Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Notaris Asal Denpasar Paksa ABG Bersetubuh Tak Manusiawi (Bikin Mual)

18 Juli 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Notaris Asal Denpasar Paksa ABG Bersetubuh Tak Manusiawi (Bikin Mual)

DI PENGADILAN: I Nyoman Adi Rimbawan saat di Pengadilan Negeri Semarang. (JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARANG - Serorang Notaris asal Denpasar, I Nyoman Adi Rimbawan,45  ditahan di Semarang karena kasus persetubuhan tak manusiawi (jika dijelaskan detail bikin mual, Red) terhadap seorang anak kecil berinisial T. Hal itu dilakukan dalam rentang waktu antara 2012 hingga 2016 atau saat korban berusia antara 13-17 tahun (ABG). Bejatnya, korban adalah putri dari teman dekatnya sendiri yang juga seorang notaris di Semarang berinisial JM. Saat ini kasusnya sedang disidangkan di PN Semarang.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng, Martha Parulina Berliana, mengaku sidangnya tertutup untuk umum. Ia juga membenarkan nama terdakwa kasus itu I Nyoman Adi Rimbawan.

“Soal jumlah saksi belum tahu, semua sesuai berkas perkara. Usai dakwaan terdakwa dan penasehat hukumnya ajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan jaksa),”kata Martha Parulina Berliana, sebelum sidang dakwaan.

Ibu korban yang juga Notaris dan PPAT kondang di Kota Semarang berinisial JM, yang akan dikonfirmasi koran ini, awalnya bersedia dikonfirmasi dan meminta wartawan ini untuk datang ke kantornya. Namun sehari kemudian menolak untuk diwawancara.  “Dari pihak saya tidak ada pernyataan apa pun dan mengatakan kasus tersebut, merupakan kasus keluarga, sehingga bukan ranah untuk dibuka pada umum,” kata JM, saat dikonfirmasi.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Koran ini menyebutkan bahwa I Nyoman Adi Rimbawan ditahan sejak 4 Maret 2019 oleh Polda Jateng. Kasusnya sendiri bermula pada

Sementara itu, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Koran ini menyebutkan bahwa I Nyoman Adi Rimbawan ditahan sejak 4 Maret 2019 oleh Polda Jateng. Kasusnya sendiri bermula pada 2011. Terdakwa tinggal di rumah JM sebagai teman dekat di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Saat itu JM mempunyai seorang anak perempuan bernama T, lahir di Semarang. Dalam kegiatannya sehari-hari, terdakwa membantu JM mengantar jemput sekolah anaknya yaitu saksi korban T.

Bahwa saat usia saksi korban T menginjak 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 17 tahun, ketika saksi korban T sedang tidur, Terdakwa sering melumat bibir saksi korban T, meraba-raba dada dan vagina saksi korban T. Terdakwa baru berhenti meraba saat saksi korban T bergerak karena takut ia akan berteriak.

Karena perlakuan tersebut tidak pernah dilaporkan saksi korban T kepada ibunya, JM, kemudianTerdakwa melakukan perbuatannya lagi. Bahkan aksinya makin lama makin tak manusiawi.

Diawali pada 31 Juli 2012, sekira pukul 23.00 Wib. Terdakwa masuk ke dalam kamar tidur saksi korban T melalui pintu yang menghubungkan kamar tidur terdakwa dan ibu saksi korban yaitu JM dengan kamar tidur saksi korban T,yang selalu dalam keadaan terbuka. Saat itu saksi korban T sedang bermain HP (blackberry warna hitam) padahal ada aturan di keluarga kalau tidak boleh bermain HP sampai larut malam. Saat itu, ibu saksi korban JM sedang tidur.

Mengetahui terdakwa masuk ke kamarnya saksi korban T menjadi kaget, dan segera menyembunyikan HP-nya di bawah bantal. Namun HP tersebut kemudian mengeluarkan getaran tanda adanya pesan lewat BBM masuk. Kemudian terdakwa memeriksa HP saksi korban T dan melihat ada BBM masuk yang salah satunya berasal dari Mr. R, guru saksi korban.

Hal tersebut membuat terdakwa marah dan menyuruh saksi korban T ke luar kamar tidurnya menuju ruang piano yang gelap. Saksi korban T semula tidak mau tetapi Terdakwa mengancam apabila saksi korban T tidak menuruti kemauannya, Terdakwa akan melaporkan kepada ibunya karena malam-malam masih chating-an dan juga akan melaporkan Mr. R kepada JM supaya mendatangi sekolah dan meminta agar sekolah memecat Mr. R. Ancaman Terdakwa tersebut membuat Saksi korban T  menjadi takut. Korban pun menurut saja ketika terdakwa menggiringnya ke ruang piano yang gelap, yang letaknya agak jauh dengan kamar JM.

Setibanya di ruang piano, terdakwa memegang tangan saksi T lalu dengan paksa menarik tangan T dimasukkan ke dalam celana terdakwa untuk memegang alat kelaminnya sambil mengatakan agar saksi korban T mengetahui alat kelamin pria.Saksi korban T sangat ketakutan dan sambil menangis meminta agar terdakwa menghentikan hal tersebut.  

Sekitar lima menit kemudian, terdakwa menggiring saksi korban T kembali ke kamar tidurnya dan dalam keadaan lampu menyala, ia menyuruh agar saksi korban T membuka semua pakaiannya hingga ia telanjang. Lalu terdakwa memotretnya dengan menggunakan HP merk Nokia E90 milik saksi korban T.

Hal tersebut membuat saksi korban T menjadi malu dan takut sehingga mengikuti kemauan terdakwa sambil menangis.

Selanjutnya terdakwa menyuruh saksi korban T yang dalam keadaan telanjang untuk berbaring di tempat tidur dan mengatakan, “Apabila jari terdakwa dimasukkan ke dalam alat kelamin saksi korban T dan berdarah, maka saksi korban T masih perawan, sehingga ia tidak akan mengganggunya lagi”. Terdakwa kemudian memasukkan jari tengahnya ke dalam vagina saksi korban T hingga ia kesakitan, dan Terdakwa kemudian mengeluarkan jarinya dan memperlihatkan bahwa tidak ada darah sama sekali.

Melihat hal tersebut, saksi korban T menjadi takut, dan berpikiran bahwa dirinya tidak perawan lagi, sehingga ia takut kalau hal tersebut juga akan diberitahukan kepada ibunya , JM.

Selanjutnya pada 1 Agustus 2012, sekira pukul 15.00 Wib, terdakwa menjemput saksi korban T dari sekolahnya (salah satu SMP di Semarang). Dan setibanya di rumah, masih dalam berpakaian seragam sekolah, terdakwa menarik tangan kanan saksi korban T dan menyeretnya ke lantai dua rumah yang ditinggalinya dan masuk ke kamar ibunya : JM yang saat itu sedang tidak berada di rumah.

Kemudian terdakwa memaksa saksi korban T untuk melepaskan celana dalamnya dengan cara mengangkat rok yang dipakainya dan menarik serta melepaskan celana dalam. Terdakwa kemudian membaringkan saksi korban T di atas tempat tidur dan membuka celana yang sedang dipakaianya hingga alat kelaminnya terlihat lalu Terdakwa menindih saksi korban T.

Selanjutnya Terdakwa memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin saksi korban T lalu menggoyang-goyangkan badannya dan bergerak naik turun sehingga alat kelaminnya juga naik turun di dalam alat kelamin saksi korban T.

Saksi korban T merasa kesakitan dan menangis lalu berteriak minta tolong dan memohon agar terdakwa menghentikan perbuatannya tersebut. Namun saat itu tidak ada yang mendengarnya karena rumah dalam keadaan sepi. Lalu terdakwa membentak saksi korban T agar diam dan tidak menggubris permohonan korban agar menghentikan perbuatannya tersebut, sambil mengatakan bahwa terdakwa adalah korban JM yaitu ibu saksi korban T yang tidak dicintai oleh Terdakwa dan ia tidak berniat berhubungan serius dengannya.

Dan Terdakwa juga mengatakan bahwa lebih enak berhubungan seks dengan saksi korban T daripada dengan ibunya. Terdakwa kemudian mengancam, jika saksi korban T, tidak mau melayani kebutuhan seksnya, maka ia akan meninggalkan ibunya.

Bahwa saksi korban T mengetahui ibunya sangat mencintai terdakwa. Sehingga saksi korban T takut kalau ibunya ditinggalkan oleh terdakwa dan ibu korban bisa terganggu jiwanya. Hal itu menyebabkan saksi korban T diam dan membiarkan terdakwa melakukan perbuatannya.

Bahwa Terdakwa baru menghentikan perbuatannya setelah alat kelaminnya mengeluarkan sperma yang kemudian ditumpahkan di luar alat kelamin saksi korban T. Terdakwa kemudian mengatakan kepada saksi korban T bahwa ia tidak boleh memberitahu apa yang telah dilakukannya tersebut kepada ibunya. Karena jika sampai terbongkar, maka terdakwa akan menyelingkuhi dan meninggalkan ibu saksi korban T.

Karena ancaman terdakwa tersebut, saksi korban T tidak pernah melaporkan kejadian tersebut kepada ibunya atau siapapun dan saksi korban T mengikuti saja semua perbuatan yang diinginkan oleh Terdakwa.

Sejak itulah, persetubuhan tersebut sering dilakukan terdakwa sampai saksi korban T berusia 17 (tujuh belas) tahun.

Akibat perbuatan Terdakwa, saksi korban T mengalami luka akibat kekerasan tumpul berupa robekan lama pada selaput dara dan jaringan parut pada daerah di sekitar lubang dubur sebagaimana kesimpulan dalam Visum et Repertum Nomor : 164/B.62/Rf-L/XI/2008 tertanggal 21 Nopember 2018 yang dibuat dan ditandatangani oleh Dr. Sigid Kirana Lintang Bhima, Sp.KF.

Dan berdasarkan Surat Visum et Repertum Nomor : 385/IV/PKT/12/2018 tanggal 27 Desember 2018 yang dibuat dan ditandatangani oleh Tim Pemeriksa Kesehatan RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo : Prof DR dr Agus Purwadianto, Sp.FM, SH, Msi, DFM, dkk,dalam kesimpulannya menyatakan:  “Pada pemeriksaan terhadap korban/terperiksa perempuan berusia Sembilan belas tahun dengan kondisi sadar penuh, kondisi umum tidak ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan medik, dengan kondisi mental yang cakap untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Pada korban/terperiksa tidak ditemukan adanya gangguan psikopatologi yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas terperiksa sehari-hari.Pada tubuh korban/terperiksa tidak ditemukan luka-luka pada kepala, leher, tubuh dan seluruh anggota gerak. Pada korban/terperiksa ditemukan adanya robekan-robekan lama pada selaput dara akibat kekerasan tumpul yang melewati liang senggama (penetrasi) lama. Pola robekan lama yang ditemukan pada selaput dara korban ini memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian persetubuhan. Lipatan kulit pada daerah di sekitar lubang pelepas tampak menghilang yang diakibatkan oleh kekerasan tumpul lama yang melewati lubang pelepas yang lazim ditemukan pada korban perbuatan cabul (sodomi). Selanjutnya ditemukan jaringan parut pada anggota gerak bawah kanan akibat kekerasan yang sudah tidak dapat ditentukan lagi jenis kekerasan penyebabnya.”

Selain itu terdakwa juga melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat tidak manusiawi kalau diceritakan secara detail bikin mual bahkan muntah. Terdakwa juga sempat melakukan perbuatan yang aneh. Yakni pada 16 Maret 2018 terdakwa membawa sekantong plastik berisi wortel, terong dan pare serta ada kondom dan V-gel dan sebuah telepon genggam milik terdakwa yang dirahasiakan ke dalam kamar korban. Bungkusan plastik tersebut kemudian diserahkan terdakwa kepada saksi korban T, dan sambil marah. Terdakwa memerintahkan saksi korban T untuk duduk di lantai kamarnya dan membuat video masturbasi dengan menggunakan 3 (tiga) jenis buah yaitu wortel, terong dan pare, dengan wajah yang tidak boleh menderita, seakan akan masturbasi dengan buah itu adalah keinginan saksi korban T sendiri dan ia harus berpose menikmati masturbasi dengan buah tersebut.

Sekian lama kemudian korban semakin tidak kuat dengan kondisi ini. Akhirnya korban mengadukan masalah ini ke neneknya dan melaporkan kasus ini. Namun anehnya, si ibu JM yang juga seorang notaris malah menikah dengan terdakwa dan memihak ke terdakwa.

Terdakwa yang tercatat memiliki kantor di Jalan Mahendradatta, Denpasar tersebut telah ditahan oleh Penyidik Polda Jateng sejak 4 Maret 2019 dan diperpanjang penuntut umum dan pengadilan hingga sekarang. Dari penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Semarang (Jawa Pos Group), Nyoman merupakan alumnus magister kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang dan alumnus Doktor Ilmu Hukum Unisula Semarang. Terdakwa juga tercatat bertempat tinggal di Banyumanik, Kota Semarang.  Adapun majelis hakim dalam perkara itu dipimpin, Andi Astara. Sidangnya berlangsung secara tertutup. Sehingga koran ini, hanya bisa melihat jalannya sidang dari kaca persidangan.

Salah satu kuasa hukum terdakwa Nyoman, Muhtar Hadi Wibowo, enggan memberikan komentar saat dikonfirmasi. Ia beralasan kliennya menghendaki off pemberitaan.  

Sementar aitu, sejumlah pasal yang dijeratkan kepada terdakwa I Nyoman diantaranya, diatur dan diancam pidana dalam, primair Pasal 76 D jo pasal 81 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.  Subsidair Pasal 76 E jo pasal 82 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak

Atau kedua primair Pasal 285 KUHP. Subsidair Pasal 287 ayat (1) KUHP. Lebih Subsidair Pasal 289 KUHP dan Lebih-lebih subsidiair  Pasal 290 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.  Atau ketiga Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Atau Keempat Pasal 46 UU RI Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. (jks)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia