Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Lomba Nyurat Aksara Bali; Minim Peserta Laki-laki

09 Agustus 2019, 11: 15: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lomba Nyurat Aksara Bali; Minim Peserta Laki-laki

NULIS BALI: Lomba Nyurat Aksara Bali di Dewan Pendidikan Tabanan, Kamis (8/8). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Belakangan, penggunaan aksara Bali terus digalakkan. Kekhawatiran akan keberlangsungan aksara ini memang bukan tanpa alasan. Salah satu cara untuk terus melestarikan adalah lewat lomba nyurat aksara Bali. Meski hasilnya belum cukup memuaskan.

Untuk ketiga kalinya Dewan Pendidikan dan Klinik Pendidikan Kabupaten Tabanan kembali menggelar lomba nyurat aksara Bali untuk tingkat SD pada Kamis (8/8). Kendatipun jumlah peserta lomba meningkat, namun masih minim peserta laki-laki, bahkan peserta yang ikut terkesan masih banyak yang asal comot alias tidak melalui seleksi. 

Ketua Panitia Acara, I Wayan Kawi menyayangkan peserta yang dikirim untuk mengikiti lomba nyurat masih asal comot alias tidak melalui seleksi. Karena tujuan lomba selain membiasakan siswa mengenal Bahasa Bali sejak dini, juga untuk menjaring bakat dan menjaring kemampuan untuk mengikuti lomba ketingkat yang lebih tinggi sebagai duta Tabanan. 

"Maka dari itu saya berharap guru dan pembina yang ada di kecamatan benar-benar serius untuk menjaring siswa, jangan hanya asal comot. Jangan hanya ambil saja biar ada saja yang mewakili," ungkapnya.

Di samping itu, dirinya mengakui meskipun terjadi peningkatkan jumlah peserta yang kali ini mencapai 99 orang siswa, ia melihat masih minim peserta lomba laki-laki. "Ada sekolah yang tidak mengirimkan peserta lomba laki-laki, karena diakui tidak ada yang memiliki kemampuan nyurat aksara. Ini akan jadi atensi kami," imbuhnya. 

Sementara itu Plt Kepala Dinas Pendidikan Tabanan I Wayan Miarsana menyampaikan bahwa ajang lomba ini sekaligus metode untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas anak-anak secara berkelanjutan dan memang harus dilakukan jika tidak ingin nantinya sastra Bali menjadi punah. 

"Sastra Bali banyak dipergunakan di berbagai dokumen khususnya yang berkaitan dengan budaya. Seperti awig-awig adat sastranya harus sastra Bali, di sana ada sastra latin untuk memudahkan," jelasnya.

Terkait minimnya perserta laki-laki dalam lomba nyurat aksara Bali, Miarsana mengatakan Dinas Pendidikan selaku leading sector akan melakukan review. "Apakah hal itu disebabkan memang karena tidak ada potensi atau kondisi lain yang menyebabkan mereka tidak hadir," imbuhnya.

Ditambahkannya untuk peserta yang memenangkan lomba akan diprioritaskan untuk mengikuti lomba tingkat lebih tinggi. Pun juga jika ada pekerjaan yang berkaitan dengan nyurat aksara bali tentunya juga akan diberdayakan.

Ketua Dewan Pendidikan Tabanan, I Wayan Madra Suartama menambahkan lomba nyurat digelar agar siswa yang sekarang yang sudah terbiasa membawa gadget tidak lupa dengan budaya Bali sehingga digelar dengan nyurat. "Jadi langkah ini bisa dijadikan rem, tak semata-mata orientasi ke depan, tapi semestinya diberikan agar menjadi kebiasaan," tandasnya. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia