Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Hindari Tempatkan Merajan di Atas Dapur, Radius Kesucian 15 Guli

20 Juli 2019, 11: 13: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hindari Tempatkan Merajan di Atas Dapur, Radius Kesucian 15 Guli

MERAJAN DI ATAS RUMAH: Rumah bertingkat menjadi solusi bagi pemilik lahan sempit. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Penerapan konsep Tri Mandala di era kini bisa menyesuaikan kondisi. Letak bangunan suci umat Hindu atau Merajan juga menyesuaikan luas area. Jika tidak memiliki lahan, Merajan bisa dibuat di atas bangunan tinggal. Tapi, apakah benar, Merajan tidak boleh dibangun di atas dapur maupun kamar tidur?

Seiring perkembangan zaman, model rumah di Bali kian berevolusi. Konsep yang selama ini dipakai sebagai acuan dalam pembangunannya, juga mengalami perubahan. Namun, ruhnya masih sama, yakni mengedepankan konsep Tri Mandala.

Konsep tata letak bangunan tradisional Bali diatur berdasarkan  Asta Kosala Kosali. Spirit atau konsepsi dari Asta Kosala Kosali menekankan pada zona, letak, maupun bagian. Masyarakat Bali mengenal tiga bagian atau Tri Mandala dalam konsep rumah tradisional, seperti utama mandala, madya mandala, dan nista mandala.

Utama mandala, adalah bagian utama dari satu area atau bangunan. Pada bagian utama biasanya dikhususkan sebagai area suci atau bersih. Selanjutnya ada madya mandala, yang biasanya dijadikan area untuk beraktivitas atau bisa disebut area kehidupan. Terakhir adalah nista mandala, yakni bagian terluar yang dianggap kotor. Tiga bagian ini menjadi pilar konsep bangunan tradisional Bali maupun tempat sucinya.


Namun, apakah konsep ini masih sejalan dengan kondisi saat ini? Menurut akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar I Kadek Satria, konsep Tri Mandala dalam pembangunan rumah bisa disiasati, meski lahan yang ada sangat sempit atau kecil. Kondisi ini paling banyak dialami oleh warga perkotaan.


Di perkotaan, lahan yang ada sangat terbatas. Ini membuat pemilik lahan mencari jalan pintas agar semua bagian yang diinginkan dapat dibangun di satu area. "Masyarakat yang membangun Merajan misalnya, akan membangun di atas rumah tinggal. Artinya rumah dibuat bertingkat, sehingga Merajan akan ditempatkan di lantai atas," kata Satria kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Tapi, pembangunan Merajan di lantai atas tempat tinggal tidak bisa dilakukan sembarangan. Hal yang mesti diperhatikan adalah memastikan tata letak ruangan di bawah Merajan diatur sesuai konsep Tri Mandala. Misalnya, apabila rumah berada di sebelah utara, maka penempatan kamar, dapur, maupun toilet juga disesuaikan dengan konsep tersebut.


Masyarakat banyak menyebut, letak Merajan tidak boleh sejajar atau tepat di atas kamar tidur. Jika itu terjadi, maka pemilik rumah akan kerap menemui masalah hidup. Namun, wacana yang terlanjur berkembang itu dibantah Satria. Kata dia, belum ada ditemukan sastra atau lontar yang menyatakan soal itu.

"Di dalam kesatuan tafsir, dinyatakan bahwa di daerah perkotaan yang lahannya sempit, bisa saja membangun bangunan suci di atas ruangan yang dimanfaatkan oleh pemilik rumah. Kalaupun itu kamar tidur, karena tidak ada lahan luas, itu sah saja. Pemilik rumah asalkan menjaga kesucian kamar itu. Tapi kembali lagi, kesucian itu relatif, tergantung pemilik rumah," terang akademisi asal Pedawa, Buleleng ini.


Meski begitu, Satria beranggapan, hal yang semestinya dilakukan adalah, pemilik rumah memanfaatkan bagian bawah Merajan menjadi ruang tamu, gedong, perpustakaan, atau tempat belajar ilmu agama.

"Masyarakat masih menafsirkan hal tersebut dengan hal-hal berbau mistis. Padahal, dalam teks tidak masalah," imbuh pria yang pernah melakukan penelitian tentang pola pengasraman dalam pembelajaran Agama Hindu di SMA Gurukula, Bangli, 2015 silam.


Satria menambahkan, dalam lontar Asta Kosala Kosali, jarak antara tempat suci dengan tempat aktivitas manusia diatur dengan jarak 15 guli atau 15 jari ke atas maupun ke bawah. "Itu adalah radius kesucian. Jadi tidak masalah kalau tempat tidur dibuat di bawah Merajan," tegasnya lagi.


Di beberapa wilayah, penempatan Merajan berpatokan pada letak gunung maupun posisi terbit matahari. Di Buleleng misalnya. Wilayah gumi Panji Sakti berada di utara gunung. Maka Merajan di Buleleng berhulu di Selatan dan Timur, karena letak gunung berada di Selatan. Soal ukuran, juga kembali kepada kondisi masing-masing. "Istilah posisi Merajan biasa disebut konsep kaja-kangin (timur laut). Idealnya posisi Merajan terletak di Timur Laut pekarangan maupun lahan karena dianggap posisi paling suci," jelas Satria.


Yang tidak boleh dilakukan pemilik rumah, kata Satria, yakni menempatkan dapur di bawah Merajan. Meski dirinya belum pernah menemukan kajiannya di berbagai lontar, namun penempatan dapur di bawah merajan sebaiknya dihindari. 


Satria tidak menampik bahwa hal ini memang menjadi kepercayaan sejak lama. Jika melanggar, pemilik rumah akan mengalami sakit berkepanjangan. Fenomena kesakitan akibat salah menempatkan dapur, juga diakui Satria banyak terjadi di Bali. "Setelah nunas raos, pemilik rumah sakit karena menumpuk dapur dengan bangunan lain. Tidak hanya itu. Atap antara dapur dan bangunan tinggal yang sejajar cenderung bertumpuk juga tidak dibolehkan. Istilahnya nyakitin," tutur Satria.


Dijelaskannya, dapur oleh masyarakat Bali, juga dianggap bangunan suci. Yang mana dapur dengan simbol api mencerminkan keagungan Dewa Brahma. "Jadi, tempat suci ditumpuk-tumpuk sudah jelas tidak baik. Apalagi tempat suci di bawah, kamar tidur di atas, sama saja menyalahi konsep Tri Mandala," kata dosen kelahiran Desember 1987 ini.


Satria juga mengurai penempatan bagian rumah sesuai Tri Mandala. Yakni kamar tidur, hendaknya ditempatkan di hulu atau bagian dalam rumah. Penempatan pelangkiran, kasur, maupun barang lainnya juga diurut berdasarkan tiga bagian itu. Pelangkiran di hulu atau kaja-kangin (pojok utara-timur). Kemudian kasur berada di tengah, sedangkan benda lainnya ditempatkan di hilir atau bagian luar atau dekat pintu keluar.


Kemudian, penempatan dapur semestinya bisa menyesuaikan kiblat Dewa Brahma di Selatan. Jikalau terkendala lahan, maka cukup hanya menempatkan kompor di bagian Selatan. Begitu juga penempatan toilet, ruang santai, dan lainnya. Konsep ini apabila ditaati, akan berdampak baik bagi pemilik rumah.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia