Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Lontar Krama Pura, Atur Etika Masuk Pura dan Uji Orang Kesurupan

11 Agustus 2019, 18: 18: 37 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lontar Krama Pura,  Atur Etika Masuk Pura dan Uji Orang Kesurupan

LONTAR : Naskah lontar Krama Pura disimpan di Kantor Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di kropak dengan kode H/XI/DISBUD. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Menjaga kesucian pura bukan perkara mudah. Banyak tantangan dan godaan. Terlebih pura tak hanya dikunjungi pamedek untuk  bersembahyang. Namun, pura juga kerap disambangi wisatawan untuk menikmati keindahan dan vibrasi spiritual. Sehingga, tak mengherankan ada saja wisatawan berlaku aneh di palinggih atau kawasan yang  disucikan.

Sejatinya leluhur kita sudah membentengi kesucian pura dari berbagai gangguan. Bahkan, terdapat naskah yang berisi tentang aturan yang mengandung etika dan larangan memasuki pura yang tak lekang oleh zaman. Aturan tersebut tertulis dalam naskah  Lontar Krama Pura.
Naskah lontar ini berisikan tentang ajaran Sang Hyang Dewa Sasana, yaitu tentang tata cara orang masuk pura, tata cara menghaturkan sesajen serta larangan-larangan bagi umat yang ingin memasuki pura. Keberadaan naskah lontar bisa dijadikan pedoman oleh umat Hindu dalam berperilaku di tengah derasnya pengaruh globalisasi.


Pemerhati Lontar yang juga Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa mengatakan, naskah Lontar Krama Pura yang dialihaksarakan ini adalah lontar yang ditulis oleh Putu Mangku dari Banjar Jro Dikit Seririt pada Tahun Saka 1919 (1997 M).  Lontar  Krama Pura tergolong naskah muda karena dilihat dari bahasa yang dipakai sebagai wahananya yaitu bahasa Kawi-Bali.

Lontar Krama Pura,  Atur Etika Masuk Pura dan Uji Orang Kesurupan

SUCI : Aturan memasuki pura dan kawasan suci sudah sejak dahulu diatur tetua, dan dituangkan dalam lontar Krama Pura. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)


Naskah lontar ini tersimpan di Kantor Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di kropak dengan kode H/XI/DISBUD. Naskah Lontar Krama Pura ditulis  di lontar sepanjang 34,5 cm dan lebar 3 cm.


Di bagian awal  naskah Lontar Krama Pura ini berisikan tentang ajaran Sang Hyang Dewa Sasana melalui sabda. Yang pertama disebutkan adalah kewajiban sebagai pangempon pura yang harus mematuhi aturan berupa ajaran Triwikrama. “Triwikrama dari asal katanya terdiri dari kata Tri artinya tiga, Wi artinya yang dijunjung,  Krama artinya perbuatan, Dharma artinya takdir, Gama artinya pegangan, Tirtha artinya dengan air suci, Tirtha juga artinya kehidupan,” ujar Nyoman Suka kepada Bali Express (Jawa Pos Group)  di Singaraja.

 
Dikatakannya, dalam lontar ini secara gamblang tersurat kriteria alat-alat  atau sesajen yang dianggap cemer atau kotor. Seperti sesajen yang dilangkahi oleh anjing,  dilangkahi manusia, dipakai mainan oleh anak-anak, dan barang belanjaan di pasar,  sehingga perlu disucikan oleh pedanda melaui Tirta Pabersihan. “Juga diuraikan, apabila di pura menemukan orang kesurupan dan mengaku dewa yang turun, maka perlu dites dengan sarana untuk mengetahui kebenaran dari orang kesurupan tersebut,” imbuh Nyoman Suka.


Menurut lontar ini, lanjutnya, sarana yang digunakan untuk mengetes apakah benar kesurupan atau tidak, dengan cara membuat api dari batok kelapa, lalu celupkan kedua tanganya. Namun disertai dengan sesajen. "Bila ia tidak terbakar oleh api, memang benar dewa yang bersemayam pada dirinya. Bila ia terbakar oleh api, berarti itu mengada-ada,” jelasnya.


Dalam lontar ini pula terdapat larangan bagi orang gila, orang yang menstruasi, orang cuntaka karena kematian, pencuri untuk memasuki pura. Di areal pura, orang dilarang marah sampai memaki-maki, bicara ngacuh (ngawur), bersenggama, berselingkuh, bahkan untuk memperbaiki pakaian. Dan, yang paling dilarang masuk pura adalah orang panten (orang yang dosanya tidak terampuni). Mereka yang masuk golongan ini yaitu orang yang memperkosa, dimana laki-lakinya dari golongan sudra, sedangkan wanitanya dari golongan tri wangsa (brahmana, ksatriya, wesya).


Orang yang mengawini yang tidak patut dikawini (Gamia-gamana) juga dilarang masuk pura. Ada juga yang disebut caci (aka), yaitu seorang wanita yang telah cukup umur, namun tidak menstruasi. Walaupun sudah berobat, namun tidak juga menstruasi, dilarang masuk pura, apalagi  untuk membuat perlengkapan sesajen.  “Termasuk sesana kepemangkuan dalam melakukan bersih-bersih di pura, serta Jro Mangku yang tidak boleh serakah,” imbuhnya.


Perilaku orang yang suka menduduki pura, tempat palinggih bhatara yang disucikan, juga diatur dalam lontar ini. Apalagi orang tersebut merusak peralatan milik pura dan perlengkapan pura (wastra palinggih), maka orang tersebut patut  dihukum.


Hukumannya disesuaikan dengan perbuatannya. Jika merusak segala peralatan di pura, bahkan sampai mencurinya, maka hukumannya berlipat-lipat. Jika hanya karena duduk di pelataran palinggih, maka hukumannya hanya menghaturkan panyucian, terutama prayascita. “Nah fenomena inilah yang sering kita temui akibat ulah dari wisatawan yang hanya berburu selfie. Harapannya, lontar Krama Pura ini bisa diimplementasikan oleh seluruh pangempon pura,” bebernya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia