Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Tolak Bala, Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Gelar Tradisi Mejaga-jaga

30 Agustus 2019, 21: 21: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tolak Bala, Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Gelar Tradisi Mejaga-jaga

ANTUSIAS: Krama Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa antusias mengikuti rangkaian tradisi Menjaga-jaga. (I MADE MARTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung kembali menggelar tradisi mejaga-jaga, Jumat (30/8) pagi. Biasanya digelar pada Tilem Sasih Karo, atau maju sehari ketika Tilem bertepatan dengan Pasah. Tradisi kali ini bertepatan dengan Sasih Karo.

Tradisi yang juga disebut macaru itu tak hanya menjadi perhatian warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa. Sejumlah warga dari desa lain sengaja datang ingin menyaksikan tradisi yang dipusatkan di Catus Pata desa setempat. Warga penasaran dengan tradisi yang diwarnai ritual mengarak seekor sapi.

Tidak sembarang sapi bisa digunakan. Pantang menggunakan yang cacat fisik maupun dengan tanduk putih, lidah putih, dan bagian dada ada putihnya. Harus benar-benar selektif memilih. Sapi dipilih oleh orang-orang khusus, yakni Jro Mangku Catus Pata, Petajuh Pura Dalem, dan mangku Pura Prajapati.

 “Dari awal rencana membeli sapi sudah mapriuning. Sudah dapat mapriuning lagi. Saat sapi tiba di desa dibuatkan banten pamendak di jaba Pura Puseh,” ujar Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa I Wayan Sulendra.  Kali ini sapi dibeli di Bebebetin, Buleleng.

Tradisi mejaga-jaga digelar sejak pagi. Dimulai dari sapi dimandikan, lanjut dibawa ke Catus Pata. Di sana digelar upacara. Sapi diikat dengan tujuh tali tiing. Empat di belakang. Tiga di depan. Kemudian diarak ke utara desa, yakni perbatasan dengan Desa Akah. Di sana digelar upacara, persis di jaba Pura Puseh.

Sapi disempal (ditebas) di bagian pantat kiri, langsung diarak ngider. Lanjut warga beramai-ramai mengarak ke selatan menuju ke perbatasan desa, yakni Desa Adat Sangkanbuana atau di jaba Pura Dalem Besang Kawan Tohjiwa. Sama halnya dengan di utara, di sana juga ada prosesi upacara hingga sapi kembali ditebas. Sasarannya adalah pantat kiri. Kemudian diarak lagi ke perbatasan desa di sebelah timur, yaitu berbatasan dengan Desa Adat Besang Kangin. Sapi ditebas di pantat bagian kanan.

Sapi terlihat tak berdaya diarak beramai diiringi gamelan baleganjur. Semakin kencang tabuhnya, warga yang dominan kaula muda semakin semangat. Ditambah warga lain menyiramkan air agar krama tak kepanasan. Sapi yang terlihat sudah lelah diarak lagi ke barat menuju jaba Pura Prajapati. “Di sana kaki dekat lutut yang ditebas. Mana yang paling belakang, itu ditebas. Sapi kembali dibawa ke Catus Patas. Kali ini kaki yang lagi satunya ditebas, dan lambung,” terang Sulendra didampingi petajuh I Wayan Artana di sela-sela upacara.

Ia pun menegaskan, tidak sembarang orang bisa menebas sapi tersebut. Untuk di perbatasan desa, dilakukan pemangku Catus Pata. Sedangkan yang di Catus Pata oleh pemangku Pura Prajapati. Ditebas dengan blakas khusus, namanya Blakas Sudamala.

Apa makna upacara ini? Sulendra menegaskan, tradisi digelar untuk menetralisir desa, menjaga desa dari bahaya, sekala dan niskala. Sehingga tradisi wajib digelar. Sapi yang sempat diarak diolah dijadikan caru. “Setelah berakhir di Catus Pata, sapi dipotong, diolah jadi caru,” sambungnya.

Darah sapi yang berceceran menjadi rebutan warga. Sejumlah warga terlihat mengoleskan darah ke wajahnya. Hal itu diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tak hanya diyakini warga setempat, sejumlah warga dari luar desa sering datang saat digelar upacara. “Itu kepercayaan. Ada warga dari Lombok sempat datang, nunas darah sapi,” tandas Sulendra.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia