Sabtu, 21 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kerap Pukul Anak Didik, Wali Kelas Dilaporkan ke Disdikpora

15 Agustus 2019, 09: 10: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kerap Pukul Anak Didik, Wali Kelas Dilaporkan ke Disdikpora

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Dunia pendidikan di Buleleng kembali tercoreng oleh oknum guru yang melakukan kasus kekerasan terhadap anak didik. Kali ini guru berinisial FN yang juga wali kelas sebuah sekolah SD di  Sinabun,  Kecamatan Sawan dilaporkan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng oleh pihak komite. Usut-punya usut, FN diduga kerap memukuli siswanya. Para orang tua pun berharap sang wali kelas segera dimutasi.

Ketua Komite SDN 2 Sinabun, I Nyoman Supartha saat dikonfirmasi, Rabu (14/8) menjelaskan, sedikitnya ada 10 siswa yang menjadi korban kekerasan FN. Aksi kekerasan ini dilakukan  FN sejak satu tahun belakangan ini.

Korban terakhirnya adalah Wira, 10. Siswa yang kini duduk di bangku kelas III itu dipukul oleh FN dengan menggunakan tongkat sapu. Akibat tindak kekerasan itu, Wira mengalami luka lebam di bagian bahunya.

Tak terima buah hatinya dipukul, orangtua Wira pun keberatan dan melayangkan protes. Namun, FN berdalih bahwa tindakannya memukul siswa itu sebagai bentuk kasih sayang. Rupanya proses mediasi atas kasus kekerasan yang dilakukan FN dengan pihak orangtua, sebut Supartha, sudah sering dilakukan.

Terlebih, FN sudah pernah membuat surat pernyataan. Intinya tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Namun nyatanya, FN kembali mengulangi perbuatannya, dengan memukuli anak didiknya.

"Kami selaku komite mencoba memfasilitasi masukan-masukan dari orangtua murid, dengan menyampaikannya ke Dinas Pendidikan. Karena dampaknya, banyak murid jadi trauma," katanya.

Namun dari hasil mediasi, para orangtua siswa meminta agar FN tidak lagi mengajar di SDN 2 Sinabun. Oleh sebab itu, pihak komite mencoba melaporkan hal ini ke Disdikpora agar segera ditindaklanjuti.

"Kami selaku pengurus hanya memediasi keluhan orangtua siswa. Biar anak-anak kami juga mendapatkan pendidikan yang layak dan nyaman. Tidak ada ketakutan untuk sekolah. Dari orangtua menghendaki agar FN dipindahkan dari SDN 2 Sinabun," terangnya.

Dikatakan Supartha, aksi kekerasan yang dilakukan FN juga dipicu lantaran kondisi kelas yang mengalami over kapasitas. Dimana jumlah siswa kelas III di SDN 2 Sinabun mencapai 49 orang.

Lanjut Supartha, sejatinya angkatan kelas III saat masih duduk dibangku kelas I dan II terbagi dalam dua kelas. Hanya saja, saat masuk ke kelas III, siswa-siswa itu terpaksa digabung menjadi satu kelas, lantaran adanya perpindahan tenaga guru pengajar. Akibat over kapasitas ini, proses belajar-mengajar antara guru dan murid pun menjadi tidak nyaman.

Di sisi lain, Koordinator Wilayah Sawan, Luh Amani memastikan, sejak dimediasi Selasa (13/8), antara orangtua siswa dan FN sudah saling memaafkan. Surat perdamaian yang dibuat FN, sebut Amani, akan dijadikan sebagai dasar untuk mutasi nanti.  "Ya karena muridnya banyak sekali. Sudah saling memaafkan. Sudah buat surat perdamaian. Jadi sudah tidak ada masalah," ucapnya.

Terkait over kapasitas, Armani sudah menyampaikan kepada Disdikpora untuk segera dicarikan solusi penambahan guru."Saya sudah berulang kali sampaikan ke guru-guru,  kalau emosi keluar lah dulu. Minum air, tenangkan diri, jangan sampai terpancing emosinya. Ya mungkin karena kebanyakan murid, gurunya jadi stres," tutupnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disdikpora Buleleng, Gde Dharmaja justru mengaku belum mengetahui adanya laporan dari komite SDN 2 Sinabun. "Terus terang,  saya belum tahu. Nanti coba saya cek dulu laporannya," singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia