Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Upacara Warak Kruron, Solusi Atasi Masalah Usai Keguguran

11 Agustus 2019, 19: 31: 36 WIB | editor : Nyoman Suarna

Upacara Warak Kruron, Solusi Atasi Masalah Usai Keguguran

Ida Pandhita Mpu Yogiswara (IKG DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu tidak hanya bagi yang pernah melakukan aborsi (menggugurkan kandungan), tapi juga bagi keluarga yang kandungannya  gugur sebelum dilahirkan. Upacara ini penting agar hidup tidak terus dibelit masalah. Guna meringankan beban umat, Griya Gede Manik Uma Jati bersama Koperasi Mas Amerta akan melaksanakan secara massal, 8 September 2019. Tertarik dan mau ikut?

Ida Pandhita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan mengakui, upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu bagi orang yang pernah aborsi atau keguguran, jarang dijalankan karena tak banyak yang mengetahui. Di sisi lain, masih banyak yang malu  mengakui dirinya pernah aborsi atau keguguran. Padahal, efeknya sangat buruk bagi kelangsungan hidup berumah tangga.

Upacara Warak Kruron, Solusi Atasi Masalah Usai Keguguran

MASALAH : Agar hidup tak terus dihujam masalah, pelaku aborsi diharuskan melakukan upacara Warak Kruron, Ngelungah, dan Ngelangkir. (IKG DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

Keguguran yang disengaja dan  keguguran yang tidak disengaja, lanjut Ida Pandhita Mpu Yogiswara, seharusnya melakukan upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu.

Dikatakan Ida Pandhita Mpu Yogiswara, seseorang yang melakukan aborsi dampaknya akan dibawa seumur hidup. Bahkan, dampak secara niskala tak hanya akan dirasakan si wanita, tetapi juga pria. Lantaran itu pula, penting melakukan upacara Warak Kruron agar hidup tidak terus bermasalah.

Dikatakan Ida Pandhita Mpu Yogiswara, ketidaktahuan ataupun rasa malu membuat banyak pasangan yang pernah melakukan aborsi akhirnya membawa sebel atau kekotoran tersebut sepanjang hidupnya. Kesebelan itulah, lanjutnya, bisa ditebus (ditebusin) dengan cara melakukan upacara Warak Keruron atau Pangepah Ayu.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara menambahkan, banyak dampak negatif yang akan dialami pasangan yang tega berbuat aborsi ataupun yang mengalami keguguran, di antaranya sakit yang berkepanjangan, susah mencari pekerjaan, tak pernah nyaman  bekerja dimanapun, selalu merasa gelisah. Bahkan, mengalami musibah, seperti kecelakaan dalam waktu yang berdekatan. Biasanya yang akan terjadi pada muda – mudi yang melakukan aborsi,

mereka sangat gelisah hidupnya. Di tempat bekerja atau di sekolah selalu bermasalah, rezekinya pun sangat susah, dan mereka akan merasa tidak nyaman dalam hal apapun. Bahkan, mereka juga akan sering mengalami musibah (kecelakaan) karena Atman sang janin yang mereka gugurkan, masih berada di Marcepada dan menuntut untuk kembali ke alam Suargan (Sorga).

 Dijelaskannya, dalam ajaran agama Hindu, aborsi disebut dengan Dhanda Bharunana, sedangkan keguguran yang tidak disengaja disebut Warak Kruron. Meski sebutannya berbeda, lanjutnya, namun dampak yang dialami ibu maupun ayah sang  calon janin akan merasakan akibat yang sama.

Dijelaskannya, tak hanya upacara Warak Kruron yang bertujuan untuk menghilangkan nasib buruk dan sakit-sakitan yang dilaksanakan, ada juga upacara Ngelangkir untuk bayi yang meninggal sebelum kepus pungsed dan Ngelungah untuk bayi yang meninggal sebelum ketus gigi.

Ditegaskannya, upacara Warak Kruron bukan berarti membenarkan praktik aborsi. "Kita semua berharap anak muda tidak melakukan kesalahan fatal dengan menghilangkan nyawa, meskipun itu nyawa anaknya sendiri. Karena agama apapun tidak pernah membenarkan perbuatan tercela seperti membunuh. Juga hubungan seks di luar pernikahan,”  ujar Ida Pandhita Mpu Yogiswara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan.

Dalam lontar Tutur Lebur Gangsa dan Sunari Gama dijelaskan, atman telah bersemayam dalam janin sejak usia dua minggu kandungan atau  berbentuk  gumpalan darah yang melengkung seperti tokek. Sejak usia dua minggu kandungan, janin itu sudah bernyawa. Artinya, jika ia digugurkan haruslah kita mempersiapkan upacara yang layak, bukannya setelah gugur lalu dibuang ke laut dan dianggap selesai.  "Jasadnya memang hilang di laut, tapi atman bayi itu tetap mengikuti ayah ataupun ibunya kemana pun, meskipun ayah dan ibunya akhirnya tidak menikah ataupun tinggal bersama,” terangnya.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara menerangkan, orang tua janin yang gugur atau diaborsi harus bertanggung jawab kepada sang bayi, baik secara skala maupun niskala. Tanggung jawab secara niskala, bahwa atman janin itu harus dilakukan prosesi khusus untuk mengantarkan atmannya ke alam swargan agar dia bisa bereinkarnasi kembali.

Prosesi khusus itu disebut upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu. Upacara ini menggunakan Segehan Rare sebagai inti prosesi. “ Upacara ini tidaklah mahal, intinya adalah mengembalikan atmannya agar tidak di Mercepada ngeruwabeda atau menimbulkan masalah,” jelasnya.

Selain menggunakan Segehan Rare, upacara Warak Kruron juga menggunakan Sasayut Guru Piduka, Banten Ngulapin, Sanggah Cucuk, dan beberapa kelengkapan lainnya. Dijelaskannya, prosesi intinya dilakukan di laut atau segara. Namun, sebelum memasuki proses inti, pelaku aborsi dan keluarganya harus melaksanakan Guru Piduka terlebih dahulu di Sanggah Kemulan. "Dalam kepercayaan Hindu, anak merupakan titisan leluhur yang terlahir kembali. Ketika kita melakukan aborsi artinya kita juga berdosa pada leluhur kita,” terangnya.

Menurutnya, prosesi Guru Piduka di Kemulan tak harus dilakukan secara besar, prosesi itu bisa saja dilakukan sederhana dengan menggunakan Pajati, Tipat, Prasita, Sasayut Guru Piduka, Tumpeng Guru, Kojong Rangkadan, dan Sampian. “Cukup hanya menyediakan banten inti dan dipuput oleh pemangku pun sudah puput, yang penting si ibu dan ayah yang melakukan aborsi harus matur  piuning dan memohon maaf dan pengampunan,”terangnya.

Selain maturan Guru Piduka di Sanggah Kemulan, ayah dan ibu yang melakukan aborsi juga harus melakukan Pacaruan Sapuh Awu di tempat mereka melakukan aborsi. Ada tiga tahap yang dilakukan dalam upacara Warak Kruron ini. Pertama, upacara di Sanggah Kemulan masing – masing, dan prosesi Macaru Awu di tempat aborsi yang jadi  bagian dari Guru Piduka. Ada juga upacara di Perempatan Agung yang menggunakan kasa sebagai perantara, dan terakhir prosesi puncaknya di laut.

Guna memudahkan sekaligus meringankan umat yang ingin melaksanakan upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu, Ngelangkir dan Ngelungah, Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, kembali melaksanakan upacara secara massal, Redite Umanis, 8 September 2019 di Pantai Mertasari, Sanur.

"Silakan koordinasi dan mendaftarkan diri di Griya Gede Manik Uma Jati,Kepaon, Pemogan," sarannya.

Griya Gede Manik Uma Jati,Kepaon, Pemogan, bukan kali pertama melaksanakan upacara massal ini. Dan, disambut hangat karena sangat efisien dan meringankan umat, baik dari segi waktu, tenaga, dan biaya.

(bx/rin/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia