Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Dihantam Gelombang 7 Meter, Setiawan Terombang-ambing 7 Jam

29 Agustus 2019, 19: 57: 01 WIB | editor : Nyoman Suarna

Dihantam Gelombang 7 Meter, Setiawan Terombang-ambing 7 Jam

TUJUH JAM - Kadek Setiawan berhasil dievakuasi setelah terombang-ambing di tengah laut selama tujuh jam. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Kadek Setiawan, 24, tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pria asal Dusun Segara, Desa Girimas, Kecamatan Sawan, Buleleng selamat dari maut setelah jukung yang digunakannya melaut terbalik akibat dihantam gelombang setinggi 7 meter di peraiaran Kubutambahan, Kamis (29/8) pukul 05.30 Wita. Akibatnya, Setiawan sempat terombang-ambing selama 7 jam di laut, sebelum akhirnya ditemukan Tim Basarnas Buleleng.

Setiawan yang sempat dinyatakan hilang itu pun membuat sang ibu, Luh Sujani bersama adiknya Nyoman Yustawan 23 merasa was-was. Mereka sempat menangis di bibir pantai Desa Girimas. Bahkan, Luh Sujani mengaku sempat menanyakan nasib sang anak lewat paranormal

Beruntung, Setiawan berhasil ditemukan pada pukul 13.30 wita dalam kondisi selamat. Posisinya berada sejauh 1 Nautical Mil dari arah utara bibir Pantai Bukti, atau pada koordinat  8°04'36.63"S - 115°14'14.56"E.

Begitu ditemukan, Setiawan bersama jukungnya langsung digiring ke Pantai Desa Girimas, dibantu oleh petugas dari Basarnas Buleleng. Kedatangannya pun langsung disambut haru oleh ibu dan adiknya.

Setiawan menceritakan dirinya berangkat mencari ikan, Rabu (28/8) pukul 19.00 Wita bersama teman-temannya, namun dengan jukung yang berbeda-beda. Saat di tengah laut, mereka lantas berpencar mencari spot memancing masing-masing. Rupanya hari itu Setiawan berhasil menangkap cumi-cumi hingga sebanyak dua ember.

Begitu dirasa cukup, Kamis (28/8) pukul 05.30 Wita, Setiawan pun memutuskan untuk pulang, kembali ke daratan.  Dalam perjalanan pulang, Setiawan sempat menghubungi sang ibu untuk meminta dibelikan nasi sebanyak dua bungkus. Nahas, setelah menelepon ibunya itulah, ombak setinggi tujuh meter menggulung jukungnya hingga terbalik.

Mestinya pukul 06.00 Wita Setiawan sudah sampai di rumah. Namun, lantaran tak kunjung pulang, sang ibu pun panik. Ia kembali menelpon Setiawan. Terlebih, semua nelayan yang diajaknya melaut sudah kembali ke daratan. Sayang, nomor telepon milik Setiawan tidak aktif lagi. Ia pun meminta kepada para nelayan Desa Girimas untuk segera mencari sang anak, serta melaporkan kejadian ini ke polisi.

"Sebenarnya posisinya sudah dekat. Tiba-tiba jukungnya dihantam ombak sampai terbalik. Saya langsung berenang mencari jukung itu, terus duduk di atasnya. Waktu itu tidak ada nelayan yang lewat, saya terus melambai-lambaikan tangan. Sampai siang, untung ada nelayan yang melihat saya," ujar Setiawan. 

Sejatinya, Setiawan bukan kali ini saja pernah bertaruh nyawa. Ketika usianya menginjak empat tahun, ia pernah tenggelam saat mandi di Pantai Desa Girimas. Bahkan, kala itu ombak sempat menyeretnya hingga di Pelabuhan Sangsit. Beruntung nyawanya berhasil diselamatkan oleh para pemancing.

"Waktu dia berenang itu saya tau. Bapaknya juga waktu itu sedang memperbaiki jaring di bibir pantai. Tiba-tiba saya dapat kabar dia ditemukan di Pelabuhan Sangsit, posisinya sudah ngambang. Dia sempat koma selama 12 hari di rumah sakit," ujar sang Ibu, Sujani.

Kendati sudah dua kali tertimpa musibah di laut, Setiawan mengaku tidak trauma. Bahkan, Setiawan tak merasa kapok, dan tetap memutuskan untuk menjadi nelayan sebagai mata pencahariannya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia