Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lagi, Nelayan Hilang di Laut Setelah Pindahkan Tali Rumpon

11 Agustus 2019, 22: 17: 56 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lagi, Nelayan Hilang di Laut Setelah Pindahkan Tali Rumpon

PENCARIAN: Proses pencarian Made Pica yang dinyatakan hilang, Minggu (11/8). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TEJAKULA - Made Pica Antara, 45 nelayan asal Banjar Dinas, Celagi Bantes, Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula dilaporkan hilang ketika memindahkan tali rumpon di tengtah laut. Pica dikabarkan melaut di perairan Bondalem, pada Minggu (11/8) pukul 04.30 Wita. Kasus ini pun menambah daftar panjang hilangnya nelayan saat melaut di Bali Utara.

Rekan koban, Gede Minggu, 64, menuturkan, korban Made Pica melaut bersama 12 orang nelayan lain. Mereka tergabung dalam kelompok Arta Bakti Baruna. Mereka mencari peruntungan di areal rumpon, yang berjarak 14 mil dari bibir pantai.

Sesampainya di rumpon, korban Made Pica bertugas untuk memindahkan tali rumpon. Ia menyelam di kedalaman sekitar enam meter. Sementara nelayan lainnya menunggu di atas rumpon dan di atas perahu.

Rupanya, setelah ditunggu hingga satu menit, korban tak  kembali ke permukaan. Seluruh rekan-rekan korban bergegas melakukan pencarian di sekitar rumpon, serta melaporkan hal ini ke aparat kepolisian.

"Kami tidak berani turun ke bawah (menyelam,red). Kami hanya melakukan pencarian dari atas. Sudah kami senter-senter, namun korban tidak kelihatan," ujar Gede Minggu, salah satu rekan korban yang ikut melaut.

Gede Minggu menjelaskan, proses pemindahan tali rumpon sejatinya hanya butuh waktu sekitar 40 detik.  Pasalnya, tali rumpon yang harus dipindahkan hanya berada di kedalaman sekitar enam meter. Menyelam pun sejatinya sudah sering dilakukan oleh korban Made Pica.

Terlebih, sehari sebelum dinyatakan hilang, tepatnya Sabtu (10/8), korban bersama 12 rekannya juga sempat mencari ikan di rumpon yang sama. Mereka berhasil mendapatkan ikan sebanyak 8 kwintal. Sayang, saat kembali mencari ikan di rumpon tersebut, korban menghilang secara misterius.

Atas musibah itu, anak pertama korban, Gede Arya Pratama 20, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia mengaku tidak memiliki firasat buruk sebelum sang ayah dinyatakan menghilang. Korban, kata Arya, memang sering melaut bersama rekan-rekannya saat dinihari, dan kembali ke rumah sekira pukul 10.00 wita.

Arya berharap, sang ayah segera ditemukan. "Tidak ada firasat. Terakhir saya bertemu dengan bapak pada  Sabtu malam. Saya ditanya mau ke mana, ya saya jawab mau melali. Hanya itu saja," tuturnya.

Sementara itu, sebanyak 22 petugas gabungan dari Basarnas Buleleng, BPBD Buleng, Pol Air Polres Buleleng, Polsek Tejakula, dan Pokmaswas pun diterjunkan untuk melakukan pencarian. Penyisiran dilakukan sejauh dua mil, dari titik lokasi hilangnya korban, dengan dibantu 10 nelayan dari kelompok Arta Bakti Baruna. Hingga berita ini diunggah, korban Made Pica belum ditemukan.  "Pencarian pertama menggunakan enam perahu (jukung,red). Sementara pencarian kedua kami menggunakan tiga perahu," ucap Kepala Pos SAR Buleleng, Dewa Putu Hendri Gunawan.

Hendri Gunawan tidak menampik, jika kasus nelayan hilang ini menambah daftar panjang kasus serupa. Terhitung Maret hingga Agustus,  ada empat kasus nelayan yang hilang saat mencari ikan

Kasus pertama dialami oleh Putu Sukerta. Pria berusia 50 tahun itu hilang saat melakukan aktivitas memancing di perairan kawasan Pura Segara Rupek, pada Rabu (27/3). Kasus kedua, dialami oleh Kadek Ariasa, 32. Pria asal Banjar Anyar, Desa Anturan, Buleleng itu hilang saat tengah mencari ikan pada Senin (13/5), sementara perahunya ditemukan di perairan Desa/Kecamatan Kubutambahan dengan kondisi tanpa awak.

Peristiwa serupa juga menimpa seorang nelayan bernama Ketut Suwiana, 51.  Warga asal Banjar Dinas Kawanan, Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini hilang saat melaut di perairan Desa Penuktukan, Kecamatan  pada Senin (20/5). Perahunya juga ditemukan dalam kondisi tanpa awak, terombang- ambing di tengah laut desa Penuktukan. Dan terakhir, dialami oleh Made Pica.

Sayangnya, ketiga nelayan yang hilang sebelumnya, hingga saat ini belum berhasil ditemukan. Namun ia berharap korban Made Pica, dapat ditemukan dalam kondisi selamat. "Ya sesuai SOP, pencarian memamg hanya dapat dilakukan selama tujuh hari. Namun bila nelayan di desa setempat menemukan ciri-ciri korban, maka Tim Basarnas dapat membantu melakukan evakuasi," tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia