Senin, 16 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Mimisan: Tahu, Tindak, Cegah

Oleh: dr. Fanny Octavia

21 Agustus 2019, 19: 18: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mimisan: Tahu, Tindak, Cegah

dr. Fanny Octavia (ISTIMEWA)

Share this      

PADA anak-anak mimisan termasuk hal yang umum terjadi, meski kadang membuat orangtua bingung, bahkan panik. Faktanya, meski tampak sederhana dan tidak berbahaya, mimisan yang terjadi terus-menerus bisa menjadi tanda penyakit yang serius. Memang perlu waspada terutama jika mimisan sulit dihentikan. Mungkin itu bukan merupakan gejala kondisi ringan, misalnya gangguan pembekuan darah. Mimisan, dalam bahaya kedokteran disebut epistaksis, merupakan gejala suatu penyakit.

            Mimisan merupakan gejala keluarnya darah dari hidung yang dapat terjadi akibat kelainan lokal pada rongga hidung atau karena kelainan yang terjadi di tempat lain dari tubuh. Kelainan lokal dapat berupa trauma misalnya menggaruk dan mengorek hidung, terjatuh, terpukul, dan benda asing di hidung. Sebab lokal yang lain adalah infeksi hidung dan organ sekitarnya, tumor jinak dan ganas, perubahan lingkungan yang mendadak, misalnya perubahan suhu, perubahan tekanan atmosfer pada penerbang dan penyelam, dan penyebab yang belum diketahui. Kelainan di bagian tubuh yang lain yang bisa menyebabkan mimisan, antara lain penyakit jantung dan pembuluh darah seperti hipertensi dan kelainan pembuluh darah, kelainan darah seperti turunnya kadar trombosit, gangguan pembekuan darah, serta leukemia.

            Mimisan terjadi akibat anyaman jaringan pernbuluh darah ini memang yang sangat halus dan tipis pecah. Pada anak-anak, pembuluh ini mudah berdarah terutama kalau ada infeksi di hidung. Infeksi membuat pembuluh darah yang tipis ini melebar dan tersenggol sedikit saja akan mudah pecah. Perubahan cuaca dapat menyebabkan mimisan, cuaca dingin atau hujan menyebabkan hidung anak mengalami flu serta pembuluh darah di hidung melebar dan tipis. Sebagian besar mimisan pada anak tidak berbahaya. Selama anak terlihat sehat dan aktif, juga tidak disertai gejala lain seperti demam. Terjadinya pun umumnya spontan dan mudah berhenti. Mimisan umumnya berkurang sesuai pertambahan usia. Semakin tambah usia, pembuluh darah dan selaput lendir di hidung makin kuat, sehingga tak mudah berdarah. Meski mayoritas kasus mimisan tidak berbahaya, orangtua hendaknya waspada. Jika frekuensi mimisan cukup sering, tiap 1 atau 2 hari, ada risiko si kecil mengidap penyakit kelainan darah salah satunya seperti hemofilia. Hemofilia adalah penyakit pada sistem pembekuan darah. Perdarahan umumnya sulit berhenti, terjadi pada jaringan lunak dan persendian yang ditandai dengan munculnya lebam. Anak hemofilia bisa memiliki kadar trombosit normal, tapi faktor pembekuan darahnya rendah, sehingga penderita sering mengalami perdarahan.

            Bahaya atau tidaknya mimisan tergantung dari penyebabnya. Mimisan karena demam berdarah sangat berbahaya, itu pertanda stadium berat. Mimisan karena infeksi hidung, misalnya sinusitis, tidak terlalu berbahaya. Pada keadaan kronis, yakni mimisan terlalu sering dan darah yang keluar banyak, dapat terjadi komplikasi cukup berat, antara lain anemia. Anemia jika berlangsung lama akan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat dan bisa membengkak. 
Jika anak mengalami mimisan, lakukan hal-hal berikut:

1.      Kompres dengan Es Batu

Cara mengatasi mimisan pada anak yang pertama adalah dengan mengompresnya menggunakan es batu. Caranya cukup mudah, bungkus es batu dengan handuk kemudian tempelkan pada area batang hidung. Diamkan selama beberapa menit hingga pendarahan di hidung berhenti. Efek dingin dari es batu akan membantu menyempitkan pembuluh darah dalam hidung sehingga bisa menghentikan pendarahan. Saat mengompres hidung dengan es batu, pastikan posisi tubuh tetap tegak dan agak membungkuk agar semakin maksimal efek yang diberikannya.

2.      Memposisikan Kepala Tetap Tegak

Ketika anak mengalami mimisan, sebaiknya posisikan kepalanya tetap tegak dengan tubuh agak sedikit membungkuk atau condong ke depan. Selain itu, usahakan orangtua membantu memotivasi anak agar ia lebih tenang dan tidak panik. Cara ini tidak hanya bertujuan untuk menghentikan pendarahan di hidung, tapi juga mencegah agar darah tidak tertelan. Jika hal ini terjadi maka akan lambung teriritasi sehingga membuat anak batuk dan muntah.

3.      Menjepit Hidung Bagian Tengah

Cara mengatasi pendarahan di hidung selanjutnya adalah dengan menjepit hidung anak dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk. Orangtua bisa membantunya atau bisa juga menyuruh anak melakukan hal tersebut sendiri. Menjepit hidung bagian tengah bisa dilakukan selama kurang lebih 10-15 menit hingga pendarahannya berhenti. Pastikan posisi kepala anak tetap tegak dan agak congdong ke depan. Tubuhnya juga dibuat agak lebih membungkuk. Sama seperti di atas, cara ini bertujuan untuk mencegah darah tertelan.

            Mengalami mimisan lebih dari 1 kali dalam seminggu juga merupakan pertanda bahwa penderita perlu berkonsultasi kepada dokter untuk dilakukan pemeriksaan sehingga bisa mengindikasi penyakit tersembunyi yang serius. Selain itu juga perlu memeriksakan ke dokter kalau mimisan berlangsung lebih dari 15 menit atau tidak bisa dihentikan. Selain itu, juga perlu dicari penyakit lain yang mendasari terjadinya mimisan jika memang mimisan sering terjadi berulang kali. 

Mimisan pada anak juga dapat dicegah dengan cara menghindari melakukan aktivitas berat dahulu. Aktivitas berat hanya akan membuat pembuluh darah dalam hidungnya pecah kembali dan akhirnya mengalami pendarahan. Selain itu, penuhi asupan vitamin C dan K

agar anak tidak mengalami mimisan lagi. Vitamin C dengan kandungan antioksidannya mampu membuat pembuluh darah menjadi lebih kuat dan tidak mudah pecah.

Sementara vitamin K memiliki fungsi membentuk kolagen untuk memberikan perlindungan dalam hidung dengan lapisan lembabnya.Vitamin K ini sendiri bisa didapatkan dari berbagai jenis sayuran seperti, bayam, kol, kangkung, brokoli, sawi, dan lain sebagainya. Tubuh yang kekurangan cairan juga bisa menyebabkan selaput lender hidung menjadi kering, dan ini juga bisa menjadi penyebab mimisan pada anak. Agar hal tersebut tidak terjadi, sebaiknya penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang banyak. Dianjurkan untuk minum air putih sebanyak 8 gelas per hari. (*)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia