Selasa, 20 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pande Liawan Kembangkan Alat Pengubah Air Jadi Sumber Api

14 Agustus 2019, 09: 19: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pande Liawan Kembangkan Alat Pengubah Air Jadi Sumber Api

MENARIK: Pande Ketut Bangbang Liawan menunjukkan cara kerja alat yang dia kembangkan, Selasa (13/8) di bengkel kerjanya di Banjar Kawan, Kelurahan Kawan, Bangli. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Penggunaan energi berbahan fosil, tentu saja akan berdampak pada kelangsungan ekosistem. Bahkan bahan bakar tersebut akan hilang seiring penggunaan yang berlangsung lama. Berangkat dari keprihatinan tersebut, warga Kawan, Kelurahan Kawan, Bangli, Bali, bernama Pande Ketut Bangbang Liawan, akhirnya mengembangkan alat yang mampu mengubah air menjadi sumber energi terbarukan pengganti fosil.

Pria lulusan Seni Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini pun mengharapkan bantuan pemerintah soal hak paten. Meski dirinya mengakui bahwa alat yang dia kembangkan murni bukan hasil ciptaan pertama kali, melainkan hasil pengembangan.

Siapa pun tidak menyangka, bahwa air mampu menjadi bahan bakar. Menariknya, alat yang berhubungan dengan kelistrikan sangat mustahil dikembangkan oleh orang berlatar pendidikan seni. Seperti Liawan ini.

Ditemui Selasa (13/8), menurut Liawan, selama ini masyarakat mengenal minyak maupun gas sebagai sumber energi untuk mesin. Tapi bagaimana kalau air ternyata mampu menghasilkan api?

Dengan bermodal Rp 500 ribu, Pande Ketut Bangbang Liawan yang akrab disapa Pande Liawan ini berhasil mengembangkan pemanas berbahan alat-alat las. Alat yang dipakai pun terbilang sederhana. Dengan memanfaatkan pipa, tabung kaca, selang, dan beberapa alat pendukung sebagai reaktor.

Mahakarya Pande ini hanya diproduksi untuk penghangat kandang ayam. Yang mana pemesannya adalah peternak di Bangli. Kemudian, dia mencoba mengembangkan temuannya agar bisa bermanfaat lebih luas, semisal memasak.

"Saya coba membuat alat ini otodidak. Melihat bantuan dari internet, youtube, dan banyak sumber lain lagi. Saya coba-coba dalam tiga kali percobaan," kata Pande ditemui di bengkel kerjanya.

Ayah lima anak ini menuturkan, mesin pemanas berbahan air ini pernah meledak saat dilakukan uji coba pertama. Demikian pula pada percobaan kedua. Liawan menegaskan alat tersebut tidak berbahaya, begitu saat meledak, ledakannya tidak mencelakakan karena bahan bakarnya air. Selama proses percobaan, alat tersebut rampung dalam waktu tiga hari.

Meski mengaku kesulitan saat menggabungkan berbagai teknik, namun alat itu berhasil. Dirinya bangga karena mampu membuktikan bahwa air dapat mengganti sumber energi berbahan fosil. Dia mengakui, beragam teknik dan teori dia peroleh saat duduk di bangku SMA. Kemudian berkembang dari mencari informasi di beberapa artikel melalui internet.

Dia menambahkan, alat pengubah air menjadi bahan bakar ini, dibuat dengan bahan-bahan sederhana. Di antaranya dua tabung pipa paralon sebagai reaktor. Tabung kaca sebagai penampung air, dan selang untuk penyalur hidrogen. Kemudian hasil reaksi air tersebut menuju ke sumbu sehingga menciptakan api.

Dibutuhkan zat percepatan reaksi kimia berupa katalis. Katalis terdiri atas garam, potasium, soda kue sebagai zat pembentuk laju reaksi kimia. Pande juga menggunakan amperemeter untuk mengukur besar api.

Setelah semua bahan siap, tabung kaca diisi air. Air sebagai sumber utama dicampur katalis. Selanjutnya tabung reaktor dialiri listrik direct current (DC) sebagai sumber energi reaktor. "Campuran itu berupa penguraian oksigen dan hidrogen menjadi sumber energi baru. Memang perlu memurnikan dulu lewat air sebelum akhirnya bisa dipakai," paparnya.

Dia mengakui, alat buatannya hanya dipakai di rumah. Soal merambah pasar lebih luas, Pande enggan berkomentar. Saat ini yang diperlukan adalah bantuan pemerintah untuk memudahkan kepengurusan hak paten.

Jika sudah memiliki hak paten, Pande pasti akan mengorbitkannya. "Ini kan bagus. Selain ramah lingkungan, secara biaya sangat irit. Kalau mau irit, jawabannya ya salah satunya pakai bahan bakar air," tegas Alumnus SMAN 1 Bangli ini.

Di samping itu, Pande Liawan ingin alatnya diperbarui. Sementara saat ini yang dipakai masih alat sederhana. Pertimbangannya tentu keamanan dan ketahanan produk tersebut. "Ya sementara dipakai di rumah saja. Suatu saat pasti saya kembangkan lagi," kata Pande.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia