Minggu, 22 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sampah Plastik Merajalela, Pemuda Bangli Sisir Danau Batur

18 Agustus 2019, 19: 37: 36 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sampah Plastik Merajalela,  Pemuda Bangli Sisir Danau Batur

SISIR DANAU: Pemuda Bangli yang tergabung dalam berbagai organisasi, melakukan pembersihan sempadan Danau Batur, Kintamani, Sabtu (17/8) sore. Kegiatan juga dirangkai pengibaran Merah Putih. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Sampah plastik yang mendera kelestarian Danau Batur di Kintamani menjadi persoalan yang tak pernah lekang. Itu terbukti setelah para pemuda Bangli yang tergabung di berbagai organisasi, melakukan bersih-bersih sampah plastik di sekitar danau, Sabtu (17/8) sore. Di tengah kondisi danau yang "sakit", timbulan sampah plastik di permukaan danau masih merajalela.

Puluhan orang yang dimotori DPK Peradah Indonesia Bangli bersama Bank Sampah Sibuh Nirmala, Sekaa Teruna Dharma Eka Paksi Desa Kedisan, dan Jegeg Bagus Bangli, menyisir pinggiran danau sepanjang 700 meter di sebelah utara Dermaga Kedisan, Desa Kedisan, Kintamani. Alhasil, belasan karung sampah berhasil dikumpulkan. 

Sampah tersebut bermacam-macam, seperti sisa plastik pertanian, sisa pembungkus detergen, botol plastik, hingga styrofoam. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan plastik sekali pakai, ditengarai menjadi penyebabnya. 

Gubernur Bali tahun lalu telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018, sebagai upaya membatasi timbulan sampah plastik sekali pakai. Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli I Ketut Eriadi Ariana pun berkomentar, perlu adanya solusi terbaik yang tegas dan terarah dari para pemegang kebijakan.

Khusus di Danau Batur, sebelum Pergub tersebut dikeluarkan, Bank Sampah Sibuh Nirmala Desa Kedisan beserta masyarakat sudah melakukan penyelamatan danau sejak 2016 lalu. Yang menjadi amat penting, garakan ini dilakukan secara swadaya. "Artinya, kesadaran tentang menjaga lingkungan sudah tersemai di masyarakat. Sekarang tinggal menjaga semangat ini dengan gerakan berkelanjutan. Kalangan muda jelas harus ambil bagian," tegas Eriadi.

Eri menambahkan, peneliti Universitas Udayana (Unud) menyatakan, Danau Batur sudah tercemar dan mendangkal. Baik karena efek dari pertanian maupun budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA). Untuk itu, perlu diambil langkah strategis, agar tak 'membunuh' salah satu, baik masyarakat petani, petani ikan, nelayan, juga bagi Danau Batur. 

Kata dia, penegakan aturan tentang sempadan danau tampaknya perlu diambil. Di sisi lain, pihaknya menyayangkan kondisi danau yang jauh berbeda dengan kondisinya beberapa tahun belakangan. "Kalau kita lihat sekarang, pesisir danau kini telah berlumpur. Beda jauh dengan puluhan tahun lalu yang masih bersih," sesalnya.

Persoalan kompleks yang mendera Danau Batur, membuat Bank Sampah Sibuh Nirmala Desa Kedisan konsisten melaksanakan bersih-bersih tiap pekan. Dari aktivitas rutin itu, bank sampah terbentuk dan kini dikomandani I Gede Putrayasa Tangkas. Sampah plastik dikumpulkan kemudian diolah. Sampah organik juga diolah menjadi kompos.

"Gerakan kami semata-mata hanya ingin meminimalisir masalah sampah. Jika sampah sampai mencemari danau, itu bisa menimbulkan masalah bukan hanya bagi penduduk sekitarnya, tapi juga bagi masyarakat Bali secara umum. Kalau berdoa saja, itu sama saja mubazir," tandas Gede Putrayasa.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia