Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kasus Stunting di 13 Desa 143 Orang, Istri Pejabat Pusat ke Bangli

22 Agustus 2019, 20: 08: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kasus Stunting di 13 Desa 143 Orang, Istri Pejabat Pusat ke Bangli

ROAD SHOW: Beberapa istri pejabat pemerintah pusat mengunjungi Desa Pengotan, Bangli untuk mensosialisasikan program pencegahan stunting. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Kasus stunting di Bangli tercatat ada di 13 desa dengan jumlah 143 orang. Saat ini pemerintah setempat berupaya menggalakkan program pencegahan stunting melibatkan lintas sektor dari beragam organisasi perangkat daerah (OPD). Program menyasar ibu hamil dan anak di bawah lima tahun (balita), tepatnya berusia 2 tahun. Dengan kata lain pencegahan mulai diberlakukan pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) anak.

Salah satu yang mesti diperhatikan, yakni inisiasi menyusui dini (IMD) atau pemberian air susu ibu (ASI) saat bayi baru lahir mesti dilakukan. Pemberian ASI eksklusif juga tak kalah penting. Masyarakat juga memperhatikan jamban keluarga dan air bersih, pemberian imunisasi dasar lengkap, ventilasi rumah yang baik, serta pola hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Hal itu diungkap Bupati Bangli I Made Gianyar saat menerima rombongan sejumlah istri pejabat pemerintah pusat dalam acara Sosialisasi Pencegahan Stunting di Desa Pengotan, Kecamatan Bangli, Kamis (22/8). Acara yang digelar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, itu dihadiri Sekretaris Direktorat Jendral PPMD Kementerian Desa Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmgrasi RI Rosyidah Rachmawati.

Tidak hanya itu, tujuh istri pejabat pemerintah pusat juga hadir. Mereka di antaranya Istri Menteri Koperasi dan UKM Bintang Puspayoga, Istri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Riri Sandjojo, istri Menteri Perhubungan Endang Budi Karya, Istri Kepala Staf Kepresidenan Koes Moeldoko, istri Menteri Pertahanan Nora Ryamizaid Ryacudu, istri Sekjen Kementerian Kesehatan Dedet Primadi, serta istri Menteri Ketenagakerjaan Marifah Hanif.

Bupati Gianyar menambahkan, fenomena gagalnya tumbuhkembang anak balita diakibatkan kurangnya asupan gizi. Sehingga anak justru lebih pendek untuk seusianya (stunting). Namun stunting berbeda dengan cebol. Kasus stunting dapat ditanggulangi dengan memperbaiki laju pertumbuhan anak tersebut.

Meski begitu, Gianyar menegaskan stunting berdampak pada tingkat kecerdasan. Anak juga rentan terkena penyakit. "Produktivitas juga bakal turun sehingga dampak ke depannya menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan. Untuk itu OPD terkait menggambil peran dalam upaya penanggulangan stunting. Melakukan pemberian pemahaman terhadap orangtua balita tentang pentingnya pemberian asupan gizi berimbang," terang bupati dua periode ini.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jendral PPMD Kementerian Desa Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmgrasi RI Rosyidah Rachmawati mengatakan, permasalahan stunting selama ini hanya dipandang sebagai persoalan realitas kesehatan akibat kekurangan gizi. Padahal, menurutnya untuk menurunkan angka stunting penting dilakukan dengan pendekatan multi sektor melalui sinkronisasi program program nasional, lokal, dan masyarakat di tingkat pusat maupun daerah.

"Program ini disebut konvergensi atau integrasi. Dengan ditetapkannya pencegahan stunting sebagai salah satu prioritas nasional, maka masyarakat desa dan pemerintah desa harus disiapkan untuk mampu memastikan terjadinya konvergensi pencegahan stunting," seru Rosyidah.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia