Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

WNA Asal Perancis Berulah di Pemaron, Warga Minta Dideportasi

02 September 2019, 18: 27: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

WNA Asal Perancis Berulah di Pemaron, Warga Minta Dideportasi

TUNJUKKAN RUMAH: Jem Tatto saat menunjukkan rumah milik WNA asal Peranicis bernama Roussel. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Ulah seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Prancis bernama Roussel Gil Pascal Andre, 51 membuat warga Dusun Dauh Margi, Desa Pemaron bernama Ketut Agus Suadnyana, 33 alias Jem Tatoo naik pitam. Bagaimana tidak, aktivitasnya membakar ikan di tepi pantai justru dilarang tanpa alasan jelas oleh WNA tersebut. Sontak saja, kericuhan itu viral di media sosial.

Seperti diceritakan Jem Tatoo, kericuhan bermula saat dirinya berekreasi di Pantai Desa Pemaron bersama keluarga pada Minggu (1/9) sore sekira pukul 17.30 Wita. Ia bersama keluarga pun memanggang ikan tepat di depan rumah Roussel. Menariknya, gerak geriknya saat mengumpulkan ranting pohon sudah diawasi oleh Rousell dengan tatapan sinis.

Tapi, Jem tidak menghiraukannya. Pasalnya aktivitasnya itu dilakukan di pinggir pantai yang merupakan fasilitias umum. Rupanya Roussel langsung memanggil Jem dari balik jeruji dan memberikan tong sampah berisi dedaunan kering.

Jem mengira, Si Bule salah paham, karena dianggapnya membakar sampah. Bahkan ia tersenyum ketika diberikan tong sampah itu.

"Saya bilang sorry saya tidak butuh sampah itu, saya hanya butuh kayu untuk bakar ikan. Terus dia tanya memangnya boleh bakar-bakar di sana? Ya saya jawab boleh, karena pantai ini kan fasilitas umum. Saya bakar ikan juga di areal pasir pantai, bukan di rumah bule itu," jelas Jem kepada awak media, Senin (2/9) siang.

Alasan Jem menyebut tepi pantai sebagai fasilitas umum lantas membuat Rousel berang. Bahkan ia menantang hendak  membakar sampah juga di depan rumah milik Jem. Atas pernyataan bule tersebut, Jem pun naik darah.

"Saya emosi. Dia mengundang saya untuk berkelahi, dia sudah memasang kuda-kuda. Saya sudah emosi sekali. Saya ambil batu pakai jaga-jaga. Saya tanya apa maksudmu berbicara begitu. Sampai saya panggil orangtua saya, kepala desa dan warga sekitar," terangnya.

Lanjutnya, sejatinya Rousel sudah sering bikin onar di kawasan Pantai Pemaron. Bahkan ketika ada orang yang lewat untuk sekadar jogging pun dilarangnya, Atas kejadian ini, musisi Band Jem Tattoo ini pun meminta aparat bertindak tegas. “Bila perlu dideportasi saja,karena sering bikin onar,” jelasnya.

Menyikapi kericuhan itu, Plh. Perbekel Desa Pemaron, Putu Mertayasa tidak memungkiri jika Roussel sering memancing keributan dengan warga di Desa Pemaron. Seperti melarang warga mandi, memancing, hingga mencari kerang di pantai depan rumahnya. Pada 2017 lalu, sebut Mertayasa, Roussel juga sempat merusak lapak milik warga yang berjualan saat pelaksanaan lomba kicau burung, yang dilaksanakan tepat di sebelah rumah milik Roussel.

"Waktu itu Roussel mengaku tidak tega melihat burung-burung dikandangkan. Karena di negara asalnya burung itu katanya bisa terbang bebas. Sempat kami tegur sampai buat surat pernyataan, karena berkelakuan seenaknya. Saat itu Roussel mengaku minta damai, dengan membayar ganti rugi," tutur Mertayasa.

Dikakatakan Mertayasam Roussel sempat menikahi warga lokal asal Desa Anturan. Mereka pun tinggal di rumah berlantai dua itu sejak tahun 2016 lalu. Namun sekitar empat atau tiga bulan ini, Roussel dikabarkan telah bercerai dengan istrinya. Mengingat Roussel kerap memancing keributan dengan warga di desa setempat, pihak desa pun berencana akan melayangkan surat ke Imigrasi, dengan harapan agar Roussel segera di deportasi.

"Warga kami sudah tidak sabar lagi. Kami selaku aparat desa akan bersurat ke Imigrasi untuk memohon supaya tamu ini (Roussel) segera dikembalikan ke negara asalnya. Suratnya akan kami kirim ke Imigrasi besok (Selasa)," katanya.

Di sisi lain, Ketua PHRI Buleleng, Dewa Ketut Suardipa meminta agar kericuhan seperti ini diselesaikan baik-baik. Pasalnya persoalan ini berdampak pada tingkat hunian di Buleleng. "Mohon jangan langsung diviralkan, agar tidak menimbulkan salah paham. Karena tingkat kunjungan ke Lovina turun drastis sekali. Tingkat hunian di bawah 50 persen. Banyak permasalahan, ini yang kami khawatirkan. Ayo kita punya aparat desa, imigrasi dan kepolisian, ayo kita duduk bersama selesaikan masalah ini, pakai etika budaya Bali," ucapnya.

Terpisah,  Kasi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Thomas Aries Munandar enggan berkomentar banyak, dan mengaku akan segera menggali keterangan dari Roussel. "Saya belum bertemu dengan yang bersangkutan (Roussel, Red). Nanti hasil pertemuannya akan saya sampaikan," singkatnya.  

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia