Kamis, 19 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sejak Sebulan, Tiga Dusun di Kintamani Kesulitan Air Bersih

19 Agustus 2019, 19: 17: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sejak Sebulan, Tiga Dusun di Kintamani Kesulitan Air Bersih

PENAMPUNG AIR: Bak penampungan utama milik warga Dusun Munduk Waru, Desa Buahan, Kintamani diisi air oleh BPBD Bangli, Senin (19/8). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Warga Dusun Munduk Waru, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani berbondong-bondong mendatangi bak penampungan air utama, Senin (19/8). Sambil menjinjing ember berisi air, warga silih berganti meminta bantuan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli yang menyuplai air ke dusun tersebut.

Pendistribusian air dilakukan di tiga dusun di Desa Buahan, yakni Dusun Munduk Waru, Binyan, dan Tabih. BPBD Bangli menyuplai tiga tangki untuk tiga dusun. Satu tangki berisi 5.000 liter air.

Sudah hampir sebulan warga di Munduk Waru tidak mendapat air bersih. Warga tidak tahan berlama-lama didera kesusahan. Untuk memasak saja, warga tetap membeli air. Kondisi ini memang jadi cerita klasik tiap tahunnya.

Memasuki musim kemarau, warga di beberapa desa di Kecamatan Kintamani pasti sulit mendapat air bersih karena selama ini warga mengandalkan air hujan untuk stok. Mereka biasanya menampung air hujan di bak penampungan.

Sumber air memang jarang ditemukan di wilayah tersebut. Salah satu solusi yakni membeli air per tangki dengan harga kisaran Rp 200-250 ribu. Warga yang memiliki bak tentu bisa membeli air. Sebaliknya, warga yang tidak punya bak penampungan, terpaksa urunan dengan tetangga dan penggunaan airnya akan dibagi-bagi.

"Ada sekitar 171 jiwa di dusun kami atau 40 kepala keluarga. Kami sudah alami kekeringan dari bulan Juni. Biasanya sampai Oktober. Kalau ada hujan, ya beruntung bisa dapat air," kata Kepala Dusun Munduk Waru, Desa Buahan, I Nyoman Wedastra.

Kata Wedastra, distribusi air oleh BPBD Bangli diprioritaskan bagi warga yang tidak punya bak penampungan. Mereka bisa mengambil air di bak utama milik dusun. Sebab warga yang punya bak, masih bisa membeli air. Pun kalau air tersebut habis, semua warga bisa mengambil di bak utama. "Air disalurkan lewat pipa. Ada dua bak besar di sini," tambah Wedastra.

Menurut Perbekel Desa Buahan I Wayan Suardi, warga yang terdampak kekeringan bermukim di wilayah desa di atas perbukitan. Ada tiga dusun dengan jumlah warganya mencapai 325 kepala keluarga. Permintaan suplai air memang datang dari warga, kemudian pihaknya berkoordinasi dengan BPBD Bangli.

Suardi menambahkan, air akan dipakai untuk kebutuhan memasak hingga mandi. "Air tidak digunakan untuk kebutuhan ternak atau pertanian," tegasnya. 

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli I Ketut Agus Sutapa mengatakan, kekeringan tidak hanya terjadi di Buahan. Sejumlah desa sejak dulu memang akrab dengan kekeringan. Dia menegaskan, BPBD Bangli pada dasarnya selalu siap apabila ada permintaan suplai air dari masyarakat. "Kami akan upayakan pendistribusian air sepanjang diperlukan. Kami jamin kebutuhan warga tercukupi," pungkas Agus.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia