Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Sikapi Potensi Megathrust di Bali (2)

Ciptakan Pusaran Energi Cakra Murti, Kendalikan Energi Lima Unsur

29 Juli 2019, 18: 41: 57 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ciptakan Pusaran Energi Cakra Murti, Kendalikan Energi Lima Unsur

KENDALI : Maha Kali Sakti adalah kekuatan Panca Maha Butha Nawa Gni yang dianggap bertanggung jawab atas kendali kekuatan seisi bumi ini. (IKG DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Bencana alam besar memang benar bisa saja terjadi atas kehendak Hyang Maha Kali Sakti. Maha Kali adalah pengendali bumi di delapan penjuru yang disimbolkan dengan wujud wanita sakti  bertangan delapan.

Mahakali adalah kekuatan Panca Maha Butha Nawa Gni yang bertanggung jawab atas kendali kekuatan seisi bumi ini, yakni angin, api, sinar, air, dan bumi terkendali olehnya. "Akibat kesalahan kita, keegoan, kekuatan, dan nafsu keinginan yang luar biasa, telah menimbulkan  murka alam sehingga seluruh energi jadi kacau tak terkendali. Makhluk astral pun ikut kacau. Lantas semua itu  menciptakan pemanasan global atau angkara," ujar Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Budiarsa kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Banjar Tegak Gede, Yeh Kembang, Mendoyo,Jembrana.

Ciptakan Pusaran Energi Cakra Murti, Kendalikan Energi Lima Unsur

GEJOLAK : Memohon anugerah sekaligus energi dari yang Mahasempurna, agar gejolak buruk energi alam mereda. (IKG DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

Angkara, lanjutnya, berasal dari Ang yang berarti api, sedangkan kara berarti bertemu. Jadi, terjadi pertemuan api dengan api, yakni api dari panas bumi dan api dari panas matahari yang turun ke bumi. Dan, yang paling panas di bumi ini adalah dasar bumi, Sapta Petala yang berisikan magma.

"Pergerakan magma yang begitu kuat telah memecah dinding batu pengaman yang disebut lempeng bumi atau dalam istilah Kanda Empat disebut Watu Mediding" urainya.

Dijelaskan Guru Nabe Budiarsa, akibat panas yang luar biasa, batu yang super dingin itu tak mampu menahan hawa panas inti bumi dan akhirnya pecah. Lantaran itu pula, maka semuanya jadi bergerak dan terus bergerak tanpa bisa dikendalikan oleh kekuatan apapun, kecuali kekuatan Tuhan itu sendiri. "Dengan menurunkan energi Tuhan dalam wujud para Dewa atau sinar sinar suci Tuhan yang memiliki unsur dingin dan energi Bhatara yang berbentuk gelombang energi dingin, bersama para roh maha suci, maha sakti, lalu kemudian dibentuk pusaran-pusaran energi yang disebut cakra masuk ke dasar bumi, semoga dapat menurunkan intensitas getaran bumi," urainya.

Cara seperti itu konon yang harus dilakukan agar bisa mengendalikan dan menenangkan bumi dan unsur Panca Maha Butha dengan kekuatan cakra alam atau pusaran energi akibat pergerakan poros alam jagat raya.  "Semua sungguh tak terpikirkan dan serasa tak mungkin karena nirguna. Namun, karena dituntut melakukan, maka kami mencoba melakukan dengan ketulusan hati dan pasrah jiwa, sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Beliau yang sudah meraga Maha Suniya," aku Guru Nabe Budiarsa.

Upacara Ngenteg Buana Nawa Cakra Murti dilaksanakan Senin, 29 Juli 2019, mulai siang hari pukul 13.00 hingga malam hari.  Banyak  proses Puja Pangreka Cakra Nawa Murti dilakukan dengan rangkaian  Puja Tatwa, yakni Puja Tatwa Nawa Cakra  Murti, meliputi  Puja Tatwa Cakra Bayu, Cakra Gni, Cakra Kalimosadha, Cakra Sidhi, dan Puja Tatwa Cakra Buana.

Dijelaskan Guru Nabe Budiarsa, Puja Tatwa Panca Gni  menjadi Nawa Gni Murti. Kemudian Puja Tatwa Asta Purusa, Maha Ibu Kali Sakti  atau Maha Ibu bertangan delapan. Puja Tatwa Asta Siwa,  Siwa bertangan delapan (Paramasiwa). Selanjutnya Puja Tatwa Bala Bela Bali Niskala   menjadi Rajeg Bali. Puja Tatwa Pancer Jagat Bali Sakti dan Pancer Jagat Siwa Murti Sakti.

"Puja Tatwa Cakra Murti Sakti  menyatukan atau perpaduan dari kelima Cakra nunggal ke Madya angreka Pancer Jagat Bali Sakti," terangnya.

Kelimanya difilosofikan sebagai kancing bumi untuk memadukan kekuatan Panca Dhurga dan Sapta Dhurga mengendalikan di bawah permukaan Bumi, Sapta Petala, dan permukaan bumi. "Semoga bisa mengendalikan intesitas getaran bumi," harapnya.

Dijelaskannya, di atas permukaan bumi atau kulit bumi, kekuatan Panca Detya membentuk Padma Buana menyatukan lima kekuatan Anggapati, Merajapati, Banaspati, Banaspati Raja dan I Wija Sakti, bersama seluruh kekuatan gaib yang menempati setiap sudut jagat pertiwi. Lantas, bagaimana prosesi niskalanya berlangsung?

Guru Nabe Budiarsa menjelaskan bahwa di atas bumi unsur suci kekuatan Sanghyang Panca Maha Butha I Ratu Ngurah Sapuh Jagat menjadi I Ratu Ngurah Tangkeb Langit atau Kereb Langit sebagai kendali angin. Kemudian  I Ratu Wayan Tabeng Sakti sebagai kendali panas dan api, I Ratu Made Alang Kajeng menjadi I Ratu Made Jelawung sebagai kendali sinar. I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan sebagai kendali air, dan akan berubah menjadi I Ratu Nyoman Batu Mediding ketika masuk ke bumi mengendalikan unsur dingin, dan dalam ilustrasinya beliau adalah wujud kekutan batu besar lempeng bumi. Selanjutnya I Ratu Sanghyang Gili Maya akan menyatukan kekuatan madya loka sor luhur dan bawah sebagai kendali bumi pertiwi dan akasa. "Ketika mengendalikan bumi pertiwi menyatu dengan Sapta Dhurga Murti dan Panca Dhurga Wisesa untuk mengendalikan Sapta Petala dasar bumi," ungkapnya.

Ketika mengendalikan akasa loka, Tri Buana, Sapta Loka, lanjutnya, beliau akan bekerja sama dengan para Dewa dan Bhatara dalam Wujud Sanghyang Panca Bayu, para leluhur Rsi Lelangit, bersama Sri Raja, Diraja, Maha Raja Jagat Bali Sakti, sebagai murdaning Jagat Bali. Lalu, bersama Dewa Dewi Sapta Loka menjadi cikal bakal Cakra Nawa Murti.

Di atasnya lagi ada Wisnu Loka kekuatan Panca Bayu, yaitu Bhatara Bayu, Bhatara Yama, Sanghyang Licin, Sanghyang Taya, dan Bhatara Indra bersama para leluhur Rsi Lelangit,  Widyadara Widyadari. Dan, paling atas adalah kekuatan Siwa Loka yang terdiri kekuatan Panca Dewata, Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa yang tergabung dengan kekuatan Dewata Nawa Sanga, akan membentuk berbagai pusaran energi atau siklus energi berwujud cakra-cakra. "Maka, di setiap poros Pancer Jagat akan terdiri dari lima tingkat, kekuatan dan kekuasaan, yaitu paling atas Dewata atau Dewa ini wujud sinar dan pancaran sinar.

Di bawahnya Bhatara Bhatari, Panca Bayu dan Roh Suci bersama berbagai gelombang energi langit yang datang dari planet-planet," urainya. Kemudian di bawahnya lagi Sanghyang Panca Maha Butha, sang pegendali energi lima unsur. Di bawah, tepat di kulit bumi Panca Detya dalam wujud gelombang energi lima unsur dan makhluk gaib dan makhluk halus. Di bawah bumi Panca Dhurga dan Sapta Dhurga Murti, yaitu gelombang energi panas dasar bumi bersama makhluk halus dan roh halus kasar (makhluk halus bisa dikatakan makhluk penghuni Neraka).

Menurut Guru Nabe Budiarsa, masing-masing penjuru akan membentuk cakra atau sirkulasi energi yang bersumber dari energi lima unsur, yaitu Timur, Cakra Bayu untuk unsur angin. Selatan, Cakra Gni untuk unsur api. Barat, Cakra Kalimosadha untuk unsur sinar. Utara, Cakra Sidhi untuk unsur air, dan Tengah, Cakra Buana untuk unsur bumi. Terakhir, penyatuan dari kelima  cakra akan mengendalikan energi lima unsur, lalu membentuk pusaran atau poros energi, yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda, dimana selanjutnya poros kekuatan energi lima unsur di masing-masing penjuru akan saling bersinergi sesuai dengan pangider buana Nawa Sanga. "Perpaduan kelima cakra ke dalam akan melahirkan sirkulasi energi sebagai poros dan pusat yang disebut dengan Cakra Murti," ujar Guru Nabe Budiarsa.

Semua rangkaian tersebut, lanjutnya, sekaligus menjadi pemahaman  kenapa ada perwujudan Siwa bertangan delapan (Paramasiwa), Siwa bertangan empat  atau Sada Siwa, dan Siwa bertangan dua yaitu Siwa. Sebagai wujud Siwa, Paramasiwa atau Siwa bertangan  delapan  dengan segala kekuatan langit Tri Buana, Sapta Loka, turun ke segala penjuru bumi untuk menyelamatkan bumi dari angkara murka, yakni  panas yang datang dari segala arah yang tak terkendali.

"Unsur panas ini akibat goncangan Maha Ibu Pertiwi yang dipanaskan oleh Maha Ibu Gni Agung dalam hal ini disebut magma. Kemudian, kekuatan Asta Siwa dari unsur langit dalam wujud Siwa bertangan delapan membentuk Cakra Nawa Murti bertemu dengan Maha Kali Sakti yang bertangan delapan  membentuk Cakra Nawa Gni Murti," urainya.

Kekuatan Siwa memiliki sifat dingin bersumber dari berbagai planet, dimana  kekuatan dingin yang turun dari Buah Loka dan Suah Loka atau Wisnu loka dan Siwa Loka ke Brahma Loka atau Bhur Loka, lalu bertemu dengan kekuatan Maha Kali Dhurga Gni yang memiliki Cakra Nawa Gni Murti yang panasnya bersumber dari bumi.

Kebangkitan energi panas ini karena pengaruh inti bumi atau panas bumi dalam wujud magma. "Pertemuan Cakra Nawa Murti dengan Cakra Nawa Gni Murti  akan menciptakan keseimbangan alam jagat raya, Sapta Petala maupun Sapta Loka," bebernya.

Lalu, benarkah semua  itu akan terjadi?  "Hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa mencoba untuk menjalankan titah yang mungkin itu sebuah perintah,"ujarnya.

Dikatakan Guru Nabe Budiarsa, dengan segala keterbatasan upacara harus dilakukan, meski dengan sederhana, karena ada tingkatan yang lebih besar, dan tentu dengan waktu dan biaya yang lebih besar pula.

Konon yang akan melakukan itu adalah beliau sendiri para Leluhur Rsi Lengit yang sudah menjadi  Hyang Maha Hyang Luhuring Akasa, seperti  Hyang Sapta Dewata maraga Pancer Jagat Bali Sakti dibarengi Sanghyang Panca Pandita Sakti maraga Panca Tirta Jagat Bali, dan Sri Raja Diraja Maha Raja Jagat Bali yang diikuti Maha Patih Jagat Bali.

"Beliau hanya pinjam raga saja saat pelaksanaan. Kita hanya dituntut ikhlas  menerima, karena bukan kuasa manusia. Tetapi, karena perbuatan dan permohonan manusia pula lah hal itu bisa terjadi," ujarnya. Sehubungan dengan soal kepercayaan, lanjutnya, kegiatan ini hanya akan diikuti oleh orang yang meyakini dan mengerti serta paham akan tujuan yang dimaksud.

"Kita hanya diberi kewenangan mengkaji, menguji dan membuktikan, lalu kita bersama melakukan evaluasi, apakah akan berhasil atau tidak. Manusia punya usaha, Tuhan Maha Kuasa, yang akan menentukan segalanya," katanya.

Ditambahkan Guru Nabe Budiarsa, yang tidak yakin jangan ikut agar tidak beban di hati. "Yang tidak percaya jangan ikut, agar tak berat hati. Cukup hening dan mari kita evaluasi dan buktikan hasilnya dari Maha Kasih Tuhan dalam wujud Dewa Dewi, Bhatara Bhatari, Butha, dan Kala. Karena hanya kekuatan niskala yang berkuasa atas alam Jagat Raya. Manusia hanya punya kuasa, mengatur, dan menikmati, lalu menerima apa adanya," ujarnya.

Dijelaskannya bahwa tingkat upacara nistaning madya, karena keterbatasan waktu dan biaya. Caru dibuat cukup olahan karangan saja,  agar tidak memberatkan anggota pasraman. Diupayakan menggunakan puja tatwa  Jnana Sidhi Idep Mandi lan Sabda Mandi Lebur Jagat, agar bisa menggunakan upacara ritual yang lebih sederhana, namun tanpa mengurangi arti dan makna serta esensi dari ritual itu sendiri.

Bhatara Dalem Sida Karya masolah tanpa busana, tanpa punakawan. "Wantah tunas tedun ngarangsuk sarira mamargi muput, tanpa boleh dibentuk, dan berikan beliau mapuja Ratu Dalem Sidha Karya sesuai aslinya, tanpa dipengaruhi oleh keinginan sang penari. Beliau tanpa busana, cukup pakai kerudung Nawa Cakra Murti, tak boleh dipengaruhi oleh keinginan sendiri. Jika tidak tedun, berati tidak karauhan sang penari, jangan ada memaksakan diri dengan olah rasa olah pikiran," paparnya.

Begitu Pula Ratu Gede Mas Mecaling atau Bhatara Siwa Ratu Dalem Nusa, biarkan beliau tedun ngarangsuk sarira, jika tidak berkehendak biarkan, berarti masih ada yang kurang. "Kita berharap ketiga kekuatan Dalem Sakti itu bisa tedun dan bersatu menyatukan kekuatan Siwa Murti," terangnya.

Ketiga kekuatan Dalem Sakti yang dimaksud adalah Bhatara Siwa Ratu Dalem Sakti (Bhatara Lingsir Dalem Bali), Bhatara Siwa Ratu Dalem Mas Mecaling ( Dalem Nusa ), dan Bhatara Siwa Ratu Dalem Sidha Karya. "Semoga kekuatan beliau bersama para Rsi Lelangit menyatukan kekuatan, membentuk cakra atau sirkulasi energi atau pusaran energi sebagai kendali energi lima unsurnya dapat terjadi, yaitu kendali angin dengan kekuatan Cakra Bayu, kendali panas dengan Cakra Gni, kendali sinar dengan Cakra Kalimosada, kendali air dengan Cakra Sidhi, dan kendali bumi dengan Cakra Buana, lalu menyatukan kelima cakra tersebut menjadi Cakra Murti sebagai kendali seluruhnya energi lima unsur secara seimbang. Konon beliaulah yang ahli di bidang sastra Dasa Aksara dengan nama Nawa Kanda dan Kanda Empat, sehingga disebut ahli energi dan ahli gaib astral dan roh suci maupun roh halus," ulasnya.

Lantas, seperti apa proses dan fungsi upacara yang digelar? Baca tulisan berikutnya.

(bx/rin/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia