Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Murwa Bhumi Cikal Bakal Adanya Sistem Banjar

02 Agustus 2019, 16: 26: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Murwa Bhumi Cikal Bakal Adanya Sistem Banjar

MURWA BHUMI : Selama rangkaian piodalan di Pura Murwa Bhumi, Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, dihadiri sasuhunan dari beberapa pura di Payangan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Kehidupan bermasyarakat di Bali, khususnya di setiap desa, pasti mengenal sistem banjar. Yakni, sebuah kelompok atau perkumpulan dengan penduduknya yang  memiliki aturan, kehidupan, tradisi hingga sistem adat. Namun, dari mana, siapa, dan kapan pola tersebut  dimulai?

Pura Murwa Bhumi yang terletak di Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Gianyar, diyakini sebagai asal usul adanya sistem banjar  di Bali. Selain itu, sistem Subak yang mengatur persawahan dan ladang juga berawal dari pura tersebut. Hal itu diungkapkan Koordinator Karya Pura Murwa Bhumi, Dewa Ngakan Rai Budiasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu. " Pada lontar Lontar Markandya Purana dituliskan bahwa sebelum ada apa-apa, hanya terdapat hutan belantara di tempat ini. Sebelum adanya Selat Bali atau yang disebut dengan Segara Rupek pulau ini bernama Pulau Panjang," ungkapnya. 


Dijelaskan Dewa Ngakan Rai Budiasa, sejarahnya berawal dari Gunung Rawung, Jawa Timur, dimana  ada seorang tokoh spiritual  bernama Sang Yogi Markandya.  Beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang, lantaran kesaktiannya. Selain itu, rohaniawan ini  sangat cakap dan bijaksana.

Saat  bertapa di Gunung Demalung, selanjutnya pindah ke Gunung Dieng, beliau mendapat pawisik agar membabat hutan di Pulau Dewata. Bila sudah dilakukan,  tanahnya itu agar dibagikan kepada pengikutnya sebanyak 800 orang plus perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Perintah tersebut akhirnya dilaksanakan dengan membabat hutan belantara tersebut. Karena ia membabat tanpa didahului dengan upacara yadnya,  membuat murka Sang Hyang Widhi Wasa. Akibatnya, banyak pengikutnya yang mati karena sakit dan diterkam binatang buas di hutan tersebut.


Sang Yogi selanjutnya kembali ke pertapaan dengan hati sangat sedih. Setelah beberapa lama, kembalilah beliau melanjutkan pembabatan hutan dengan mengikutsertakan para pandita serta  pengikut sebanyak 400 orang dari Desa Aga, yakni penduduk yang tadinya bermukim di pegunungan Gunung Rawung.


Sebelum memulai merabas hutan, beliau  memohon wara nugeraha (restu) kepada Ida Sang Hyang Widh Wasa dengan melaksanakan upacara Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Pratiwi Astawa. Pekerjaan tersebut berjalan lancar, dan  karena sudah dianggap cukup, pengikutnya diperintahkan untuk berhenti membabat hutan. 


Mulai dari sanalah, beliau membagi tanah untuk sawah, tegalan, dan pekarangan rumah. Selanjutnya di tempat bekas mulainya membabat hutan itu, dilakukan penanaman kendi berisi air disertai lima jenis logam. Lima  jenis logam tersebut adalah emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu yang disebut Pancadatu. Selain itu, juga ditanam permata yang bernama Mirahadi. Tepat di tempat menanam Pancadatu itu diberi nama Basuki, yang artinya selamat dan sekarang dikenal dengan nama Besakih.


Dewa Rai Budiasa juga menyampaikan bahwa dalam lontar Markandya Purana dijumpai beberapa penegasan nama tempat, seperti Puwakan, Payogan, dan Taro.  Puwakan  karena di  tempat  itulah tanah  hasil merabas hutan  mulai dibagi–bagikan.  Sedangkan  nama Payogan, karena di sanalah tempat Sang Yogi Markandya melakukan yoga semadhi. 


Lantaran kesucian, kebijaksanaan, ketinggian ilmu, dan selalu mengikuti petunjuk Sang Hyang Jagatnatha, beliau disebut Sang Hyang Naradatapa. Sedangkan nama Desa Taro berasal dari kata Taru yang sama dengan kayu, berarti kayun atau pikiran. "Selanjutnya dari Taro, beliau pindah ke arah barat dan tempat ini diberi nama Purwabhumi, yakni tempat didirikan sebuah pura atau kahyangan yang bernama Pura Murwa. Nama ini sudah memberikan kesan, kalau tempat ini merupakan suatu permulaan atau Murwa," ujarnya.


Di tempat Pura Murwa Bhumi itulah, lanjutnya, Sang Yogi Markandya menetapkan ketentuan dan peraturan tentang tata cara mengatur kehidupan Desa Pakraman hinggga tata cara mengurus, mengerjakan sawah maupun ladang," tegas pria yang juga tokoh Jero Pengaji, Payangan tersebut. 


Dewa Budiasa menyampaikan di sanalah awalnya ada pembagian tanah sawah, ladang dan pekarangan rumah. "Namun, yang lebih penting adalah dimulainya pembangunan Kahyangan Desa. Orang yang memimpin masyarakat diberikan jabatan desa. Yaitu Kelihan yang bertugas mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan Kahyangan Desa atau Parhyangan Desa. Begitu juga dengan yang mengurus permasalahan sawah diberi nama Subak, bertugas menyelenggarakan pembagian air di sawah dan ladang dengan Pekaseh," bebernya.


Ditambahkannya, Pekaseh berasal dari kata kasih yang berarti adil. Karena menyangkut keadilan dalam pembagian air untuk sawah atau ladang. "Jika ada orang meninggal dunia, maka yang diberi tugas mengurus dan mengatur tata cara penguburannya disebut Banjar yang masing-masing kesatuan kelompok dipimpin oleh Kelihan. Kelihan mempunyai kewajiban mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman  dalam masyarakat," paparnya. 


Selain sebagai asal-usulnya Banjar, lanjutnya, Pura Murwa Bhumi  juga dipercayai sebagai tempat memohon hujan. "Petani yang ladang dan sawahnya kekeringan, biasanya  akan menghaturkan ritual ," ungkap Koordinator Karya Pura Murwa Bhumi, Dewa Ngakan Rai Budiasa. 


Dikatakannya, karya agung yang dilaksanakan mai 7 sampai 13 Juli lalu, juga dilangsungkan untuk memeroleh kemakmuran umat. 


Karya di pura yang diempon 1.100 warga Desa Pakraman Pengaji, Desa Melinggih Kelod ini,  
merupakan rentetan Karya Agung Pedanan empat tahun lalu. 


Rangkaian upacara yang digelar terdiri atas Rsi Gana dan Ngusaba Goreng. "Selama rangkaian upacara dihadiri oleh sasuhunan dari beberapa pura di Payangan. Bahkan, setiap piodalan pasti disertai dengan hujan. Karena di sini juga tempat nunas hujan yang identik dengan air," terangnya.


Fenomena alam tersebut,,tidak terlepas adanya Palinggih  Sapta Gangga yang tujuannya untuk memohon hujan. "Ketika musim kemarau panjang, maka dengan sarana banten seperlunya, krama Subak bisa memohon hujan. Harapannya memberikan kemakmuran bagi warga, supaya pertanian tumbuh subur," terangnya. Karena pura itu identik dengan hujan, sehingga saat puncak karya selalu disertai hujan. Bahkan,  dikatakan sudah menjadi ciri khas kalau puncak karya pasti hujan turun. "Yang paling lebat itu sekitar lima tahun lalu saat piodalan, hujannya sangat lebat sekali," tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia