Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Melihat Bukti Jejak Historis Desa Adat Gerih Sebagai Desa Tua

16 Agustus 2019, 07: 43: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Melihat Bukti Jejak Historis Desa Adat Gerih Sebagai Desa Tua

BARAT: Gua dengan tulisan aksara Bali yang ada di sebelah barat Sungai Ayung. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Desa Adat Gerih, salah satu desa bersejarah. Banyak pura berarsitektur lampau yang berdiri di daerah Badung Utara ini. Bahkan, ada juga  peninggalan sejarah sebuah gua di tepi Sungai Ayung. 

Matahari belum nampak di ufuk timur ketika Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi sebuah desa di Kecamatan Abiansemal. Desa Adat Gerih namanya. Sebuah desa adat yang secara administrasi dinas masuk Desa Dinas Abiansemal. Perjalanan menuju ke desa yang berada di kawasan Badung Utara ini, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Kota Denpasar. Daerahnya berhawa sejuk karena  sisi kanan kiri jalan desa banyak pepohonan rindang. Koran ini disambut hangat mantan Bendesa Adat Desa Adat Gerih, Ketut Suma, ketika ditemui di rumahnya, Selasa (13/8) lalu.

Melihat Bukti Jejak Historis Desa Adat Gerih Sebagai Desa Tua

WAJAH: Di sebelah selatan kawasan Desa Gerih ada juga gua yang di sisi kanan dan kiri dinding ada ukiran wajah. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

“Gerih ini berasal dari Bahasa Sansekerta. Gerih, geria, graha dan pasraman, mempunyai arti yang sama, yakni tempat belajar tentang budaya Bali sebelum adanya tulisan latin masuk ke Nusantara,” ujar pria 72,  mengawali ceritanya tentang keberadaan Desa Adat Gerih. 

Dikatakan Ketut Suma, desa yang diapit oleh dua sungai, yakni Tukad (Sungai) Ayung dan Tukad Bangiang ini, termasuk kategori desa tua di Bali.  Pada masa Dalem Waturenggong, desa ini sudah berdiri. 


Ia menerangkan ada peninggalan kuno di desanya yang menjadi bukti bahwa Desa Gerih adalah desa tua. “Desa yang masuk kategori tua, biasanya juga memiliki hutan di kawasan tengah desa. Dulu hutan di Desa Gerih ini ada di utara sana, yang kini ada  SD 1 dan 5 Abiansemal,” terangnya bersemangat.

Melihat Bukti Jejak Historis Desa Adat Gerih Sebagai Desa Tua

KOLAM: Palinggih kuno dibangun di tengah kolam yang terlihat berarsitektur lama. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Selain itu, lanjutnya,  membangun palinggih di sini berpedoman pada lontar Bhama Kertih. Kemudian dikerjakan, memuliakan Sad Kertih Lokha, yaitu enam simbol dalam memuliakan bumi untuk menjaga keharmonisan alam. Keenam itu, pertama Jagat atau Gumi yang disimbolkan dengan keberadaan Pura Desa, kemudian yang kedua adalah Danu yang disimbolkan dengan berdirinya Pura Batur. Ketiga adalah Segara yang disimbolkan dengan adanya Pura Ulun Segara. Keempat adalah Gunung, yakni dengan adanya Pura Gunung Batur. 


Selanjutnya yang kelima ada Wana, yakni keberadaan Pura Besakih. Terakhir adalah Atmanasti, yakni keberadaan Pura Dalem. “Kesemua pura itu ada di Desa Adat Gerih,” ungkapnya sambil menyeruput kopinya.


Dijelaskannya, Desa Adat Gerih berbatasan langsung dengan beberapa desa, yakni di Utara Desa Adat Abiansemal. Di Timur ada Desa Adat Mambal dan Sibang Kaja. “Di Selatan ada Desa Adat Tegal dan Barat ada Desa Adat Penarungan,” ucap Ketut Suma sambil menuliskan nama desa tersebut.

Melihat Bukti Jejak Historis Desa Adat Gerih Sebagai Desa Tua

TUA: Desa Gerih dikategorikan sebagai desa tua, salah satu buktinya memiliki hutan di tengah desa. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

“Desa Adat Gerih juga memiliki dua banjar, yakni Banjar Purwa Kertha dan Bajar Dirgahayu,” tambahnya lagi.


Usai menerangkan sedikit tentang Desa Adat Gerih, Ketut Suma kemudian mengajak berkeliling desa untuk melihat pura dan peningalan sejarah di Desa Adat Gerih. Beliau pun mulai mengajak melihat hutan yang kini berubah menjadi sekolah dasar. Di sana dia  menunjukkan Pura Gunung Agung yang memiliki arsitektur masa lampau yang terletak di selah kiri jalan. 


Berlanjut kemudian melihat sebuah pura yang ada pemandiannya. Pura ini  menakjubkan  karena palinggih terletak di tengah kolam yang terlihat juga berarsitektur lama. Selain itu, pura ini juga terletak dekat dengan Sungai Ayung di timurnya. Selanjutnya, Ketut Suma mengajak ke area di sisi Sungai Ayung. Di sinilah dia memperlihatkan peninggalan bersejarah di Desa Adat Gerih. “Lihatlah ke atas di sana ada pura kuno,” pintanya.

Setelah menaiki sektar 20-an anak tangga, terlihat ada pura kuno dan sebuah pohon besar berdiri. Beliau tidak terlalu banyak bercerita tentang pura itu, namun kemudian kembali memperlihatkan peningalan bersejarah lainnya di Desa Adat Gerih. “Nah lihatlah dua buah gua ini. Dari sini kita bisa tahu bahwa Desa Adat Gerih adalah desa yang sudah ada pada masa lampau,” ujarnya.


Di gua sebelah utara terdapat ukiran tulisan akasara Bali. Tulisan itu pun bisa dibaca Gerih. “Gerih kan bacanya, menggunakan bisah di penulisannya,” ceritanya bersemangat.


Kemudian di gua di sebelah selatannya ada juga ukiran di dinding gua. Ukiran yang menyerupai wajah itu, ada di sisi kanan dan kiri bagian luar gua. Kedua ukiran wajah itu pun berbeda. Di dalamnya  seperti ada tempat sembahyang, karena  terlihat  masih ada bekas canang yang digunakan sembahyang. “Inilah jadi salah satu  tanda bahwa desa ini sudah ditempati dari masa lampau,” pungkasnya. (agus sueca merta)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia