Minggu, 22 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sembuhkan Penyakit Kronis, Daun Urat Merah Dijual Rp 1.000 per Lembar

28 Juli 2019, 21: 37: 18 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sembuhkan Penyakit Kronis, Daun Urat Merah Dijual Rp 1.000 per Lembar

DAUN : Ni Wayan Niti tengah memetik daun yang akan dijual, di pekarangan rumahnya Banjar Ked, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Minggu (28/7). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/ BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Daun urat merah kini dilirik masyarakat sebagai obat berbagai macam penyakit. Konon daun yang juga untuk racun ini bisa mengobati penyakit asam urat, kencing batu, gejala gagal ginjal hingga melancarkan peredaran darah. Karena banyak yang memburu, harga daun urat merah pun lumayan mahal, per lembar dijual Rp 1.000.

 Hal itu dikatakan pembudi daya daun urat merah, Ni Wayan Niti saat ditemui di rumahnya, di Banjar Ked, Desa Taro, Kecamatan Tegalalalng, Minggu (28/7).

Perempuan berusia 36 tahun itu menjelaskan, banyak orang telah membuktikan khasiat daun urat merah tersebut. Tidak hanya dari Gianyar, tetapi juga dari luar Bali.  “Daun urat merah ini bisa memperlancar peredaran darah. Selain itu juga sangat cocok untuk mengobati penyakit kencing manis, asam urat, dan gejala-gejala penyakit lainnya. Bukan untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi mengobati penyakit itu sendiri,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Niti mengaku, saking banyaknya yang mencari, daun urat merah dijualnya seharga Rp 1.000 per helai. Tiap orang rata-rata membeli sebanyak 100 sampai 200 lembar. Ia mengatakan, khasiat daun urat merah akan terlihat ketika air rebusannya diminum secara rutin setiap bangun tidur selama satu sampai dua bulan.

Meski sebagai obat, tetapi daun ini juga bisa menjadi racun dalam tubuh jika dipetik tanpa izin pemiliknya. Hal ini dibuktikan Niti saat ada yang mencuri daun tersebut. Ceritanya, ketika itu ada orang mencuri daun mereah di pekarangan rumahnya yang luasnya sekitar 3 are. Niatnya hendak dijadikan obat kencing manis, namun penyakitnya malah semakin parah dan tidak kunjung sembuh.

“Ada sekitar enam orang yang mencuri daun ini ketika saya tidak di rumah. Niatnya kan dijadikan obat, tapi nyatanya penyakit mereka malah semakin parah. Makanya sekarang meski tumbuhnya secara liar di pekarangan rumah, tidak ada yang berani memetik daunnya secara sembarangan. Namanya juga daun untuk obat, setidaknya bilanglah minta, pasti saya kasi. Apapun, kalau hasil mencuri, pasti tidak baik. Saat sakitnya parah, mereka yang mencuri mengaku sempat memetik daun tanpa izin,” ujarnya seraya menambahkan, penjualan dari daun tersebut, dalam seminggu bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribuan.

Untuk obat, jelasnya, daun tersebut cukup direbus dua lembar dengan satu gelas air minum. Ketika warnanya sudah menguning seperti teh, air rebusan tersebut diminum saat hangat-hangat kuku. Cukup diminum pagi dan malam hari saja.  

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia