Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Beragam Kita Satu, Bersatu Kita Bisa; Tangkal Hoax

Oleh: Restu Cahya Nandita

26 Agustus 2019, 17: 50: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beragam Kita Satu, Bersatu Kita Bisa; Tangkal Hoax

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Dari Sabang hingga Merauke terbentang 17.504 pulau dengan 1.331 suku dan 652 bahasa. Oleh karena itu, fondasi utama untuk membangun bangsa ini adalah toleransi guna memperkuat persatuan. Tanpa adanya rasa saling menghargai, Indonesia akan terpecah-belah dan berpaham sukuisme. Maka dari itu, komunikasi yang baik dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mengokohkan persaudaraan antarmasyarakat Indonesia.

Pada era sekarang, komunikasi tidak hanya dilakukan secara verbal. Dengan memanfaatkan teknologi, semua orang dapat berkomunikasi dan bertukar informasi di mana pun dan kapan pun. Kemudahan dalam mengakses informasi tentunya berpengaruh positif dalam berbagai hal. Misalnya dalam pendidikan: siswa dapat mengakses materi pembelajaran dan mengadakan diskusi online dengan guru sehingga mempermudah penyerapan ilmu. Dalam bidang ekonomi, teknologi juga berperan sebagai media promosi yang efisien.

Namun, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi juga berdampak negatif bagi masyarakat. Misalnya menurunnya kepekaan sosial akibat gadget, maraknya konten negatif, penyebaran isu SARA, dan yang paling masif saat ini yaitu penyebaran berita bohong.

Berita bohong (hoax) adalah informasi palsu atau berita tidak benar. Hoax dibuat dengan tujuan tertentu, mulai dari lelucon hingga tujuan yang serius. Penyebaran hoax di Indonesia saat ini semakin meluas seiring dengan banyaknya pengguna media sosial. Dapat diketahui, berdasarkan studi Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa atau 64,8 persen. Maka dari itu, hoax akan sangat berbahaya jika tidak diputus rantai penyebarannya.

Berita palsu juga berdampak negatif bagi pembangunan nasional, apalagi jika hoax yang beredar berkaitan dengan politik atau kelompok etnis. Masyarakat dapat turun ke jalan dan melakukan aksi anarkisme dan pengrusakan fasilitas-fasilitas publik akibat terpengaruh hoax.

Pemberitaan bohong juga sempat beredar saat kerusuhan di Papua. Hoax tersebut berupa foto dan informasi yang mengatakan bahwa ada seorang mahasiswa asal Papua di Surabaya yang meninggal dunia akibat dipukul aparat TNI-Polri. Setelah diusut, ternyata berita tersebut tidak benar. Mabes Polri melalui akun media sosial Divisi Humas Polri menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan foto seorang korban kecelakaan yang meninggal di Jalan Trikora. Tepatnya di depan TK Paut DOK V Atas Distrik Jayapura Utara, Selasa (19/2) pukul 07.30 WIT. Namun, penyebaran hoax tersebut sempat menambah panas situasi di Papua. Maka dari itu, masyarat Indonesia khususnya Papua sampai saat ini dihimbau untuk tidak mudah percaya dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

Sebagai tindak lanjut dari berita-berita bohong yang beredar, pemerintah telah melakukan berbagai tindakan untuk memeranginya. Misalnya saat kerusuhan di Papua, Kementrian Komunikasi dan Informatika sempat melakukan perlambatan akses jaringan di beberapa wilayah Papua yang terjadi aksi massa pada Senin (19/08). Hal ini bertujuan untuk mengurangi penyebaran berita palsu. Maka dari itu, masyarakat juga harus mendukung langkah pemerintah dalam memutus penyebaran hoax dengan cara selalu kritis terhadap berita-berita yang beredar. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memilah informasi yang ada di media sosial :

1.    Cermati

Baca dan cermati berita tersebut. Jika judul dan isinya bersifat sensasional, bisa saja berita tersebut adalah palsu. Hoax biasanya berjudul provokatif agar bisa menarik minat pembaca. Hoax juga dapat mempengaruhi emosi pembaca seperti marah, takut dan sedih sehingga para pembaca dengan mudah akan menyebarkannya.

2.    Telaah

Cek sumbernya. Menurut catatan Dewan Pers, ada sekitar 43.000 situs yang mengklaim dirinya sebagai portal berita di Indonesia. Namun, yang sudah terverifikasi hanya kurang dari 300 situs. Hal ini berarti ada banyak situs yang bisa berpotensi menyebarkan berita palsu. Hati-hati jika situs berita menggunakan domain blog karena kebenaran berita tersebut dapat diragukan.

Lihat dari mana berita tersebut berasal. Apakah dari institusi resmi seperti KPK, Polri ataupun Kementrian? Hati-hati jika informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik atau pengamat karena biasanya informasi tersebut berupa opini, bukan fakta.

Jika informasi berupa foto, cek keasliannya. Caranya dengan melakukan drag-and-drop di kolom pencarian google images. Akan muncul gambar-gambar serupa di internet sehingga dapat dibandingkan. Selain itu, cek tempat dan waktu foto tersebut diambil. Bisa saja foto yang ada pada suatu narasi merupakan foto asli (bukan editan), namun dalam peristiwa yang berbeda. Misalnya yang sudah dijelaskan di atas, yakni tentang foto dengan narasi seorang mahasiswa Papua dibunuh aparat. Namun, ternyata foto tersebut merupakan seorang korban kecelakaan.

3.    Bandingkan

Jangan puas hanya dengan membaca informasi dari satu sumber saja. Cari sumber lain yang terpercaya dan bandingkan. Jika berita tersebut adalah hoax, maka perbedaannya akan sangat terlihat saat dibandingkan dengan situs terpercaya.

Setelah langkah-langkah tersebut dilalui, maka dapat diputuskan berita tersebut fakta atau hoax. Jika informasi adalah palsu, maka putuskan rantai penyebarannya. Setelah itu, laporkan hoax tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Masyarakat Indonesia Anti Hoax juga menyediakan laman untuk menampung aduan hoax sekaligus berisi referensi berita hoax di data.turnbackhoax.id.

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia