Jumat, 20 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Piodalan Pura Gede Goa Peteng Abaikan Wuku dan Sasih

04 September 2019, 17: 12: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Piodalan Pura Gede Goa Peteng Abaikan Wuku dan Sasih

BEDA : Piodalan Pura Gede Goa Peteng berbeda dengan pura pada umumnya. Piodalan tidak jatuh pada hari sama dan bulan yang sama. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS,CANGGU - Piodalan di  pura umumnya  jatuh setiap 210 hari sekali, dan selalu berlangsung pada hari yang sama. Namun ada pura unik, memiliki hari piodalan yang tidak berpatokan pada hari yang sama. 

Pura sebagai tempat persembahyangan, memiliki piodalan khusus. Setiap pura piodalannya memakai perhitungan pawukon ataupun sasih. Berdasarkan pawukon hari keagamaan akan jatuh pada setiap 210 hari sekali, misalnya  Galungan maupun Kuningan. Jika berdasarkan perhitungan sasih, maka akan jatuh setiap tahun, seperti Siwa Ratri. 


Pura pun pada umumnya akan mengikuti kedua perhitungan tersebut. Namun, ternyata kedua jenis perhitungan itu tidak diterapkan di Pura Gede Goa Peteng, Canggu.  Pemangku Pura Gede Goa Peteng, Jro Mangku I Ketut Sukariana, mengakui Pura Gede Goa Peteng memiliki sedikit perbedaan mengenai piodalannya.

"Setiap datangnya piodalan tidak jatuh pada hari sama dan bulan yang sama,” ujar pria yang kini berusia 68 tahun ini kepada Bali Express( Jawa Pos Group) di rumahnya di kawasan Canggu.

Pura yang diempon 25 Kepala Keluarga (KK) ini,  piodalannya pada hari Purnama.
Pangempon pura  tidak hanya dari Banjar Tiying Tutul saja, namun juga ada dari Desa Tumbak Bayuh dan Desa Luwus.  "Piodalan dilakukan dengan melihat Hari Raya Purnama yang jatuh sebelum Hari Raya Galungan. Jadi, pengurus pura melihat  kapan Purnama datang sebelum Hari Raya Galungan. Nah, setelah ketemu, maka pas di hari itu piodalan dilaksanakan,” jelas
Jro Mangku I Ketut Sukariana.


Tidak hanya melihat hari Purnama sebelum Galungan saja. Rupanya pengurus pura juga melihat posisi Purnama sebelum Galungan. 


Menurut Jro Mangku I Ketut Sukariana, jika Purnama jatuh pada hari Selasa atau satu hari sebelum Hari Raya Galungan, maka akan dipilih Purnama yang jatuh pada satu bulan sebelumnya. 


Selain itu, piodalan Pura Gede Goa Peteng juga melihat Tri Wara, siklus tiga harian dalam pawewaran, yakni Pasah, Beteng, dan Kajeng. "Pura Goa Peteng tidak akan melaksanakan piodalan jika hari Purnama itu bersamaan dengan Pasah. Jika Purnama bersamaan dengan Pasah, maka piodalan akan dilaksanakan keesokan harinya,” terang pengurus pura I Putu Sukadana. Mengenai nama pura,  pengurus pura maupun pemangku tidak mengetahui secara pasti, karena sejak berdirinya pura, nama yang digunakan  memang sudah Pura Gede Goa Peteng. “Kawitan sendiri kami asalnya dari Pura Pangilian di Dalung,” ucap I Putu Sukadana.
Pura yang rindang dengan pepohonan ini memiliki beberapa palinggih, yakni Palingih Ratu Made Agung, Palinggih Ratu Nyoman Sakti, Palnggih Ratu Mas, Palinggih Ratu Demekel Sakti dan Palinggih Ratu Pragina.  Menurut pengakuan Sukadana, Palinggih Ratu Pragina ini  untuk memohon taksu seni bagi yang menggeluti kesenian.


Pura seluas sekitar 4 are yang dipugar sekitar delapan tahun lalu ini, tampak sangat tertata rapi dan asri. "Ida yang malinggih di pura ini adalah manisfestasi dari Dewa Siwa dan Dewi Uma, yakni  Ida Ratu Gede Putus dan Ida Ratu Biang," papar Sukadana.


Ditambahkannya, setiap piodalan ada proses patoyan ke Pura Beji yang terletak sekitar 100 meter dari Pura Gede Goa Peteng. “Biasanya dimulai sekitar jam tiga sore dan selesai sebelum jam 12 malam,” ucap Sukadana. Status Pura Gede Goa Peteng adalah pura umum, sehingga pamedek dari masyarakat umum bisa datang sembahyang. (agus sueca merta)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia