Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Penyebab Kebakaran di Gunung Batukaru Belum Diketahui

13 Agustus 2019, 21: 12: 00 WIB | editor : Nyoman Suarna

Penyebab Kebakaran di Gunung Batukaru Belum Diketahui

PENDAKIAN: Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Toni Sri Artanto bersama personel Polres Tabanan dan BPBD Kabupaten Tabanan melakukan pendakian ke Gunung Batukaru, Selasa (13/8) pagi. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Munculnya titik api di sekitar puncak Gunung Batukaru, Tabanan sebelah barat sejak Senin petang (12/8) dipastikan merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu pun telah dipastikan oleh BNPB.

Berdasarkan laporan Pusdalops BNPB, api membakar kawasan hutan dan lahan seluas 300 m2 dengan dua titik api di dua lokasi berbeda di sekitar puncak. Namun Selasa (13/8) sekitar pukul 07.00 Wita, api telah berhasil dipadamkan oleh personel gabungan.

BPNB pun mengklain jika kronologi terjadinya kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan. Namun sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban jiwa. Sedangkan kerugian yang disebabkan oleh peristiwa tersebut masih dalam proses pendataan.

Adapun tim gabungan yang turun langsung berjumlah 99 personel yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan, TNI, Polri, SAR dan Orari. Tim juga menyiagakan satu mobil pemadam kebakaran di kaki Gunung Batukaru sebagai bagian dari upaya pemadaman. 

Bendesa Adat Wangaya Gede I Ketut Sucipto menjelaskan bahwa pada Senin malam ada sekitar 60 orang warga Desa Wangaya Gede yang naik ke lokasi kebakaran dengan berjalan kaki dalam estimasi waktu sekitar enam jam. Namun Selasa pagi, sudah turun beberapa orang dan tersisa 18 orang di lokasi masih berupaya memadamkan bara api. "Kemarin naik 60 orang dari Wangaya Gede, sekarang sudah turun melalui Desa Pujungan dan masih disana 18 orang warga dari Wangaya Gede, nanti akan bergantian dengan kelompok lain, menurut informasi warga yang naik kebakaran yang terjadi cukup luas, sampai sekitar 1,5 hektar," ujarnya.

Meskipun demikian pihaknya memastikan pelinggih di Pura Puncak Kedaton aman dari kobaran api. "Posisi api sekitar 150 meter barat daya Bale Semanggen, terdapat 3 Pelinggih serta di Utama Mandala terdapat Pelinggih Bebaturan, semuanya aman jauh dari api," tegas pria yang akrab disapa Pak Bintang tersebut.

Warga yang sempat naik juga menginformasikan jika api cukup sulit dipadamkan karena banyak tumbuhan paku mas yang kering dilokasi, di samping itu angin berhembus cukup kencang. "Warga memadamkan api dengan ngelempagin, jadi dibuatkan lubang-lubang," imbuhnya.

Ia menambahkan jika Senin malam  sejumlah pejabat datang langsung ke Pura Luhur Batukaru untuk melakukan peninjauan mulai dari Kalaksa BPBD Provinsi Bali Made Rentin, Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya,  Sekda Tabanan I Gede Susila, Asisten II, Wakapolres, Camat Penebel, dan serta dari unsur Relawan (ORARI dan RAPI). 

BPBD Provinsi Bali pun akan mengirim beberapa bantuan logistik untuk kebutuhan masyarakat dan petugas pemadam, juga dukungan APD (alat pelindung diri) berupa masker serta peralatan pemadaman api seperti cangkul dan sabit yang dipergunakan untuk memutus semak agar api tidak meluas. 

Untuk mengetahui situasi terkini, Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Toni Sri Artanto langsung melakukan pendakian Selasa (13/8) pagi bersama masyarakat setempat disusul personel dari Polres Tabanan dan BPBD Kabupaten Tabanan.

Saat sampai di lokasi, kobaran api sudah mulai berkurang dan berangsur padam namun bara api masih menyala dan angin di atas puncak sangat kencang sehingga bara api susah dimatikan. Apalagi posisi kebakaran sangat terjal, menyulitkan tim memadamkannya karena akar tanaman paku mas sangat tebal sehingga api masuk ke dalam.

"Sebab-sebab kebakaran belum diketahui, upaya pemadaman selain dari Jalur Wangaya Gede juga dilaksanakan oleh warga dan relawan Desa Pujungan dari jalur Pujungan, Kecamatan Pupuan, saat ini api sudah padam, tinggal bara-bara kecil yang perlu dituntaskan" tegas Letkol Inf Hartanto.

Gunung Batukaru dengan tinggi 2.276 m dpl ini merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Agung di Bali. Terkait dengan jalur pendakian yang ada di kawasan ini, dapat dicapai dari Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel (840 mdpl), Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel (835 mdpl) dan  Desa Pujuangan, Kecamatan Pupuan (1.090 mdpl). 

Sementara itu, menurut salah seorang sumber di lapangan, selain faktor alam yakni kekeringan yang cukup panjang, ada dugaan jika kebakaran yang terjadi disebabkan karena ulah manusia atau ulah pendaki yang sengaja atau tidak sengaja menimbulkan api. "Mungkin ada pendaki yang membuang puntung rokok atau membuat api unggun, dengan tidak disengaja, tetapi ini hanya dugaan. Ya faktor sekala niskala lah,"  ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.

Namun untuk mengantisipasi hal tersebut, aparat desa telah memasang papan pengumuman di sejumlah titik berupa hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan jika ingin mendaki. "Di samping itu, kondisi pendaki wanita yang datang bulan atau ada perkataan pendaki yang kotor, kita kan tidak tahu. Sedangkan kita ketahui Gunung Batukaru sangat sakral," imbuh sumber.

Maka dari itu, setiap ada pendaki, aparat desa setempat akan meminta identitas serta nomor telepon dari pendaki untuk mempermudah koordinasi. "Aparat akan mengingatkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Lalu aparat desa akan meminta identitas pendaki serta nomor Hp agar mudah berkoordinasi apabila terjadi suatu hal," tandasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia