Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jangan Mengumpat di Kawasan Pura Pengulun Titi Tukad Ayung

08 Agustus 2019, 13: 38: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jangan Mengumpat  di Kawasan Pura Pengulun Titi Tukad Ayung

BESAR : Sejumlah batu besar masih terlihat di depan pura, yang menambah asri kawasan pura. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Awalnya hanya dianggap pohon besar biasa yang hidup di sisi sungai, seperti pohon besar lain di dekatnya. Namun, siapa sangka pohon besar di Pura Pengulun Titi Tukad Ayung itu rupanya adalah tempat yang dipercaya sebagai stananya Ratu Niang?

Sebagai warga Bali pada umumnya pasti mengenal nama  Tukad (sungai) Ayung yang berhulu di dekat Kintamani dan mengalir ke selatan hingga akhirnya bermuara di Selat Badung. Menyusuri Sungai Ayung sepanjang  62,5 kilometer  banyak hal yang  ditemukan. Dari rafting, alam yang masih hijau, juga pura yang  salah satunya   adalah Pura Pengulun Titi Tukad Ayung.

Sebuah pura kecil yang berdiri tepat di sisi sungai di Desa Sibang Gede, Abiansemal tersebut cukup menarik perhatian, jika berkunjung ke Sibang Gede.  Wisatawan  juga kerap  mendokumentasikan area sungai dan sekitarnya yang masih sangat asri dan hijau. Batu-batu besar masih terlihat di sungai yang debitnya tidak terlalu besar di musim kemarau ini.


Mengunjungi pura ini akan merasakan sedikit sensasi, apalagi jika pertama kali datang.  Merinding akan terasa menyergap tuni, apalagi datang sendirian. “Pasti kalau lewat sendirian dari jembatan menuju ke pura akan merasakan  hawanya berbeda,” ujar Ketua panitia perbaikan Pura Pengulun Titi Tukad Ayung, I Gusti Agung Ngurah Alit, 64, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin di rumahnya.

Menurutnya, pura yang diempon dua subak itu punya nilai magis tersendiri. “Kami dahulu memutuskan sekitar 50 tahun lalu membangun jembatan untuk menyebrangi sungai, agar  krama subak bisa ke kebun tanpa turun ke sungai karena arusnya cukup deras,” beber pria yang sudah pensiun dari aparatur sipil negara ini.

“Akhirnya setelah jembatan jadi, dan demi keselamatan krama subak, dilanjutkan dengan membuat pura. Ini dilaksanakan, juga untuk keselamatan warga yang melintas," bebernya.

Dikatakannya, yang malinggih di Padmasana adalah Hyang Bhatara Wisnu. Seiring berjalannya waktu,  pura kemudian direnovasi karena terjangan banjir. “Waktu 2016 air sungainya meluap dan naik ke atas sampai ke pura. Palinggihnya rusak berat, namun masih tetap berdiri kokoh, tidak roboh,” imbuhnya dengan nada keheranan.

Melalui bantuan renovasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang diusulkan oleh I Nyoman Gede Wiradana selaku anggota DPRD Badung, akhirnya pura bisa seperti sekarang ini. “Pamlaspasan dilakukan pada piodalan pura yang jatuh Buda Kliwon Wuku Sinta atau bertepatan Pagewersi sekitar sembilan bulan lalu,” jelas pria dua anak ini.

Ketika mlaspas, lanjutnya,  ada hal diluar nalar terjadi, yakni angin keras di atas Palinggih Padmasana yang berputar-putar. “Mungkin itu pertanda restu niskala atas upacara pamlaspasan,” ungkap istri
I Gusti Agung Ngurah Alit, I Gusti Agung Ayu Putu Alit, 63.

Selain kejadian itu, ibu rumah tangga ini juga menceritakan ada kejadian diluar nalar yang dialaminya sendiri saat berada di pura. “Pas saya duduk di kawasan pura sendirian, tiba-tiba ada suara yang mengatakan bahwa dirinya tidak dihiraukan dan tidak ada yang memberikan persembahan ketika malinggih di pohon,” ucap wanita yang juga berjualan bunga ini.

Ternyata setelah ditanyakan secara niskala,  suara yang didengar  itu adalah Ratu Niang yang berstana di pohon besar dekat pura. “Lihat kan tangan saya ini merinding membicarakan kejadian itu lagi. Akhirnya setelah itu dibuatkan tempat untuk sembahyang, coba saja lihat di pohonnya,” jelas Ayu Putu sembari duduk.

Keduanya sepakat kalau area sekitar pura cukup angker dan menyarankan kalau berkunjung dan melintas di jembatan tersebut tidak berkata yang aneh-aneh. “Jangan mamisuh (mengumpat), berkata-kata kotor, apalagi melakukan hal aneh,” tegas pria yang dulu kerja di Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung ini.

“Dulu ada yang melihat penampakan dua orang bertubuh hitam besar di sana,” imbuhnya dengan gerakan tubuh seperti merinding.

Akhirnya setelah membuat tempat menghaturkan banten di pohon besar itu, krama Subak Karang Sibang yang berjumlah 30 kepala keluarga (KK) dan 60 KK dari Krama Subak Dharmayasa, juga sepakat menghaturkan sesajen setiap harinya yang diwakili oleh pemangku. “Mangku Made yang melaksanakan persembahyangan setiap hari di sana, berdoa meminta agar petani dan warga yang melintas diberi keselamatan,” pungkas pria yang sudah memiliki lima cucu ini. (sue)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia