Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Kawitan Penataran Pande Kori Batu

Tempat Tes Keaslian Trah Pande, Air Batu Pangecoban Bisa Jadi Obat

14 Agustus 2019, 09: 36: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tempat Tes Keaslian Trah Pande, Air Batu Pangecoban Bisa Jadi Obat

BATU: Batu Pangecoban menjadi tempat tirta yang juga diyakini bisa sembuhkan penyakit. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Keluarga trah Pande mungkin tidak asing lagi dengan Pura Kawitan Penataran Pande Kori Batu. Nama pura tersebut juga sama dengan nama banjar tempat berdirinya pura, yakni di Banjar Jelantik Kori Batu. Apa uniknya pura di Desa Tojan, Klungkung tersebut?

Salah satu panglingsir trah Pande I Wayan Togig tak berani memastikan hubungan nama pura dengan nama daerah tersebut. Pria berusia lebih dari 70 tahun itu sebatas mengungkapkan terkait keberadaan Pura Kawitan Penataran Pande Kori Batu. Pangempon pura adalah seluruh warga Pande. Pujawali dilaksanakan setiap enam bulan selama dua hari, bertepatan dengan Tumpek Landep. 

Tempat Tes Keaslian Trah Pande, Air Batu Pangecoban Bisa Jadi Obat

PINTU: Pintu Kori Batu tak sembarang orang bisa menutup maupun membukanya, bila tidak berasal dari trah Pande. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

“Setiap piodalan, pamedek Pande datang dari seluruh Bali,” tutur Togig, seraya menunjukkan areal suci sekitar tujuh are itu, ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini. Terdapat 11 palinggih yang sebagian besar sudah pernah direnovasi, namun tetap diupayakan dengan ornamen seperti zaman dulu. Ukiran palinggihnya masih berupa ukiran khas Bali.


Terlepas dari renovasi pura tersebut, ada salah satu  bagian yang tidak pernah direnovasi, yaitu Kori Batu. Dalam Bahasa Indonesia, Kori berarti pintu. Jadi, Kori Batu adalah pintu terbuat dari batu. Dua daun pintu batu tersebut terdapat di pintu masuk utama, berada di timur. Masing-masing dengan panjang sekitar dua meter lebih, lebarnya sekitar 50 sentimeter. Layaknya pintu Bali, pada Kori Batu terdapat ukiran Dewa Brahma dan Dewa Siwa yang letaknya sesuai pangider-ider.

“Kori ini terbuat dari dua buah batu. Karena ada Kori Batu ini, nama puranya Penataran Pande Kori Batu. Ada yang menyebut Kuri, ada juga Kori. Itu soal penyebutan saja,” jelas Togig yang rumahnya dekat dengan pura.


Berdasarkan petunjuk candra sangkala (angka tahun) berbentuk kepala, kuda dan tangan yang terdapat pada bagian atas kori, pura tersebut diperkirakan dibangun pada 1422 Masehi. Dalam Purana Raja Sesana, pura dibangun oleh Mpu Ngurah Lelumbang bersama putranya Sire Lurah Tusan Kepandean. Dalam purana itu, tutur Togig, pintu batu dibuat oleh Ki Pande Urip Besi. “Mengetahui kapan pura itu dibuat setelah saya tanyakan ke Balai Peninggalan Purbakala. Ternyata ada petunjuknya di atas pintu,” katanya.


Tak hanya unik dari bentuk fisiknya.  Keberadaan kori itu juga penuh cerita unik. Sempat pintu masuk pura akan dipindah ke selatan sekitar 1952. Tentunya dengan memindahkan Kori Batu. Ternyata ada krama karauhan (trance) yang menyatakan Kori Batu tidak boleh dipindah. “Akhirnya batal dipindahkan. Kori batu tetap di Timur sebagai pintu utama. Kami buat lagi pintu kecil di Selatan,” beber Togig.


Tak sembarang orang juga bisa menutup maupun membukanya. Pernah ada rombongan mahasiswa salah satu universitas di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) yang pernah membaca keunikan Kori Batu itu. Salah seorang dosennya berusaha mendorong sekuat tenaga. Dia ingin membuktikan cerita yang didengarnya. Ternyata tidak bisa bergeser. “Lalu saya suruh anak kecil keturunan Pande mencoba, malah dengan mudah bisa menutup dan membukanya,” kenang pria lima anak tersebut.


Pernah juga enam orang warga Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Karangasem, mencoba mendorong pintu tersebut karena yakin sebagai trah Pande. Namun tidak bisa. Padahal sebelum melakukannya sudah matur piuning di pura itu. Sempat ada rombongan dari Nusa Dua, Badung yang memang keturunan Pande mencobanya, dan dengan mudah pintu bergeser. Namun salah seorang pria yang masih satu rombongan dengan warga tersebut ternyata tidak bisa.

“Sempat mengaku bapak dan anak dari Nusa Dua. Bapaknya bisa mendorong pintu. Ternyata yang dikatakan anaknya tidak bisa. Setelah saya tanya baik-baik ternyata itu calon menantunya bukan trah Pande,” ungkap Togig, lalu terkekeh.

Melihat sederet kejadian itu, ia menyimpulkan bahwa Kori Batu bisa digunakan menguji ke-Pande-an seseorang. Kalau sudah trah Pande akan dengan mudah menggesernya. Hanya saja, sejak lama satu Kori Batu tidak bisa ditutp karena sudah retak-retak.   “Walaupun retak, kami tidak berani menggantinya,” tandas perajin bokor tersebut.


Selain Kori Batu, masih ada dua peninggalan yang dilestarikan, yaitu Toya Taneg terbuat dari batu, dan Batu Pangecoban. Toya Taneg merupakan tempat menyimpan toya anyar (air baru). Sedangkan Batu Pengecoban adalah tempat tirta (air suci). “Trah Pande tidak asing dengan Batu Pangecoban. Bagi mereka yang masih aktif sebagai Pande atau perajin besi dan lainnya, pasti punya Pangecoban,” ujar Togig.

Tentunya, tegas Togig, Batu Pangecoban di pura berbeda fungsi dengan yang dimiliki warga Pande. Batu Pangecoban di pura tersebut diperkirakan bersamaan dengan dibangunnya pura. “Batu Pangecoban di pura ini tempat tirta,” jelasnya.


Berdasarkan kepercayaan, tirta tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Menurut Togig, beberapa orang telah membuktikannya. Tidak terbatas pada keturunan Pande. Pernah ada seorang pria dari Desa Akah, Klungkung datang nunas tirta karena istrinya gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Saat itu, istrinya tidak ikut ke pura. Setelah diperciki tirta di rumahnya, ternyata sembuh. “Saya tahu dia sembuh karena datang, nangkil ke pura. Katanya sudah sembuh. Selain itu, ada warga yang lain juga sembuh. Itu kepercayaan,” tandasnya.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia