Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Japa Marga Berjalan Tanpa Alas Kaki Tebar Energi Positif

20 Juli 2019, 11: 47: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Japa Marga Berjalan Tanpa Alas Kaki Tebar Energi Positif

JAPA MARGA: Japa Marga dilakukan dengan berjalan tanpa alas kaki. Tradisi ini dimaksudkan untuk menyucikan diri sendiri dan tempat yang dilewati. Selain itu, juga untuk kesehatan tubuh, karena berjalan kaki secara tidak langsung dapat menyerap prana bumi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bali memiliki segudang tradisi unik Bali kuno, salah satunya adalah Japa Marga. Tradisi ini diterapkan dengan  berjalan kaki tanpa alas kaki.

Salah seorang penekun Japa Marga, Ngurah Bagus yang juga Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata mengatakan, Japa Marga adalah kegiatan berjapa sambil berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.

Dimana pantai merupakan salah satu tempat yang cocok untuk melakukan Japa Marga.
Ia sendiri sering melakukan Japa Marga, misalnya dari Pantai Padang Galak terus ke timur, hingga sampai di Pantai Biaung. "Bahkan dulu saya pernah selama sembilan hari melakukan Japa Marga sampai di Pura Pulaki," ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).


Dikatakan Ngurah Bagus,  manfaat Japa Marga untuk menyucikan diri dan tempat yang dilewati. Atau bisa dengan tujuan tertentu, selain  untuk memeroleh kesehatan yang berasal dari air laut, matahari, pasir, udara, dan suara alam. "Kalau di Pasraman Seruling Dewata tradisi ini dilakukan saat menjalani Tapa Wanaprasta," imbuhnya.


Japa Marga selama ini dilestarikan di Pasraman Seruling Dewata, lanjutnya, sebagai bagian dari pelajaran Tapa Wanaprasta. Adapun Mantra yang digunakan adalah Gayatri Nungkak, yaitu mantra Gayatri yang saling bersahutan. Ia pun mencontohkan ketika dilakukan oleh du kelompok
Kelompok 1: Om. Kelompok 2: Bhūr bhuvaḥ suvaḥ. Kelompok 1: Tat savitur. Kelompok 2: Varenyam. Kelompok 1: Bhargo Dewasya. Kelompok 2: Dhīmahi. Kelompok 1: Dhiyo yo naḥ. Kelompok 2: Prachodayāt


Dijelaskannya,  Wanaprasta adalah tahapan ketiga dari Pelajaran Kamoksan Tapak Suci Yogacara Bhumi Sastra. Tahap Pertama adalah Brahmacari, kedua adalah Nawa Sangga Sadhana, tahap tiga  adalah Wanaprasta, dan tahap  empat adalah Sanyasin. Dan, secara umum, Japa Marga bisa diikuti oleh siapa saja yang berminat. Ia menambahkan, tidak ada persiapan khusus untuk melakukan Japa Marga, cukup bawa japamala atau tasbih.


Secara sekala, lanjutnya, Japa Marga bisa untuk kesehatan, yaitu aktivitas berjalan pagi, terkena sinar matahari, menyerap prana bumi, dan lainnya. "Sedangkan secara niskala untuk menyucikan diri dan lingkungan yang dilewati dengan Gayatri Mantra,"tegasnya.


Diingatkannya, Bali adalah pulau istimewa yang dikelilingi oleh pantai-pantai yang eksotik. "Jika keistimewaan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, maka perkembangan pariwisata di Bali akan semakin meningkat, salah satunya dengan Japa Marga ini," lanjutnya.


Ia pun berharap kedepannya pemerintah bisa membangun trotoar atau sejenis jogging track di sekeliling pantai di Bali, sehingga akan berkembang wisata jalan kaki atau bersepeda keliling Bali, sehingga kue pariwisata akan dinikmati oleh daerah-daerah yang dilaluinya. "Mudah-Mudahan Gubernur Bali Bapak Wayan Koster dan pihak terkait bisa membantu mewujudkannya. Teristimewa kepada Bapak Presiden Joko Widodo, saya mohon dipertimbangkan untuk diwujudkan," harapnya. 


Menurut Ngurah Bagus, nantinya keberadaan jogging track jika dikelola secara baik, maka bisa dikembangkan menjadi Green Tourism, yaitu Wisata Ramah Lingkungan.


Untuk jogging track di daerah persawahan agar memiliki daya tarik bagi wisatawan, lanjutnya,  perlu ditambahkan selfie point (tempat selfi). Misalnya selfi bersama Lelakut (orang-orangan sawah), selfi di pondokan sawah, selfi di kolam dengan beraneka ragam ikan dan tunjung, dan lain sebagainya.


Sedangkan untuk daerah pantai, diupayakan untuk membuat jogging track keliling Bali, sehingga orang akan bisa napak tilas Perjalanan Danghyang Nirartha keliling Bali. Atau berjapa marga, melantunkan mantra-mantra suci dengan berjalan tanpa alas kaki. Inilah yang dikenal sebagai Spiritual Tourism atau Wisata Spiritual. "Dari jogging track ini akan berkembang pula Village Tourism atau Wisata Pedesaan, dimana wisatawan sehabis jogging bukan hanya singgah di sebuah desa, tapi bisa langsung menginap di desa tersebut, sehingga akan terjadi pemerataan pembagian kue pariwisata," jelasnya.


Ditambahkannya, grand design untuk Bali ke depannya adalah pengembangan bisnis yang dimiliki atau dikelola oleh Desa Pakraman, sehingga keberlangsungan adat budaya di Bali bisa terjamin.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia