Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mohon Kesembuhan dan Taksu di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan

05 Agustus 2019, 11: 52: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mohon Kesembuhan dan Taksu di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan

FOKUS : Jro Mangku Ariawan Pande memutuskan fokus ngayah di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan sejak sepuluh tahun silam hingga sekarang. (NI KETUT ARI KESUMA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika kita  melintasi Jalan Gunung Batukaru akan terlihat pura sederhana yang terletak di LPD Desa Pakraman Denpasar, bersebelahan dengan Makam Keramat Ratu Ayu Siti Khotijah.
Apa istimewanya pura yang dinamai Ratu Nyoman Sakti Pengadangan ini?

Usai hari raya Kuningan, Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan dipastikan akan ramai dikunjungi umat. Pemangku  Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, Jro Mangku Ariawan Pande mengatakan,
pujawalinya mengikuti Pura Dalem Desa Pakraman Denpasar saat Buda Manis Medangsia, yakni  sepuluh hari setelah hari raya Kuningan. "Setiap Pujawali ada hiburan seni, tari-tarian, bondres karena juga memuja Beliau sebagai Dewanya Taksu,"Jro Mangku Ariawan Pande kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Ia menyampaikan bahwa di setiap Pura Dalem selalu terdapat Palinggih Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Jika dilihat dari Sastra Kanda Empat, lanjutnya, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan merupakan Patih di Pura Dalam. “Di setiap Pura Dalem ada Beliau. Kita punya ciri khas di sini, karena di Setra Badung paling luas di Bali. Jadi, stana Beliau menyendiri, terpisah dari Gedong Ida Bhatari Dalem," urainya.

Ditambahkannya, kalau di Pura Dalem lain, linggih Ida pasti di depannya Gedong Bhatari sebagai Mahapatih. "Ibarat Beliau menjalankan tugas dari Bhatari Dalem. Makanya, ada gelar Sakti, dan banyak sekali tugas yang diemban,” jelasnya.

Jro Mangku Ariawan menjelaskan, tugas yang diemban oleh Ratu Nyoman Sakti Pengadangan misalnya Taksu atau energi (kekuatan) untuk pengobatan akibat sakit medis (sekala) maupun nonmedis ( niskala). Selain itu, juga sebagai Dewaning Pragina atau Dewa-nya kesenian. "Jadi, para tokoh seni atau seniman, nunas taksu di Pura Dalem. Yang dipuja adalah Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Makanya, para penekun spiritual, kebatinan, selalu memuja Beliau karena Ida memegang semua unsur kekuatan atau sinar sucinya Ibu Durga (Ibu Parwati) yang berstana di Pura Dalem,” jelasnya.

Jro Mangku Ariawan mengatakan  Ibu Bhatari diibaratkan sebagai sosok ratu, yang menjalankan tugas adalah Perdana Menteri. “ Beliau adalah Mahamenterinya. Semua tugas-tugas Beliau dipegang oleh Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Misalnya, untuk mohon agar tidak hujan. Mohon untuk menjaga agar kita selamat di perjalanan. Beliau yang dipuja. Kekuatan para balian, kekuatan niskala, Beliau yang dipuja. Kekuatan positif dan negatif, Beliau yang dipuja. Makanya, tugas Ratu Nyoman Sakti Pengadangan berat sekali,” jelasnya.

Tugas Ratu Nyoman Sakti Pengadangan dianggap berat sekali, jika dibandingkan dengan saudara-saudara Ida yang lain,  yang jadi bagian dari Sang Catur Sanak atau Saudara Empat.
Yang paling tua sekali adalah Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Kemudian Ratu Wayan Tebeng dados Patih di Pura Sada Kapal, Ratu Made Jelawung, linggih Ida ring Pura Puseh, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan dados Mahapatih ring Pura Dalem. "Yang paling Alit-an, Ratu Ketut Petung yang menjadi dewanya kepintaran, dewanya tukang, undagi,  sangging, malinggih ring Pura Desa,” terangnya.

Begitu tahu ada Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, lanjutnya, umat berduyun-duyun datang  untuk memohon anugerah. Dikatakannya, kebanyakan yang tahu  awalnya mereka berobat, kemudian bisa sembuh, yang akhirnya  menyebar dari mulut ke mulut. "Sengaja tidak saya tempelkan nomor handphone. Kalau sudah jodoh, pasti bertemu,” jelasnya.


Pria  kelahiran 1969 ini sempat menolak menjadi mangku di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan,  meskipun sudah dari kecil telah dipingit. “Sekarang umur saya sudah 50 tahun. Dari TK saya sudah dipingit. Kesukaan saya pakai baju hitam dan main di kuburan. Arena kuburan ini menjadi tempat bermain, belajar apapun di kuburan. Seolah-olah, kuburan sudah menyatu dengan alam sekitar dan energinya. Bukan hal yang mengerikan, kotor, tetapi betul-betul nikmat waktu itu," akunya.

Kemudian, 1997 saat usia 30-an, saat makan daging sapi dan babi malah sakit. Bahkan, mengalami proses seperti orang bingung, yang  ujungnya harus fokus ngayah dan mabersih tahun 2000. Tahun 2009 akhirnya ia memilih untuk fokus ngayah di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan hingga sekarang. “Syukur, astungkara, satu sisi tenang dan tidak ada beban,” jelasnya.

Bila ingin berobat dengan Jro Mangku Ariawan di Pura Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, cukup membawa pajati dan canang seadanya. “Kalau mendadak, canang pun bisa. Tidak harus bawa ini itu, semuanya harus dengan keikhlasan,” jelasnya.

Jro Mangku Ariawan menambahkan, yang mendirikan Pura Nyoman Sakti Pengadangan  adalah kakeknya. “Sebelum ada palinggih, sering terjadi kecelakaan di depan jalan utama. Mungkin mereka melihat sesuatu yang gaib atau melihat jalan niskala, padahal itu selokan. Akhirnya kakek mendapat petunjuk  agar dibuatkan Pura Slumbung waktu itu," urainya. Setelah dibuatkan Pura Slumbung, keadaan menjadi aman dan jarang terjadi kecelakaan.

Ia menceritakan bahwa kakeknya   mendapatkan pawisik dari Sasuhunan untuk mengobati orang. Pada waktu itu karena zamannya  berbeda, pengobatan berjalan dari rumah ke rumah. “Akhirnya tahun ke tahun yang malinggih ini adalah Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, karena fungsi beliau memang salah satunya untuk pengobatan. Yang jodoh, pasti sembuh. Setiap yang berobat  punya karma masing-masing. Kalau karma mereka buruk, kalau memang belum waktunya, memang susah,” jelasnya.

Di Pura ini juga ada Palinggih Ratu Niang dan Dewi. Sebelum ada palinggih tersebut, ada pohon ketapang untuk perindang dan  patung anjing hitam. “Orang kerap melihat penampakan orang tua yang lewat atau jalan-jalan. Selain itu, juga melihat anjing hitam besar lewat sampai mereka tabrakan," paparnya.

Akhirnya ada yang mendapat petunjuk gaib, bahwa di kawasan ini harus dibuatkan tempat pemujaan Ratu Niang. Kalau tidak, akan sering ada kecelakaan karena  ada anjing besar yang kerap lewat.
Bagaimana dengan keberadaan  Palinggih Dewi Kwan Im ?

“Saat saya cuci mobil, ketemu sama orang Cina. Dia duduk, tiba tiba saya ingin mengobatinya karena saya melihat dia sakit. Akhirnya saya ngomong dan ternyata betul dia  sakit. Mungkin sudah jodoh, akhirnya dia yang membawa tempat pemujaan tersebut, setelah sembuh. Mungkin ini sudah jalan Tuhan dan harus ada,” jelasnya.


Diakuinya, selain yang beragama Hindu, juga ada umat Muslim  dan umat lain yang memohon pengobatan.  "Intinya mereka harus yakin bahwa Tuhan itu ada di mana-mana,” tutupnya. (akd)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia