Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tari Baris Bugbug, Tersurat dalam Lontar Widisastra Roga Sanghara Bumi

20 Agustus 2019, 18: 49: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tari Baris Bugbug, Tersurat dalam Lontar Widisastra Roga Sanghara Bumi

SAKRAL: Pementasan tari Baris Bugbug di Pura Dalem Gede Selaungan, Cempaga, Bangli. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Tari Baris Bugbug  merupakan tari wali asli Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli. Tarian yang kini diberi nama Tari Baris Pugpug ini, menggunakan batang daun enau sebagai properti. Ini merupakan simbol penetralisasi yang dipercaya sebagai bentuk persatuan atau sarana pembentuk benteng secara niskala untuk menjauhkan masyarakat dari mala petaka maupun hal negatif lainnya.

Baris Bugbug termasuk tari baru yang dikonstruksi untuk keperluan pujawali di Pura Dalem Gede Selaungan, Bangli. Catatan terkait asal-usul tarian ini tersurat jelas di dalam lontar Widisastra Roga Sanghara Bumi. Dijelaskan, syarat untuk bisa melaksanakan pujawali secara lengkap, harus mementaskan tari Baris Bugbug atau Pugpug.


Namun, selama bertahun-tahun tarian ini tidak pernah dipentaskan karena memang belum tercipta. Inisiatif mengonstruksi tarian tersebut muncul setelah pemangku Dalem Gede Selaungan Sang Mangku Suryawan melakukan penyelidikan terhadap catatan-catatan pura. Atas dasar itu, tarian ini diciptakan.


Bendesa Adat Cempaga I Wayan Nyepeg kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menuturkan, setelah data-data didapat, pemangku mengundang tokoh adat di Cempaga untuk rembuk bersama. Adapun yang dibahas adalah langkah-langkah atau upaya konstruksi tari Baris Bugbug.


Tokoh adat dan beberapa pihak yang berkompeten diminta untuk menggali fakta-fakta tarian ini, sekaligus mencari sumber untuk bahan konstruksi. Tokoh adat juga mencari petunjuk hingga ke Geria Jasri di Desa Belega, Blahbatuh, Gianyar. Selanjutnya, berdasarkan hasil rembuk, tarian ini akhirnya dikonstruksi dengan melibatkan seniman asal Desa Bona, Gianyar sebagai penata tari dan tabuh.


Penari berjumlah 21 orang laki-laki dengan membawa senjata berupa tangkai daun enau. Berdasarkan catatan, tari Baris Bugbug adalah gambaran para Gandharwa-Gandharwi yang dalam lontar Gandharwa disebut sebagai penghibur para dewa di kahyangan. Sedangkan dalam konteks pujawali, Baris Bugbug dipentaskan untuk melengkapi sarana upacara.


Proses penciptaan tari dan tabuhnya membutuhkan waktu satu bulan. Setelah mantap, tari tersebut didemokan di hadapan tokoh adat. Karena dinyatakan sudah mengacu pada sastra, pakem tarian ini disepakati. Nyepeg mengakui, butuh waktu berbulan-bulan bagi pihaknya bersafari ke sejumlah tempat. Pihaknya bermaksud mencari tahu apakah tarian serupa dimiliki daerah lain atau tidak. Tokoh adat sampai melibatkan pakar budaya untuk melakukan penyelidikan.


Setelah memastikan tarian tidak dimiliki daerah lain, krama Cempaga, khususnya Banjar Pande punya kesempatan untuk mematenkan tarian ini. "Kami sudah urus soal hak patennya. Ada salah seorang warga kami yang bekerja di Jakarta untuk mengurusnya. Kami juga sudah cetak beberapa buku tentang tari Baris Bugbug," imbuhnya.


Tarian dipentaskan pada saat pujawali di Pura Dalem Gede Selaungan, yakni pada Buda Umanis Julungwangi. Syarat pertama sebelum dipentaskan, pangempon pura wajib menghaturkan sarana upacara berupa bebangkit sari. "Ada rentetan acara yang harus dilalui. Baris Bugbug dipentaskan pertama setelah bebangkit sari dipuja. Setelah itu ada pementasan tari wali lainnya," jelas Nyepeg.


Yang menarik dari pementasan, penonton tidak diperkenankan merekam atau memotret jalannya ritual atau pementasan. Menurut cerita Nyepeg, imbauan itu datang langsung dari pemangku pura Sang Mangku Suryawan. Namun dia tidak berani menjabarkan lebih detail maksud larangan tersebut, dan hanya mengisyaratkan bahwa hal tersebut adalah kehendak Ida Bhatara di Pura Dalem Selaungan.


Tari yang tergolong sakral ini kian menunjukkan aura kuat setelah dipentaskan 30 menit. Total durasi pementasan kurang satu jam. "Pokoknya apa yang kami rasakan memang tidak dibuat-buat. Silakan yang berbicara di luar tidak percaya. Tapi apa yang kami rasakan memang ada. Kami merinding," ungkapnya.


Jika ada salah satu yang imannya tidak kuat, maka dia akan kesurupan. Bisa penari, pangempon pura, atau krama lainnya. Ketika kesurupan, pemangku akan memercikkan air suci atau tirta. Yang menarik, pangempon pura akan menyediakan beberapa karung bunga gumitir untuk antisipasi menghadapi krama yang kesurupan. Sebab bunga gumitir dipakai sebagai sarana menetralisasi  orang yang tengah kesurupan. "Satu tas pun bisa habis. Bunga itu dimakan sampai sadar. Coba siapa yang mau makan bunga gumitir sebanyak itu saat dalam keadaan normal? Ini nyata," tegasnya lagi.

 
Usai pementasan, warga akan diberikan tirta untuk dipercikkan di area rumah. Sedangkan properti yang digunakan penari selanjutnya di-pralina. Nyepeg tidak menampik upaya konstruksi tari Pugpug menuai pro-kontra di desanya. Sebab, masih banyak yang belum memahami tujuan dan asal-usul penciptaan tarian ini. Meski begitu, kontra di masyarakat tidak begitu ekstrem dan Nyepeg memaklumi bahwa hal itu timbul atas dasar ketidaktahuan. "Sekarang warga memahami karena ini adalah pawisik (petunjuk) yang wajib diikuti," pungkasnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia