Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Pak Oles: Tindak Tegas, Deportasi Turis Beler

12 Agustus 2019, 18: 11: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pak Oles: Tindak Tegas, Deportasi Turis Beler

BALI EXPRESS, DENPASAR - Memang Bali hidup dari pariwisata. Namun bukan pariwisata murahan atau mau diperlakukan seperti apapun oleh wisatawan, walaupun sudah kelewat batas. Saatnya untuk berbenah dan jangan sampai, semakin aneh wisatawan masuk Bali.

 

Menurut I Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles, belakangan ini semakin aneh-aneh saja wisatawan yang masuk Bali. Belum hilang dari ingatan, ada wisatawan naik palingih padmasana dan duduk diatasnya. Kasus ini ada beberapa, salah satunya di Pura Gelap, Besakih. “Berulang kali terjadi, sikap mereka cenderung seperti sangat tidak tahu Bali. Padahal mereka semestinya tahu Bali, pulau sakral, penuh dengan tempat suci. Holy island. Ini artinya samakin banyak wisatawan murahan masuk Bali,” kata politisi Partai Demokrat ini.

Kemudian belakangan terus terjadi, sampai yang terakhir adalah Pura Beji yang dipakai untuk mencuci pantatnya. Hal-hal seperti ini tak ada habisnya. “Jadi Bali tidak perlu wisatawan seperti ini. Karena mereka paling bawa uang sedikit. Tidak tahu apa-apa, melecehkan, peringainya kampungan, dan paling di kampungnya sana luar negeri jadi tukang susut motor (cuci motor),” keluhnya geregetan.

Tak hanya itu, semakin banyak di Bali ada wisatawan yang aneh-aneh. Ngamuk, memukul orang, kemudian ada yang sampai meresahkan sampai di tempak mati, setelah menikam polisi. Kemudian semakin banyak ada wisatawan jadi gembel, jadi pengemis, semakin banyak yang gila. “Artinya semakin jelek kualitas wisatawan masuk Bali. Padahal Bali itu sebenarnya sejak zaman dulu menjadi pariwisata yang banyak dikunjungi orang-orang hebat, nyaman mereka di Bali. Sekarang tambah aneh-aneh saja wisatawan di Bali,” kata Ketua Bapilu DPD Demokrat Bali ini.

Dengan kondisi ini, mulai ada arah perbaikan pariwisata Bali. Pertama wisatawan tidak boleh masuh ke areal utama pura, kecuali memang untuk sembahyang. Pemandu wisata wajib tahu tentang adat, budaya dan Agama Hindu. Agar bisa mengarahkan, yang mana boleh dan tidak boleh di tempat wisata. “Jangan malah pemandunya tidak paham. Atau wisatawan yang tidak jelas itu, malah bebas masuk tempat suci secara liar,” imbuh mantan Ketua DPD Hanura Bali ini.

Selain itu, menurut mantan Calon Wakil Gubernur Bali ini, pemerintah mulai memilah untuk memberikan wisatawan yang lebih berkualitas masuk Bali. Mesti ada langakh-langkah yang dibuat untuk bisa memilah. “Jangan hanya mementingkan jumlah, saatnya sudah memikirkan kualitas. Kalau dibiarkan seperti sekarang, wisatawan yang benar-benar ingin menikmati Bali juga tidak nyaman, dengan apa yang dilakukan wisatawan murahan itu,” urai salah satu pengusaha sukses ini.

Kemudian mantan Anggota DPRD Bali ini mengatakan, saat ini mesti ditindak tegas apa yang dilakukan wisatawan di Bali. Jika memang menodai kesucian pura, tindak tegas secara hukum. Sama halnya yang membuat rusuh. “Tindak tegas secara hukum, kemudian setelah keluar dari penjara, langsung deportasi para wisatawan beler (kacau) itu, dan jangan lagi dikasi masuk Bali,” pungkas alumnus Faculty of Agriculture, Universitas of The Ryukyus Jepang ini.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia