Kamis, 19 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Keris Pusaka Majapahit (1)

Panjangnya 2,5 Meter, Luk 120, Bernama Keris Ki Ulung

22 Agustus 2019, 21: 17: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Panjangnya 2,5 Meter, Luk 120, Bernama Keris Ki Ulung

SAKRAL: Keris dengan panjang tidak biasa, ditunjukan oleh Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri di Geria Pundukdawa, Dawan, Klungkung. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

Melihat koleksi keris, baik itu yang berupa benda pusaka yang disakralkan maupun yang bersifat profan, mungkin tidak asing lagi. Secara umum panjang keris tak sampai 1 meter. Lalu bagaimana ketika ada keris pusaka panjangnya hingga 2,5 meter.

I MADE MERTAWAN, Semarapura

SEBUH keris panjang sekitar 2,5 meter tersimpan di Gria Gede Giri Pundukdawa, Desa Adat Pundukdawa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Keris tersebut dipercaya menjadi satu kesatuan atau ada keterkaitan dengan tiga keris pusaka lainnya. Keempatnya disakralkan. Disimpan di sebuah gedong suci gria setempat.

Dari empat keris pusaka “satu keluarga” itu, paling panjang sekitar 2,5 meter. Luk 120. Diberinama Keris Ki Ulung. Keris lebih pendek sekitar 10 sentimeter, namanya Keris Ki Gana Pati.  Berikutnya ada Keris Ki Naga Ulung. Panjangnya sekitar 1,5 meter. Lebih pendek lagi sedikit namanya Keris Ki Kober Kuning. “Kami percaya masing-masing keris ini punya fungsi berbeda,” ujar Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri ditemui Gria Gede Giri Pundukdawa, Rabu (21/8).

Menurut Ida Rsi, Keris Ki Ulung dipercaya berfungsi sebagai pancerin gumi, Ki Gana Pati penangkeb gumi, Ki Naga Ulung panyegjeg jagat, dan Keris Ki Kober Kuning sebagai penolak bala. Namun tak diketahui usia maupun empu keris tersebut. Didampingi adiknya, I Komang Murtawan, Ida Rsi meyakini keempat keris tersebut merupakan peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. Namun sudah lama di gria tersebut. Dibawa seseorang dari Pulau Jawa ke Bali untuk disimpan oleh trah Sira Arya Kanuruhan. “Dari zaman dulu memang di gria. Leluhur kami diperintahkan menjaga dan melestarikan pusaka leluhur. Itu akan terus kami lakukan demi kedamaian jagat nusantara,” terangnya.  

Keempat keris itu diperkirakan terbuat dari logam, baja, dan meteorit dengan pendhok kayu yang tidak diketahui jenisnya. Sejak mendapat warisan tersebut, belum pernah ada bagian-bagian yang diganti. Semuanya masih utuh. Keris dirawat dengan baik. Secara skala rutin dibersihkan dua orang khusus. Sedangkan secara niskala rutin diupacarai. Salah satunya setiap Tumpek Landep.

Tak semua orang bisa melihat benda pusaka tersebut. Sebagai keturunan yang dipercaya melestarikan warisan leluhur, Ida Rsi tak sembarangan mengeluarkan keempat keris tersebut dari gedong suci. Apalagi sampai mencabut dari pendhoknya. Tak heran, saat Bali Express (Jawa Pos Group) datang ke gria, Ida Rsi tampak kaget karena yang ditanyakan adalah keris pusaka yang selama ini tidak bisa dibuka sembarangan. Sebelum memutuskan meladeni wawancara, termasuk memperlihatkan keris itu, Ida Rsi yang saat walaka bernama I Wayan Nurjana alias Mangku Kuncir terlebih dulu koordinasi dengan Murtawan yang juga bendesa di Pundukdawa. “Wartawan termasuk yang beruntung bisa melihat secara langsung keris ini. Mungkin sudah diatur sama leluhur untuk dibuka sebentar,” ungkap Ida Rsi.

Murtawan menambahkan, keluarganya membatasi keris tedun dari gedong suci bukan sebatas karena disakralkan. Tetap juga karena tidak ingin ada yang beranggapan bahwa keris sakral itu sengaja dipublikasikan dengan tujuan tertentu. “Saat diupacarai maupun perawatannya saja dilakukan oleh orang-orang khusus,” sambungnya.  

Namun demikian, pihaknya tidak memungkiri, beberapa pihak mengetahui keberadaan itu. Sejumlah calon DPR maupun calon bupati sempat datang mohon dilancarkan dalam pertarungan politik.  Selain itu banyak orang dari luar Bali datang ke gria. Tetapi bukan karena urusan politik, melainkan atas petunjuk leluhurnya. Keris itu juga pernah ditawar. Namun tetap tidak sembarang diperlihatkan. (bersambung)

 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia