Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tarian Rejang Berlangsung Seharian, Berakhir Setelah Ada Kerauhan

04 Agustus 2019, 19: 58: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tarian Rejang di Cempaga Berakhir Setelah Ada Kerauhan

TARI WALI: Sejumlah Penari Pendet saat pentas di areal madya mandala Pura Desa Cempaga, Minggu (4/8) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Ratusan krama Desa Cempaga, Kecamatan Banjar memadati areal Pura Desa pada Minggu (4/8) pagi. Mereka sedang menyaksikan pementasan Tari Wali dari desa setempat yang rutin ditampilkan saat pujawali yang bertepatan pada Minggu Umanis Langkir atau Manis Kuningan. Menariknya, pementasan tari wali tersebut dilakukan secara terus menerus selama satu hari penuh dan berakhir hingga Senin (5/8) dini hari.

Sejumlah tarian sakral dipentaskan di areal madya mandala Pura Puseh. Seperti Tari Jangkang, Tari Baris Jojor, Baris Dapdap, Tari Pendet hingga Tari Rejang. Proses pementasannya pun dilaksanakan secara berurutan.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu pagi menyebutkan Tari Wali Jangkang dipentaskan paling awal sejak pukul 08.00 Wita. Persis seusai krama melaksanakan persembahyangan bersama. Ratusan krama pun mulai memadati areal madya mandala untuk menyaksikan momen enam bulanan ini.

Para penari kian enerjik dan totalitas dalam mementaskan tarian sacral ini. Terlebih alunan gamelan gong bertalu-talu menambah semarak dari pementasan ini. Vibrasi spiritual pun kian terasa. Ditambah dengan baleman (nyala api, Red) yang berada di tengah areal Madya mandala seakan menjadi saksi dari pementasan tari wali yang sakral ini.

Kelian Adat Desa Pakraman Cempaga, I Nyoman Dira mengatakan Tari Jagkang ini ditarikan oleh sekelompok anak yang sudah mepinggah (sudah pergantian gigi, Red). Gerakannya pun sangat sederhana. Bahkan, dari sisi kostum, para penari ini menggunakan pakaian warna-warni yang juga terlihat sangat sederhana.

“Tarian ini melambangkan prajurit dharma yang berperang melawan adharma, seperti filosofi dari Hari Raya Galungan dan Kuningan,” ujar Nyoman Dira.

Setelah dipentaskan Tari Jangkang, selanjutnya dipentaskan Tari Wali Baris Jojor. Dijelaskan Nyoman Dira, tarian Baris Jojor ini juga melambangkan seorang perwira tangguh dan dibawakan oleh laki-laki tunggal. Gerakan tarian ini juga mencerminkan kewibawaan seorang prajurti yang gagah perkasa.

Begitu Baris Jojor usai dipentaskan, para penonton langsung disuguhkan oleh pementasan tari Baris Dapdap.“Tari Baris Dapdap ini tujuannya membina para perwira. Dan kemenangan ini dirayakan dengan pesta pora. Sehingga terbentuklah Tari pendet,” imbuhnya.

Pementasan Tari Pendet ini juga dilakukan oleh anak-anak. Mereka rata-rata masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Para penari Pendet tak hanya berjenis kelamin perempuan semata. Tetapi juga ditarikan oleh kaum pria.

Saat pementasan Tari Pendet berlangsung suasana terik matahari pun tak terhindarkan. Menariknya, para penari ini masih tetap kokoh menarikan dengan penuh kegembiraan. Gerakan meliuk-liuk dan lemah gemulai membuat para penonton yang mengelilingi areal Madya Mandala tak beranjak dari tempat duduknya.

Penari dari anak-anak ini menggunakan atribut yang tergolong sederhana. Seperti Gelungan (hiasan kepala) yang terbuat dari bambu dan hiasan bunga gemitir, Kobyok di bagian dada, dan sebanyak 25 helai selendang warna-warni.

Sedangkan pementasan terakhir diisi oleh Tari Rejang yang menjadi simbol turunnya para widyadara dan widyadari yang berstana di Pura Kahyangan Desa. Para penari ini ditampilkan sejak sore hari hingga dini hari. Bahkan pementasan akan berakhir setelah para penari ini kerauhan atau mengalami trance.

“Penari Rejang itu harus sampai kerauhan dulu. Baru selesai pementasannya. Kadang sampai dini hari. Kalau dari sisi makna filosofi tari wali ini keterangannya kami terima secara turun temurun. Karena memang tidak ada prasasti atau lontar tertulis, jadi pementasan tari wali ini kami selalu lakukan dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Ia menambahkan, tarian wali ini juga tak boleh sembarang tempat dan waktu dipentaskan. Menurutnya, tarian ini hanya boleh dipentaskan di Pura Desa saat Pujawali saja. Sebab, ada sejumlah ritual yang mesti dijalankan sebelum dipentaskan.

Nyoman Dira menceritakan, sebelumnya tarian Wali ini pernah hendak ditampilkan dalam sebuah ajang festival seni di tingkat Kecamatan Banjar. Namun pementasan akhirnya tak bisa dilakukan lantaran ada fenomena alam seperti angin ngelinus (putting beliung, Red) di lokasi pementasan.

Atas fenomena itu, para prajuru adat pun tak berani lagi mementaskan tari wali ini secara sembarangan. “Kami tiga kali pengalaman mau mementaskan tari wali ini. Tapi kami mengalami kebrebehan (sial, Red). Makanya kami tidak berani lagi. Sehingga hanya dipentaskan di Pura Desa saja saat pujawali,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia