Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Wujud Syukur Kepada Rare Angon, Warga Kerobokan Gelar Siat Ketipat

01 Agustus 2019, 22: 58: 56 WIB | editor : Nyoman Suarna

Wujud Syukur Kepada Rare Angon, Warga Kerobokan Gelar Siat Ketipat

MERIAH: Siat Ketipat di Pura Desa Adat Kerobokan, Kamis (1/8) berlangsung meriah. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Setelah 40 tahun, tradisi Siat Ketipat kembali dilaksanakan dengan meriah dan penuh makna oleh warga Desa Adat Kerobokan, Kuta Utara, Badung Kamis (1/8). Apa makna yang tersirat dari tradisi ini?

 

Matahari telah condong ke barat, tetapi panas masih terasa cukup terik pukul 16.00 Wita. Meski demikian, tidak menyurutkan niat warga Desa Adat Kerobokan untuk menyaksikan acara yang jarang dapat disaksikan. Warga berjejer rapi di trotoar Jalan Raya Kerobokan, di depan Pura Desa yang ditutup dari arus lalu lintas.

Para pemuda perwakilan dari 50 banjar sedesa Adat Kerobokan dengan menggunakan baju hitam dan saput poleng duduk untuk melakukan persembahyangan sebelum acara Siat Ketipat dimulai. Para mangku pun menyiratkan tirta usai sembahyang dilaksanakan kepada para peserta.

Hadir saat itu Wakil Gubernur Bali Cok Ace dan Istri Gubernur Bali  Putri Suastini Koster yang disambut meriah warga Desa Adat Kerobokan. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Gubernur Bali. Usai memberi sambutan, dilakukan pelemparan tipat dan bantal secara simbolis.  Para pemuda kemudian mulai brkumpul untuk bersiap-siap. Seorang pemangku pura memberi aba-aba bahwa acara siat ketipat akan dilakukan dalam lima kali putaran. Satu putaran ada dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas perwakilan lima banjar serta tiap banjar ada 10 orang pemuda yang mewakili.

“Harap tidak melewati garis, ini dilakukan untuk ngayah. Jangan menyasar orang, tetapi tipat dan bantalnya dilemparkan ke atas,” ujar sang pemangku via speaker.

Saat mulai, kelompok di utara akan melemparkan bantal dan kelompok di selatan akan melemparkan ketupat. Aksi Siat Ketipat ini sebagai tanda syukur petani kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai I Dewa Rare Angon dan Dewi Hyang Nini Bhagawati dimulai sekiar pukul 17.00.

Suasana Siat Ketipat begitu seru. Bahkan tidak sedikit warga yang berdiri di trotoar kena ketupat maupun bantalnya. “Ini merupakan rangkaian pamuput pasca puncak Karya Mamungkah, Ngenteg Lingih, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung Lan Segara Kertih Ring Pura Desa Dan Puseh Desa Adat Kerobokan yang diselenggarakan sebagai wujud syukur krama desa kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Bhatari Sri atau Dewi Nini,” ujar Bendesa Adat Kerobokan AA Ngurah Gede Sujaya, 62, ditemui usai acara Siat Ketipat.

“Semoga panen selalu melimpah bagi krama desa yang menjadi petani. Kemudian juga terhindar dari wabah hama dan kekeringan,” tambahnya.

Acara ini, menurut Bendesa Adat Kerobokan, terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1979 atau sekitar 40 tahun lalu. Sehingga menjadi momen langka untuk disaksikan saat ini.

“Selain itu Upacara Dewa Yadnya Siat Ketipat ini juga dimaknai oleh krama desa agar kekuatan negatif hilang dan muncul kekuatan positif bagi krama desa,” ucap Gede Sujaya.

Rangkaian Siat Ketipat sendiri selesai dilaksanakan pada pukul 17.50 Wita. Selanjutnya tiap pemuda yang ikut acara Siat Ketipat menghaturkan paramasuksma melarapan ngaturan tabu kenak tabuh sari dan diakhiri dengan saling berpelukan.

Dalam proses Upacara Yadnya Siat Ketipat ini, ketupat dan bantal yang telah digunakan akan dipungut dan diberikan kepada Kelian Subak di masing-masing banjar untuk digunakan sebagai lalemekan di sawah maupun ladang para krama subak.

(bx/aim/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia