Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Pemandi dan Perias Jenazah

Praktik Pertama Kali, Tangani Jenazah Sang Ayah

21 Agustus 2019, 10: 18: 22 WIB | editor : I Putu Suyatra

Praktik Pertama Kali, Tangani Jenazah Sang Ayah

PULUHAN TAHUN: Christina Wulan Lolaen K, perias jenazah yang sudah 37 tahun menggeluti profesinya. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

Profesi memandikan jenazah adalah salah satu hal cukup unik digeluti oleh beberapa orang. Takut melihat jenazah yang kaku, atau kondisinya tidak baik seperti orang normal, menjadikan orang sering tidak terlalu tertarik akan profesi satu ini. Tentu persepsi tentang jenazah yang menyeramkan itu tidak berlaku bagi seorang perias jenazah “senior”, Cristina Wulan Lolaen K.

 

AGUS SUECA MERTA, Denpasar

MENULUSURI Jalan Ir. Ida Bagus Oka di selatan Kampus Universitas Udayana, Denpasar kita berbelok kekanan saat menemukan perempatan pertama hingga menemukan sebuah Taman Kanak-Kanak belok lagi ke kiri. Nantinya menemukan sebuah rumah di kiri jalan, di sanalah tinggal seorang wanita yang berprofesi sebagai perias jenazah yang dikenal banyak orang.

Wanita yang sudah tak muda kini itu masih ceria dengan senyumnya menyambut koran ini saat bertandang ke rumahnya. Dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya, dia mengajak duduk sambil mulai bercerita. “Siapa yang memberi tahu kalau saya perias jenazah,” tanyanya ramah.

Setelah tahu bahwa koran ini mendapat info dari salah satu rumah duka. Dia pun mulai bercerita tentang kisahnya menjadi pemandi sekaligus merias jenazah sejak tahun 1982 atau kurang lebih 37 tahun lalu. “Sudah lama sekali, saya menggelutinya, sambil juga merias orang biasa ya,” ucapnya tersenyum.

Awalnya dia bisa merias karena dia ikut komisi di gereja yakni komisi kedukaan. Dari sana dia mulai sedikit belajar tentang merias jenazah. Akhirnya sampai dia mulai mempraktikannya pertama kali dengan memberanikan diri untuk pertama memandikan jenazah secara langsung yakni jenazah almarhum ayahnya dulu. “Karena sebagai anaknya beliau, tentu hal yang wajar saya memandikan jenazah ayah saya. Dari sana pula akhirnya saya mulai terbiasa memandikan jenazah,” ujarnya saat ditemui koran ini di rumah.

Menurutnya ada beberapa proses yang ia siapkan saat akan memandikan jenazah, yakni masker, kacamata dan sarung tangan lateks. “Demi keamanan kita juga, kan kita tidak tahu persis riwayat jenazah ketika hidup, jadi standarnya pakai itu saja setiap memandikan jenazah,” terangnya sambil duduk santai.

Selanjutnya dia untuk sarana lainnya, normal seperti orang umumnya tahu, memandikan jenazah menggunakan sabun, shampoo dan alkohol minimal 70 persen dan kapas. “Alkoholnya sendiri minimal dua liter untuk membersihkan jenazah,” tambah perempuan paro baya ini.

Karena menggunakan formalin, jenazah sering mengeluarkan darah dari hidung, mulut bahkan telinga sehingga menurutnya itu harus diperhatikan kebersihannya ketika jenazah dimandikan. “Kotoran yang ada di perutnya pun harus kita keluarkan, karena sering kali daripada keluar sendiri, kan tidak enak rasanya dilihat ketika sudah bersih dimandikan kotorannya malah keluar,” ceritanya yang membuat dahi mengernyit mendengar hal itu.

“Kalau sudah selesai dimandikan, maka kita pijat-pijat juga agar jenazah, mulutnya tidak terbuka, bisa terlihat terseyum, kemudian dirias, dipakaikan lipstik juga namun, kalau saya merias inginnya wajah jenazah terlihat natural dan tidak menor. Khusus untuk perempuan alisnya kita buat terlihat bagus,” jelasnya sambil menunjuk ke alisnya.

Bagi ibu yang dikaruniai dua anak ini, memperlakukan jenazah harus dengan baik. Kondisi jenazah misalnya kecelakaan biasanya saat dia terima untuk dimandikan sudah dijarit dari rumah sakit. Luka akibat kecelakaan yang dijarit agar tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya. “Walaupun sudah dijarit oleh pihak medis, namun ternyata sering banyak darah masih keluar begitu saja mengalir. Nah di sini kita harus tahan mental, orang biasa mungkin bergidik melihatnya apalagi kalau kecelakaan fatal bisa saja mual,” urainya lagi.

“Darahnya kita bersihkan terlebi dahulu, pokoknya saat keluarga almarhum melihat jenazah keluarganya etelah dimandikan sudah tidak ada keluar darah lagi,” imbuh sambil menawarkan minum.

Dulu jika mendapat jenazah formalinnya menurutnya banyak tusukan jarum di paha, kaki dan lainnya, namun sekarang sudah dengan kemajuan zaman maka tinggal suntik dari pembuluh darah di atas mata kaki. “Dari sana, tukang suntik formalin memasukkan formalin secara secara terus-menerus sampai ada tanda di bagian dahinya kalau formalin sudah sampai bagian kepala jenazah. Nah sampai sana baru selesai,” jelasnya sambil menujukkan cara formalin dimasukkan. “Lebih gampang sekarang jadinya mengurus jenazah,” tambahnya lagi.

Menurut pengalamannya jenazah yang paling susah ditangani untuk dimandikan adalah jenazah orang yang meninggal akibat jatuh dan menyebabkan patah tulang hingga banyak banyak bagian. “Khusus memasukkan formalin untuk jenazah korban jatuh ini kita harus lebih hati-hati,” bebernya.

Kalau untuk jenazah yang tidak menggunakan formalin, maka bisa menggunakan dry ice. Menurutnya jenazah orang yang baru meninggal lebih mudah dimandikan karena, badan jenazahnya masih lemas alias belum kaku. “Biasanya jenazah orang yang meninggal ini dimandikan dulu baru dikasih dry ice,” terang wanita yang masih sangat aktif ini.

Ditanyai mengenai alasan dia tetap suka bekerja sebagai perias jenazah dia mengangapnya sebagai kerja sosial. “Saya melakukan kerja ini adalah untuk kerja sosial, mungkin ini juga jalan dari Tuhan sehingga sampai sekarang saya tetap bisa mengerjakannya. Pokoknya sampai semampu saya nantinya,” pungkasnya.(bersambung)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia