Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Kasus Pemerkosaan Notaris

Lancarkan Aksi, Rimbawan Jalin Percintaan dengan Ibu Korban

17 Juli 2019, 22: 47: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lancarkan Aksi, Rimbawan Jalin Percintaan dengan Ibu Korban

ilustrasi (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARANG - Jika ditelusuri melalui dakwan, terdakwa Rimbawan ada hubungan khusus dengan ibu korban JM. Dalam dakwaan disebutkan, peristiwa terjadi 31 Juli 2012 sampai 21 Desember 2016 di Graha Estetika Jl. Citra H-18 RT.03 RW.08, Semarang. Terdakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak melakukan persetubuhan.

Berawal pada tahun 2011 terdakwa tinggal di rumah JM sebagai teman dekat di Graha Estetika Jl. Citra H-18 RT.03 RW.08 Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Saat itu JM mempunyai seorang anak perempuan bernama T, lahir di Semarang.

 

Sehari-hari, terdakwa membantu JM mengantar jemput sekolah anaknya yaitu saksi korban T. Bahwa saat usia saksi korban T menginjak 13  tahun sampai dengan 17 tahun, Rimbawan  melakukan pelecehan seksual. Misalnya saat korban T tidur, terdakwa mencium bibir korban dan meraba tubuh korban, (maaf) sampai kemaluan korban.

Terdakwa menghentikan aksinya, ketika korban bangun. Sampai pada tanggal 31 Juli 2012, sekitar pukul 23.00 WIB, terdakwa masuk ke dalam kamar tidur saksi korban T melalui pintu yang menghubungkan kamar tidur terdakwa dan ibu saksi korban yaitu JM dengan kamar tidur saksi korban T,yang selalu dalam keadaan terbuka.

Saat itu saksi korban T sedang bermain HP (Blackberry warna hitam), padahal ada aturan di keluarga bahwa tidak boleh bermain HP sampai larut malam, dan saat itu, ibu saksi korban JM sedang tidur. Mengetahui terdakwa masuk ke kamarnya saksi korban T menjadi kaget, dan segera menyembunyikan HP-nya di bawah bantal. Namun HP tersebut kemudian mengeluarkan getaran, tanda adanya pesan lewat BBM masuk. Kemudian terdakwa memeriksa HP milik T dan melihat ada BBM masuk yang salah satunya berasal dari R, guru saksi korban.

Hal ini dipakai terdakwa melancarkan siasatnya. Pura-pura marah, menyuruh T ke luar kamar tidurnya menuju ruang piano yang gelap. T semula tidak mau, tetapi terdakwa mengancam, apabila T tidak menuruti kemauannya, terdakwa akan melaporkan kepada ibunya karena malam-malam masih chating-an dan juga akan melaporkan R kepada JM supaya mendatangi sekolah dan meminta agar sekolah memecat R.

Ancaman terdakwa tersebut membuat T menjadi takut, kemudian mulai mengikuti permintaan terdakwa. Misalnya korban disuruh memegang alat kelamin terdakwa, menelanjangi korban, korban difoto. Kemudian tangan terdakwa dimasukan ke kemaluan korban. Namun tidak sampai disetubuhi.

Pada 1 Agustus 2012, sekitar pukul 15.00, terdakwa menjemput T dari sekolahnya. Sampai di rumah korban diperkosa. Korban menangis berteriak, namun rumah kosong. Ibu korban JM tidak ada di rumah. Parahnya lagi, terdakwa mengaku juga berhubungan badan dengan ibu korban yaitu JM kepada korban T. Namun terdakwa mengaku tidak mencintai ibu korban, dan lebih senang berhubungan dengan korban.

Setelah diperkosa, terdakwa mengancam. Jika sampai menceritakan ke ibunya, terdakwa mengaku akan meninggalkan ibunya. Korban T tahu, ibunya sangat mencintai terdakwa. Sehingga takut menceritakan ke ibunya. Artinya terdakwa memang sudah diketahui ada hubungan, layaknya selingkuh dengan ibu korban.

Namun menurut beberapa sumber menyebutkan, setelah kasus ini meledak malah ibu korban yaitu JM kabarnya menikah dengan terdakwa Rimbawan. Dan lebih memilih membela Rimbawan, sedangkan korban dibela oleh neneknya. Hingga memilih melaporkan kasus ini.

(bx/art/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia