Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Lontar Dipingit dan Pemilik Takut Ajawera, Konservasi Terhambat

17 Juli 2019, 19: 57: 31 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lontar Dipingit dan Pemilik Takut Ajawera, Konservasi Terhambat

Lontar Dipingit dan Pemilik Takut Ajawera, Konservasi Terhambat (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR -  Gara-gara lontar dianggap pingit dan pemilik tidak berani membuka karena takut ajawera, konservasi terhadap lontar milik pribadi di Kabupaten Gianyar, oleh tenaga Penyuluh Bahasa Bali, menjadi terhambat.

Perawatan untuk lontar atau yang disebut dengan konservasi saat ini masih gencar dilakukan Penyuluh Bahasa Bali. Langkah itu dilakukan guna menyelamatkan dan mempertahankan catatan penting yang bertuliskan aksara Bali  agar tidak rusak. Namun sejauh ini, Penyuluh Bahasa Bali masih terkendala dengan tidak beraninya pemilik lontar untuk membuka untuk dibersihkan karena dipingitkan. 

Hal itu diungkapkan Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, I Wayan Suarmaja kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (17/7). Ia menyampaikan, khusus di Kabupaten Gianyar masih terdapat beberapa pemilik lontar yang enggan lontarnya dibersihkan dan membiarkan begitu saja dimakan rayap. Ia pun berharap kesadaran pemilik lontar agar terbuka dengan Penyuluh Bahasa Bali, karena akan membantu perawatan lontar yang ada. 

"Intinya masyarakat tidak usah takut lontarnya dirawat. Penyuluh Bahasa Bali hanya merawat naskah di rumah pemilik, dan lontar itu tidak akan diambil," terang pria asli Desa Buahan, Payangan tersebut. 

Suarmaja pun mengaku, pihaknya menemukan kendala di lapangan karena rata-rata masyarakat masih takut lontarnya dibuka. Kalaupun ada masyarakat yang mengizinkan lontarnya dirawat,  terkadang biaya pembelian bahan perawatan mereka tidak punya. Sedangkan tugas penyuluh hanyalah merawat atau menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM), tidak termasuk menyediakan bahan-bahannya. 

"Masyarakat pemilik lontar yang membeli bahannya, sedangkan penyuluh hanya menyediakan SDM.  Namun alat penunjang lainnya, per kabupaten/kota, penyuluh yang menyediakan, gratis," tegasnya. 

Suarmaja menambahkan, pemerintah sudah menganggarkan untuk perawatan naskah melalui dinas terkait, mengingat Bali banyak memiliki lontar, baik di puri, gria, dan rumah. Jika semua dibebankan ke penyuluh, tentu tidak memungkinkan. 

"Bahan yang perlu disiapkan hanya minyak sereh dan alkohol. Sisanya penyuluh yang menyediakan.  Satu liter minyak sereh harganya Rp 600 ribu, sedangkan alkohol Rp 100 ribu," ungkap dia. 

Ia menambahkan, pada Purnama Kasa, Selasa (16/7), pihaknya melakukan konservasi lontar di Gria Serama, Banjar Telabah, Desa/Kecamatan Sukawati. Lontar tersebut memuat tentang sesana sebagai brahmana atau kewajiban seorang brahmana. Dengan melibatkan 21 tenaga penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Gianyar, konservasi dapat selesai dalam sehari. 

"Kami mulai dengan matur piuning di tempat lontar dilinggihkan. Selanjutnya baru membersihkan debu dengan kuas, mengelap menggunakan kain halus yang diisi minyak sereh. Setelah bersih, dikeringkan dengan cara diangin-anginkan," tukasnya. 

Setelah kering baru diidentifikasikan bagian-bagiannya. Mulai dari judul, panjang,lebar naskah, tebal atau jumlah lembaran, kalimat pembuka, kalimat penutup, penanggalan, identitas penulis,  dan pemilik tempat penyimpanan. "Penyuluh Bahasa Bali tidak hanya merawat lontar, tetapi juga pembinaan baik nulis aksara, mesanti dan sebagainya yang berkaitan dengan bahasa, aksara, dan sastra Bali," imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia