Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Dalem Agung Padangtegal, Ubud

Ribuan Monyet Menjauh, Tidak Berani Ganggu Upacara Wana Kertih

13 Agustus 2019, 09: 34: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ribuan Monyet Menjauh, Tidak Berani Ganggu Upacara Wana Kertih

NEDUNANG: Prosesi Nedunang Sesuhunan saat Upacara Wana Kertih di Pura Dalem Agung Padangtegal, Kecamatan Ubud, Gianyar, Selasa (16/7) lalu, berlangsung khusyuk. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, UBUD - Desa Adat Padangtegal, Kecamatan Ubud, Gianyar menggelar upacara Wana Kertih sebagai rangkaian dari Karya Agung Sad Kertih pada Purnama Kasa, bulan lalu. Meski pura tersebut berada di hutan Monkey Forest yang dihuni ribuan monyet, namun selama rangkaian upacara nedunan Sesuhunan di Pura Dalem Agung Padangtegal, ribuan monyet yang biasanya ada di sekitar lokasi tidak berani menganggu. Bahkan, menjauh dari lokasi upacara.

Bendesa Adat Padangtegal, I Made Gandra menerangkan,  bahwa upacara Wana Kertih yang digelar merupakan bagian dari Karya Agung Sad Kertih yang  bertujuan untuk kedamaian dan keharmonisan di areal Monkey Forest.  “Tujuan upacara Wana Kertih untuk mencapai keharmonisan alam,  khususnya di Desa Padangtegal dan areal Monkey Forest,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu.

Rangkaian upacara Wana Kertih tersebut dilaksanakannya juga ritual nedunan ( napak pertiwi) Ida Bhatara Pura Dalem Agung Padangtegal menuju tempat upacara Wana Kertih yang dipusatkan mengambil lokasi di simpang tiga objek wisata Monkey Forest. Bahkan, dalam prosesnya, Gubernur Bali Wayan Koster juga ikut mundut Ida Bhatara Sesuhunan bersama panglingsir Puri Agung Ubud dan Peliatan. Suasananya benar benar khusyuk. Pasalnya, selama prosesi upacara, suasananya beda dengan biasanya, tak satu pun ada  monyet mengganggu. Padahal, pura yang berada di kawasan objek wisata Monkey Forest tersebut terdata sekitar 1.058 monyet. “Memang rutin setiap sesuhunan tedun ke pura, mulai turun ke pura pasti tidak ada monyet dekat Pura Dalem Agung Padatangtegal dan mereka menjauh,” pungkasnya.


Di sepanjang radius mata memandang dari areal Pura Dalem Agung Padangtegal dan di lokasi upacara Wana Kertih,  tak satu pun terlihat monyet di kawasan pura itu.  Bahkan, di atas pepohonan yang sering menjadi tempat mereka bergelantungan juga tidak terlihat. “Sebenarnya monyet-monyet yang ada di sini adalah panjak ( abdi)  Ida Sesuhunan. Makanya, saat sesuhunan tedun  mungkin ada pengawal niskala yang menghalau. Sehingga mereka tidak ada datang ke pura. Di atas pohon pun mereka tidak terlihat mungkin karena tidak berani dan sangat patuh dengan penguasa niskala di Monkey Forest ,” imbuhnya.


Dikatakannya, tiga hari sampai dua hari menjelang karya, monyet masih banyak terlihat di kawasan pura.  Meski diawasipun, lanjutnya, tak akan  sanggup, karena saking banyaknya monyet. Tetapi anehnya , lanjutnya, saat Ida Bhatara sudah tedun, monyet sudah tidak berani dekat dengan areal pura. Hal serupa juga rutin terjadi setiap piodalan  enam bulan sekali.


Melalui upacara Wana Kertih, pihaknya berharap dapat menumbuhkan keharmonisan. “Harapan kita semoga Tuhan melimpahkan rahmat, kesuburan, kemakmuran, dan kedamaian, serta mengurangi hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena ini tujuannya harmonisasi alam, sesama manusia, dan Tuhan,” terangnya.


Keunikan lainnya?  Pura Dalem Agung Padangtegal  yang terdapat di areal hutan tempat wisata Monkey Forest, Ubud, Gianyar, diyakini sebagai tempat nunas tamba ( memohon diberkati kesembuhan) dan keturunan. Meski tidak semua orang yang nunas berhasil, namun sebagian besar yang sakit bisa sembuh dan yang lama tidak dikaruniai keturunan akhirnya  bisa memiliki seorang anak.


“Biasanya pura ini diyakini sebagai tempat  nunas tamba dan nunas keturunan. Itu pun tergantung seseorang yang berdoa ke sini, karena masalah keyakinan, percaya dan tidak percaya,” papar I  Made Gandra.


Disinggung terkait sarana, ia mengaku hanya semampunya dari pamedek. Ada yang menggunakan sarana canang dan pajati. Bahkan, yang nunas  tidak harus warga dari Desa Padangtegal saja, melainkan dari masyarakat luar juga bisa. Semasih itu tidak ada halangan,salah satunya adalah kecuntakan ( kotor secara niskala). “Sejauh ini sudah banyak yang terbukti dan terkabulkan doanya. Namun, semua itu kembali ke diri masing-masing untuk meyakini hal tersebut.” tandasnya.


Untuk mencari pura tidak terlalu sulit. Tinggal mencari tempat wisata Monkey Forest saja, karena pura  berdiri di kawasan  hutan di sana. Jika mencari dari Pusat Kota Denpasar hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit. Dari Patung Barong Batubulan tempuh jalur jalan   lurus ke utara menuju arah Monkey Forest, Desa Padangtegal, Kecamatan Ubud.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia