Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

KPPAD Bali Minta Jasad Bayi dalam Ember Diupacarai

01 September 2019, 20: 31: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

KPPAD Bali Minta Jasad  Bayi dalam Ember Diupacarai

DITEMUI : Keluarga ibu bayi yang jasad bayinya ditaruh dalam ember di Sukawati, ditemui oleh KPPAD Bali di RS Premagana, Batubulan, Minggu (1/9). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI  EXPRESS, GIANYAR - Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali Made Ariasa meminta pihak keluarga ibu si bayi melaksanakan upacara yang layak terhadap jasad bayi, sesuai agama dan adat setempat. Hal ini dikatakan Ariasa saat  menemui tersangka pembuang bayi dalam ember, Minggu (1/9) di RS Premagana, Batubulan.

Selain KPPAD Bali, juga hadir anggota Polsek Sukawati yang hendak menyelidiki kasus tersebut. “Berkenaan adanya kasus bayi yang meninggal ini, belum bisa dipastikan apakah dibunuh atau tidak. Kami dari KPPAD Bali sangat prihatin kejadian kekerasan terhadap anak terjadi di wilayah hukum Gianyar,” paparnya.

Pria asal Desa Mas, Kecamatan Ubud ini sangat menyangkan kasus itu terjadi. Terlepas dari si ibu bayi yang sudah dewasa yakni 19 tahun, ternyata pihak keluarga tidak menyadari anaknya sudah hamil hingga melahirkan.

“Setelah kami mencoba koordinasi dengan aparat penegak hukum Polsek Sukawati dan pihak RS Premagana, kami dizinkan bertemu dengan orang tua dari si perempuan yang melahirkan ini.  Pada intinya pihak keluarga sangat menyesali kejadian ini yang menyebabkan kematian si  bayi. Mereka tidak menyangka sama sekali,” pungkas Ariasa.

Pihaknya kembali mengingatkan pihak keluarga agar betul-betul memberikan perhatian dan membangun komunikasi, khususnya dengan anak, terlepas anak sudah menginjak dewasa atau masa kuliah. “Kami juga mendorong agar si ibu menenangkan anaknya sehingga bisa sehat dan kuat menghadapi kenyataan ini. Sekaligus secepatnya bisa memberikan keterangan kepada kepolisian dan kasus ini semakin terang,” ucapnya.

Ia menyarankan agar pihak keluarga bertanggung jawab melakukan upacara penguburan yang layak sesuai agama dan adat di daerahnya, sehingga tidak mempengaruhi perkembangan psikologis si anak nantinya.

“Ini ibu dari si perempuan yang melahirkan, bapaknya sedang sakit mengalami kecelakaan. Keluarga ini betul-betul menerima cobaan yang sangat berat.  Jika diibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga besi, kena tumpahan cat tambah lagi bongkaran bangunan. Ini harus dijadikan cerminan oleh masyarakat khususnya para keluarga, agar lebih perhatian dan waspada, serta rajin bersyukur dan berdoa dalam kehidupan,” imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia