Sabtu, 21 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Pinge Maksimalkan Potensi Desa Agraris Jadi Daya Tarik Wisatawan

16 Agustus 2019, 07: 12: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pinge Maksimalkan Potensi Desa Agraris Jadi Daya Tarik Wisatawan

AKTIVITAS: Aktivitas keseharian petani di Desa Pinge dijadikan daya tarik wisatawan, selain kehidupan adat dan budayanya. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Perkembangan Desa Wisata di Bali sangat pesat. Berbagai atraksi dan potensi desa yang ada dikembangkan. Selain untuk menarik minat wisatawan, juga sebagai salah satu upaya untuk melestarikan kearifan lokal, seperti yang dilakukan Desa Pinge di Kecamatan Marga, Tabanan. 

Selain memiliki potensi alam yang mendukung aktivitas wisata, Desa Pinge juga memiliki berbagai atraksi yang menjadi daya tarik wisatawan.

Ketua Pengelola Desa Wisata Pinge, AA Ngurah Putra Arimbawa menjelaskan, potensi alam yang ada menjadi daya tarik dari Desa Wisata Pinge. "Aktivitas agraris dari masyarakat Desa Pinge juga menjadi salah satu atraksi wisata andalan kami," terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) baru baru ini.

Salah satu  aktivitas wisata yang dilakukan di Desa Pinge  adalah trekking. Jalur trekkingnya  menarik, karena melintasi areal persawahan yang ada di Desa Pinge. 


Menjelajahi areal persawahan, wisatawan tidak saja disuguhkan pemandangan sawah semata, tapi juga beragam jenis aktivitas pertanian yang dilakukan petani yang masih menggunakan cara-cara tradisional. 


Selain itu, wisatawan juga bisa melihat areal pertanian di lahan kering yang ditanami  beberapa tanaman musiman, seperti kakao, bunga gemitir hingga sayur mayur.


Diakui Putra, di ladang gumitir biasanya menjadi objek selfie bagi wistawan, khususnya ketika bunga gumitir mekar. "Ketika bunga gumitir mekar sempurna, maka lokasi ini menjadi tempat selfie favorit wisatawan," lanjutnya.


Selain melihat areal persawahan, wisatawan juga akan diajak melihat Pura Subak yang menjadi tempat petani melaksanakan berbagai ritual terkait dengan pertanian.


Di Desa Pinge terdapat tiga Pura Subak, yakni Subak Pacung, Baluan, dan Pengilen.
Biasanya aktivitas trekking ini dilakukan pagi hari atau sore hari. Ketika aktivitas trekking dilkukan pagi hari, biasanya paket trekking dimulai dengan sarapan pagi. Setelah sarapan, aktivitas  baru dilanjutkan dengan trekking. Sedangkan pada sore hari, setelah trekking kegitan akan ditutup dengan makan malam.


Selain trekking, Desa Pinge juga memiliki beragam atraksi wisata yang bisa dinikmati  wisatawan, yakni membuat lawar (ngalawar), bikin satr (nyate), menari Bali, mengukir hingga menonton tarian tradisional khas Desa Pinge, tari Joged Gebyog. "Tarian ini awalnya tarian sakral, hanya boleh ditarikan gadis yang belum datang bulan. Kemudian sedikit dimodifikasi menjadi tarian komersial, agar bisa dinikmati turis," papar Putra.


Atraksi wisata lain yang juga bisa dilihat  adalah kegiatan menumbuk padi menggunakan lesung dan alu. Atraksi ini, dikui Putra memng tidak setiap hari dilakukan. Aktraksi wisata tersebut baru akan dilakukan, jika ada pesanan dari wisatawan. Namun demikian, ketika wisatawan  yang datang  tidak melakukan reservasi, wisatawan bisa menikmati keindahan Desa Pinge dengan melakukan trekking. Untuk aktivitas ini, wisatawan akan ditemani guide lokal yang setiap hari bertugas.


Meskipun tidak ada atraksi, namun wisatawan  tidak perlu khawatir dengan ketersediaan makanan. Di Desa Pinge terdapat warung makan yang menyediakan menu makanan khas Bali yang dikelola oleh warga lokal. "Bagi wisatawan yang ingin menikmati air kelapa, kami selalu menyediakan kelapa segar," ungkapnya.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia