Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Pemandi dan Perias Jenazah

Selama Hidupnya Suka Berbuat Baik, Prosesnya Mudah Ketika Dimandikan

22 Agustus 2019, 11: 32: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Selama Hidupnya Suka Berbuat Baik, Prosesnya Mudah Ketika Dimandikan

DIRIAS DULU: Jenazah yang sudah dimandikan dan dirias kemudian disemayamkan. (ISTIMEWA)

Share this      

Puluhan tahun menjadi pemandi dan perias jenazah membuat Christina Wulan Lolaen K punya begitu banyak pengalaman. Tentu saja di dalamnya termasuk pengalaman-pengalaman mistis.

AGUS SUECA MERTA, Denpasar

MENJADI pemandi dan perias jenazah akunya bukanlah pekerjaan yang diinginkan. Namun, Christina kemudian dia pun merasa ini adalah jalan Tuhan baginya dalam membantu orang. “Saya lakukan ini untuk membantu orang, sebagai sebuah kerja sosial juga,” ujar perempuan paro baya ini sembari tersenyum.

Mengenai cerita unik selama memandikan jenazah bagi wanita yang mengaku belajar secara otodidak belajar cara memandikan jenazah sampai mahir ini adalah memandikan orang yang meninggal dalam keadaan stroke. “Kan biasanya sakit stroke membuat tangan atau mulutnya tidak bisa digerakkan. Ketika memandikan jenazah orang seperti itu, maka saya akan pegang tangan yang kaku dari jenazah lalu gerakkan sedikit demi sedikit sampai bisa diposisikannya seperti jenazah pada umumnya,” ceritanya sambil memegang siku tangannya dan menggerakkan sedikit demi sedikit.

“Kalau untuk bagian mulut, maka saya pijat sampai bisa dibuat tersenyum. Lumayan lama biasanya pijat pada jenazah orang yang meninggal karena stroke. Bisa satu jam, dan satu bagian dikerjakan oleh satu orang agar tidak lama prosesnya. Sehingga penanganan untuk jenazah penderita stroke, menggunakan lebih banyak orang untuk membantu,” tambah wanita 69 tahun ini lagi.

Untuk penanganan keyakinan yang dianut oleh jenazah yang dia tangani selama ini umumnya adalah jenazah  keluarga dari orang beragama Kristen. “Orang beragama Hindu, Budha dan orang Tionghoa juga,” ujarnya.

Pengalaman selama menjadi pemandi sekaligus merias jenazah yang paling diingatnya sendiri adalah pertama saat memandikan jenazah di malam hari, tiba-tiba lampu kamar mandi padam. “Sontak saya keluar karena panik, semua keluarga almarhum juga panik melihat saya keluar seperti itu. Saya juga bingung lampu di luar tidak ada yang padam,” urai wanita yang sudah memiliki lima orang cucu ini.

Pengalaman kedua adalah pernah didatangi oleh sosok almarhum dalam mimpinya yang mengucapkan terima kasih. “Saya lihat wajah orang yang datang dalam mimpi itu memang wajah dari jenazah yang saya tangani,” terangnya lagi.

Pengalaman ketiga lainnya adalah melihat aura jenazah yang berbeda daripada jenazah lainnya yang pernah dia tangani. Hal ini pun membuatnya sedikit penasaran, sehingga sempat menanyakan kejanggalan tersebut pada keluarga almarhum. “Nah, saya dulu pernah nemu hal dimana, saat memandikan jenazah wajahnya tampak seperti seakan masih hidup. Lalu ketika memandikannya mudah sekali, gampanglah pokoknya. Wajahnya pun terlihat bagaimana ya, seperti polos sekali terlihat,” ujarnya dengan senyum mengingat kejadian itu

“Akhirnya saat penasaran, maka saya tanya dengan keluarganya apa almarhum suka berbuat baik dan mereka mengiyakan sambil bertanya kok bisa saya tahu,” urainya lagi.

Adapun pengalaman terakhir dari wanita yang tinggal di dekat Kampus Universitas Udayana, Denpasar sedikit membuat bulu kuduk bergidik. “Entah ya saya tidak mau mikir negatif, ada jenazah yang pernah saya tangani ini berbeda. Mata dari jenazahnya susah sekali ditutup. Melotot mulu, saya juga bingung waktu itu,” ceritanya sedikit geleng-geleng.

“Tapi kan karena mata jenazah harus ditutup jadi saya pijat terus, sambil saya ajak juga bicara jenazahnya agar mau menutup matanya. Saya bilangin biar cakep pas selesai riasnya, matanya msti ditutup. Jadi akhirnya mau tertutup matanya,” tambahnya lagi.

Sebagai perias jenazah juga, wanita campuran Manado-Bali ini punya satu set kotak rias khusus untuk merias jenazah. Dia tidak sekedar main-main untuk menangani jenazah yang ia urus. Akunya bahwa mengurus jenazah harus professional juga. “Saya, karena sudah menekuni hal ini sudah sejak dulu, jadi saya siapkan kotak rias khusus yang hanya dipakai merias jenazah saja. Jadi kalau ada yang meminta untuk merias jenazah, perlengkapannya sudah siap,” ungkapnya.

Selain merias jenazah ternyata Christina juga padai merias orang untuk berbagai kegiatan. Dia pun juga menjelaskan bahwa banyak orang yang suka akan riasan yang ia pakaikan ke orang. Dia pun menunjukkan ketrampilannya kepada koran ini, ketika mulai merias wajahnya. “Saya juga merias orang, malah senang dia dengan riasan saya. Saya pun juga punya kotak rias lain yang khusus buat make up orang seperti untuk pengantin misalnya,” ceritanya ramah.

Terakhir mengenai harapannya sebai seorang perias jenazah yang kini mau masuk usia kepala tujuh, adalah tetap bisa mengabdi untuk memandikan jenazah sekaligus meriasnya. “Selama saya mampu dan ada yang meminta bantuan saya pasti akan lakukan,” pungkasnya. (habis)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia