Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Bayi dari Keluarga Miskin Alami Kelainan Kelenjar Getah Bening

13 Agustus 2019, 18: 50: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bayi dari Keluarga Miskin Alami Kelainan Kelenjar Getah Bening

MISKIN: Kondisi bayi yang mengalami kelainan kelenjar getah bening. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SERIRIT - Setiap orang tua pasti menginginkan buah hati yang lahir sehat dan normal. Namun kenyataan pahit justru diterima pasutri miskin bernama Komang Yobi Suarjaya, 21 dan Tati Umiyati 21. Buah hati pasutri asal Banjar Dinas Purwa, Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Buleleng mengalami kelainan kelenjar getah bening hingga bengkak pada pipi bagian kiri.

Sejatinya, bayi malang tersebut sudah didiagnosis mengalami kelainan kelenjar getah bening sejak dalam kandungan. Sayangnya, kondisi ekonomi pasutri yang paspasan membuatnya tak berdaya. Mirisnya lagi, sejak keluar dari RSUP Sanglah Denpasar dua pekan lalu pasca operasi cesar, bayi malang itu belum tersentuh perawatan medis.

Kondisi inipun kian diperparah lantaran orangtua bayi itu, tidak mengantongi jaminan kesehatan dalam bentuk apapun. Mengingat, mereka saat ini masih belum memiliki Kartu Keluarga (KK) yang menjadi syarat dasar untuk mengurus administrasi kependudukan.

"Dua minggu sejak keluar dari rumah sakit anak saya belum tersentuh tindakan medis, cuma diberikan ASI dan beruntung tidak rewel," ujar Komang Yobi, Selasa (13/8) siang.

Komang Yobi  menceritakan, kelainan yang diderita anaknya sesungguhnya sudah terlihat dalam kandungan. Dimana, terlihat ada benjolan pada pipi kiri saat dilakukan USG pada usia kehamilan 5 bulan. Saat memasuki masa lahiran, Yobi dan istrinya Tati bahkan sempat mendatangi sejumlah klinik bersalin, namun semua tidak berani mengambil resiko.

" Memang ada catatan dalam buku kontrol kehamilan anak saya yang menerangkan kondisi bayi dalam kandungan, sehingga semua yang didatangi malah menolak untuk menangani kelahiran istri saya," tutur Komang Yobi.

Dari penjelasan medis yang ia terima, sang buah hati mengalami kelainan sejak dalam kandungan akibat terinfeksi bakteri, sehingga berimbas pada perkembangan bayi. Sejak itulah ia membawa istrinya ke RSUP Sanglah Denpasar untuk dilakukan operasi cesar. Benar saja, ketika anaknya lahir, mulai terlihat ada benjolan cukup besar pada bagian pipi kiri.

"Saya diminta pulang oleh dokter, untuk mempersiapkan tindakan medis bagi bayi karena memerlukan biaya cukup besar. Karena diketahui saya tidak punya jaminan apapun, saya disarankan untuk mencari jaminan kesehatan berupa BPJS atau KIS, karena biaya pengobatan anaknya diperkirakan sangat besar," kata Komang Yobi.

Namun Sayang, setelah hampir dua pekan kembali kerumah, Komang Yobi belum menemukan solusi terkait kondisi keluarganya. Bahkan ia mengaku, tidak tahu cara mendapatkan layanan jaminan kesehatan karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. "Saya hanya berharap agar anak saya segera mendapat perawatan, ditengah kondisi ekonomi saya begini," ujar Komang Yobi.

Kepala Dusun Purwa Desa Pengastulan, Ketut Sawir mengatakan, pihaknya bersama sejumlah karang taruna di Desa Pengastulan sudah turun tangan membantu. "Kami masih urus administrasinya, baik mulai KK ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta ke Dinas Sosial Buleleng, ya mudah-mudahan cepat selesai," jelas Sawir, didampingi Ketua Karang Taruna Puspita Samudra Desa Pengastulan, Putu Widiyasmita

Sembari menunggu proses administrasi rampung, bayi malang itu rencananya akan dibawa ke rumah sakit untuk bisa mendapat perawatan medis. Mengingat benjolan pada pipi kirinya yang saat ini sudah makin mengkhawatirkan. "Ini emergency makanya kami akan bawa dulu ke rumah sakit sambil menunggu petunjuk lebih lanjut dari petugas medis," pungkas Putu Widiyasmita. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia