Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Perempuan Enggan Masuk Utama Mandala Pura Dalem Pingit

07 Agustus 2019, 21: 21: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perempuan Enggan Masuk Utama Mandala Pura Dalem Pingit

UTAMA MANDALA: Jero Bendesa Nyoman Setiawan mengantar koran ini melihat-lihat bagian pura di utama mandala Pura Dalem Pingit, Tembuku Kaja, belum lama ini. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Pura yang satu ini terbilang unik. Sebab, ada kepercayaan yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Kaum wanita  tidak mau masuk atau menginjakkan kakinya ke utama mandala Pura Dalem Pingit, Tembuku, Bangli.

Ada semacam pantangan dan keyakinan warga akan apa yang dilakukan di Pura Dalem Pingit. Warga setempat sangat taat terhadap aturan maupun petuah yang digariskan secara turun-temurun. Soal pantangan dan juga kepercayaan itu, diamini warga Banjar Tembuku Kaja, Desa Adat Tembuku Kaja, Kecamatan Tembuku, Bangli.

Konon petuah ini ada kaitannya dengan perpindahan penduduk pada masa lampau.  Warga Tembuku Kaja masa lalu masih punya ikatan kekeluargaan dengan warga Desa Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar.


Di luar hal tersebut, ada budaya masyarakat yang tergolong unik. Jika pada umumnya warga bebas masuk ke utama mandala di sebuah pura (kecuali cuntaka atau berhalangan), tapi di Pura Dalem Pingit  kaum perempuan tidak berani masuk ke utama mandala. Pada saat pujawali atau hari-hari suci, kaum prialah yang akan melaksanakan semua kegiatan yang berlangsung di utama mandala. Sedangkan yang wanita hanya bisa memantau atau mengarahkan apabila ada sesuatu yang tidak diketahui kaum pria, khususnya soal banten atau sarana upacara.


Jero Bendesa I Nyoman Setiawan tidak berani memastikan apa penyebab kaum wanita di desa setempat tidak berani masuk utama mandala Pura Dalem Pingit. Bagi Setiawan, apa yang dilakukan warganya seperti semacam amanat, tapi tidak diketahui asal-usulnya.


Diakuinya, para tetua adat maupun prajuru desa tidak tahu apa yang bakal terjadi jika budaya tersebut dilanggar. Sebab, belum pernah terbukti sesuatu yang terjadi, bahkan belum ada yang berani mencoba melanggar. "Kami intinya melakukan apa yang rasanya memang harus kami laksanakan," tegasnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Di balik hal itu, warga meyakini orang yang melanggar bisa saja mendapat musibah. "Ya, intinya kami tidak berani memastikan apa yang akan terjadi. Soalnya belum pernah dilanggar dan belum pernah ada kejadian aneh. Tapi kami yakin itu (bahaya) bisa saja menimpa," imbuh panglingsir Tembuku Kaja, Wayan Gasir.


Yang menarik adalah, para wanita di Banjar Tembuku Kaja sadar diri bahwa mereka tidak diperkenankan menginjakkan kaki di utama mandala. Hal aneh lainnya, anak perempuan di bawah lima tahun pun enggan masuk ke area yang dimaksud. Padahal, orangtua maupun pihak keluarga yang lain tidak pernah memberi tahu soal adanya pantangan ini.


Kata Gasir, hal yang dilakukan kaum wanita di desanya mirip seperti adanya kontak batin antara dewa yang berstana di pura tersebut dengan masyarakat. Setiawan juga menegaskan, pihak pangempon pura tidak pernah memasang papan larangan atau imbauan bagi wanita agar tidak masuk ke utama mandala. "Kami tidak pernah memberi tahu, melarang juga tidak, menyuruh masuk juga tidak. Ini aneh," ungkapnya.


Pura Dalem Pingit Desa Adat Tembuku Kaja tergolong pura kahyangan tiga. Pura ini memiliki tiga bagian, yakni nista, madya mandala, dan utama mandala. Di bagian utama pura terdapat beberapa palinggih, seperti palinggih gedong Ida Dalem Pingit, palinggih surya, pangaruman, serta pangelurah.


Saat pujawali yang jatuh pada Buda Wage Ukir, rangkaian kegiatan akan dipersiapkan oleh kaum pria. Sedangkan para ibu-ibu maupun anak gadis hanya bisa membantu dari luar pura atau bagian tengah pura. Tidak hanya wanita, pemangku pura yang disebut Jero Kubayan juga cukup memanjatkan beberapa bait mantra dari madya mandala.


Untuk membedakan antara bagian utama dan tengah pura dibatasi dengan gapura. Gapura dan pembatas ini memiliki beragam fungsi. Saat piodalan, para wanita dan pria membagi tugas. Si wanita akan menempatkan beberapa sesaji atau sarana upacara di tembok pembatas. Selanjutnya si pria dapat mengambilnya untuk ditaruh di utama mandala. "Intinya saling bantu. Kita komunikasi lewat tembok pembatas," tambah prajuru adat Nyoman Saria.


Segala isi-isian di setiap banten atau sarana upacara, wajib menggunakan daging itik. Warga tidak dibolehkan menggunakan olahan daging babi. "Ini merupakan pantangan. Tidak hanya di utama atau jeroan, di halaman parkir saja tidak boleh makan babi. Namanya Dalem Pingit, pingit aliasn tenget, atau angker," ketusnya.


Pura Dalem Pingit Desa Adat Tembuku Kaja berlokasi di tempat strategis. Lokasi pura berada dekat dengan objek wisata seperti air terjun Goa Giri Campuhan dan Krisik. Jika dari Denpasar, Anda harus melaluinya dari Kota Bangli, kemudian menuju ke arah timur (Karangasem). Sampai di simpang empat Desa Tembuku, kemudian mengarah ke selatan atau menuju Klungkung.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia