah, lanjutnya, juga harus merampingkan jumlah murid dalam satu kelas. Jangan satu kelas diisi 30 sampai 50 siswa seperti sekarang, sehingga pengawasan akan semakin sulit dan semakin banyak konflik. Harus dirampingkan supaya mudah bagi guru untuk memberikan feedback kepada siswa didiknya dan mudah berinteraksi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Bali Kombespol Hengky Widjaja saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (17/7) menyampaikan, secara penegakan hukum, pelaku dalan video tersebut dipastikan akan segera dicari. Sementara dari kegiatan preemtif dan preventif, akan ditindaklanjuti Binmas, terkait imbauan-imbauan kepada orang tua, kepada sekolah-sekolah agar tidak terulang. Karena hal ini sering terjadi.

“Beberapa kali terjadi dan mereka tidak segan-segan untuk memvideokan dan mengekspos. Itu tidak bagus untuk perkembangan atau psikologis anak. Dan juga psikologis pelaku pada masa yang akan datang,” terang Hengky.

Menurutnya, hal itu terjadi lantaran usia mereka yang masih muda dan tidak memikirkan efek dari apa yang dilakukan, termasuk penganiayaan yang divideokan dan diekspos. Pihaknya masih akan mencari peraturan terkait untuk segera diliterasi ke sekolah-sekolah, sehingga diharapkan akan menekan kejadian serupa.

“Saya yakin itu tidak ada motif lain, hanya karena mereka masih labil. Memang unsur pidananya ada, tapi kami lihat usianya. Kami lebih banyak ke arah ke pendidikan mereka, tidak langsung mengambil ke langkah hukum,” jelasnya.

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia