Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tidur di Proyek Hostel, Dua Buruh Tewas Tertimbun Longsor di Songan

23 Agustus 2019, 16: 38: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tidur di Proyek Hostel, Dua Buruh Tewas Tertimbun Longsor di Songan

TIMBUN BURUH: Senderan proyek hostel di Dusun Pulu, Desa Songan, Kintamani longsor menimbun dua buruh proyek, Jumat (23/8). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Momen Idul Adha, beberapa waktu lalu tampaknya menjadi kenangan terakhir bagi Fendi Akhmad, 23, dan Gatot Wahyudi, 45, asal Pasuruan, Jawa Timur, untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Usai hari raya, mereka kembali ke Bali untuk melanjutkan proyek pembangunan hostel di Dusun Pulu, Desa Songan, Kecamatan Kintamani.

Akan tetapi, nahas dialami keduanya. Baru empat hari tiba di Songan, Fendi Akhmad dan Gatot Wahyudi ditemukan tewas tertimbun tanah senderan setinggi 5 meter. Peristiwa itu diduga terjadi pada Kamis (22/8) malam. Namun kejadian itu baru diketahui rekan kerja korban, I Nyoman Murah, 39, yang juga buruh lokal setempat, Jumat (23/8) sekitar pukul 07.30.

Ajal mungkin tidak akan menjemput dua buruh tersebut. Sebab sebelum kejadian, pemilik hostel, I Ketut Mula sudah mewanti-wanti supaya korban tidur di rumahnya. Bahkan Ketut Mula sudah menyediakan tempat tidur untuk kedua korban. Ajakan pria yang juga Kepala Dusun Pulu, Songan, itu malah dimentahkan korban.

"Keduanya (korban) memilih tidur di lokasi proyek. Alasannya biar nyaman aja. Gak ada alasan lain. Sudah saya ajak ke rumah. Kasur sudah disediakan, katanya lebih nyaman di sini (TKP)," jelas Ketut Mula, ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), di lokasi kejadian.

Kemarin, polisi Polsek Kintamani bersama warga bahu-membahu membereskan sisa puing reruntuhan dan gundukan tanah senderan. Warga hanya berbekal peralatan proyek. Sebab untuk mendatangkan alat berat sudah tidak mungkin lantaran jalur menuju bukit sangat sempit nan curam. Lokasi kejadian sekitar 200 meter dari kaki bukit.

"Saya awalnya tidak tahu kalau korban tertimbun. Tapi saya lihat motornya ada di parkiran. Saya baru ingat mereka tidur di proyek. Langsung saya turun panggil warga," ujar saksi I Wayan Murah yang juga buruh proyek.

Fendi dan Gatot sebenarnya sempat tinggal di rumah pemilik hostel selama dua hari. Dua hari sisanya, korban memilih tinggal di lokasi proyek. Padahal kedua korban sempat mengeluhkan hawa di lokasi sangat dingin pada malam hari. Itu karena hostel berdiri di atas perbukitan Songan.

Ketut Mula merasa iba dan berkali-kali mengajak korban agar mau tinggal di rumahnya. Karena terus menolak, pria yang juga petani sayur ini mengiayakan permintaan korban. Bahkan kedua korban meminta arak beberapa hari sebelum longsor. "Saya kasih (arak) karena kasihan. Katanya biar hangat," ungkap Mula.

Hostel yang berdiri di atas perbukitan Songan sudah dibangun sejak tiga bulan lalu. Rencananya terdapat empat kamar di sana. Pantauan di lokasi, di atas calon bangunan masih menyisakan gundukan tanah bekas pengerukan. Tanah tersebut sudah disender menggunakan dinding beton dan batu setinggi 5 meter dan lebar 9 meter, dengan maksud meminimalisasi rembesan air. Namun nahas sisa tanah yang belum dibeton ambruk lebih dulu.

Kasubbag Humas Polres Bangli AKP Sulhadi menegaskan, semua buruh sudah berhenti bekerja pukul 17.00, pada Kamis (22/8). Korban memilih tinggal di bedeng, sedang buruh lainnya memilih pulang ke rumah. "Kemungkinan kejadiannya malam. Tapi personel masih melakukan pendalaman. Jenazah sekarang sudah dititip di ruang jenazah RSUD Bangli," pungkas Sulhadi.

 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia