Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Desa Adat Jenah Dievaluasi Tim Sabha Upadesa

13 Agustus 2019, 22: 18: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

Desa Adat Jenah Dievaluasi Tim Sabha Upadesa

DIEVALUASI: Desa Adat Jenah sebagai wakil Kecamatan Denpasar Utara, Selasa (13/8) dievaluasi Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Desa Adat Jenah sebagai wakil Kecamatan Denpasar Utara dievaluasi oleh Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar, serangkaian evaluasi pembinaan penataan desa pakraman tingkat Kota Denpasar tahun 2019. Kegiatan dilaksanakan, Selasa (13/8) di Wantilan Pura Dalem Lan Kahyangan Desa Adat Jenah, Denpasar Utara. Evaluasi ini juga bertepatan dengan karya piodalan di pura setempat. 

Evaluasi Desa Adat Jenah ini dihadiri Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara, sekaligus membuka acara tersebut. Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan Denpasar IGN Bagus Mataram, Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra, Ketua Tim Panureksa Sabha Upadesa Kota Denpasar I Wayan Butuantara, Bendesa Adat Jenah I Ketut Seniarta, serta sejumlah tokoh masyarakat dan adat lainnya.

Sekda Rai Iswara dalam kesempatan tersebut mengatakan, harus dipahami kehidupan, kekuatan serta visi Kota Denpasar yang berwawasan kebudayaan yang memiliki akar rumput di desa adat. Maka dari itu, keberadaan desa adat harus senantiasa disiram, dipelihara dan dipupuk melalui tuntunan sarana mengembangkan diri dalam bentuk evaluasi lomba.

 “Dalam lomba ini, yang jadi tujuannya tidak hanya juara. Tapi sejauh mana terbangun apa yang harus dikerjakan ke depan dalam membangun dan sosialisasi diri. Tentu harapannya kualitas desa adat dapat dikembangkan sebagai penuntun, serta diberikan arahan yang tepat,” ucap Sekda Rai Iswara.

Sementara itu, Butuantara mengatakan, kegiatan evaluiasi lomba pembinaan penataan desa pakraman dilaksanakan di masing-masing kecamatan di Denpasar. Tujuannya memberi pembinaan kepada desa pakraman untuk meningkatkan peran sertanya dalam menggali, melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Bali. 

“Dari kegiatan evaluasi ini, yang dinilai adalah unsur Tri Hita Karana, yaitu pawongan, palemahan dan parahyangan di masing-masing desa pakraman Denpasar yang merupakan titik pertemuan masyarakat Bali untuk mencari nafkah. Jadi, dengan pembinaan ini, diharapkan kebudayaan bisa tetap dipertahankan,” ucapnya.

Selain itu, juga untuk meningkatkan ketahanan sebuah desa pakraman. Sebab indentitas budaya yang ada tidak akan hilang begitu saja, apabila dirawat, dipertahankan dan diteruskan oleh generasi muda pada masa yang akan datang.

(bx/wid/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia