Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Cok Ace: Stop Diskriminasi Jenazah ODHA

04 September 2019, 22: 48: 45 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cok Ace: Stop Diskriminasi Jenazah ODHA

PUKUL GONG: Wagub Cok Ace saat membuka Lokakarya Forum Kader Desa Peduli AIDS (KDPA) Bali di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Bali, Rabu (4/9). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Jumlah kasus HIV/AIDS dari waktu ke waktu terus meningkat. Tidak terkecuali di Bali. Kondisi ini jelas mendatangkan keprihatinan. Belum lagi stigma negatif masyarakat terhadap pengidapnya, juga memicu persoalan lainnya, semisal dalam memperlakukan jenazah orang yang mengidap penyakit melemahkan sistem kekebalan tubuh tersebut.

Sampai kini, diskriminasi itu masih ada saja yang terjadi. Hal ini membuat Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengajak masyarakat untuk menghentikan hal itu. Selain itu, dia juga mengajak semua pihak yang peduli dengan HIV/AIDS gencar memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat.

Hal itu disampaikan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau yang akrab disapa Cok Ace saat membuka Lokakarya Forum Kader Desa Peduli AIDS (KDPA) Bali di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Bali, Rabu (4/9).

“Tingginya angka kasus HIV/AIDS jangan menjadikan kita lengah. Tapi sebaliknya, kita harus berupaya menggandakan, sekaligus meningkatkan penanggulangan, agar tidak kalah dengan kecepatan laju HIV/AIDS,” ujarnya.

Dia mengingatkan kembali, pengertian dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menjauhi jenazah ODHA jika meninggal. Namun yang perlu diperhatikan adalah menjauhi penyakitnya. Karena virusnya sangat berbahaya bagi kalangan muda, khususnya usia produktif (seksual aktif) berkisar usia 15-60 tahun.

Sementara itu, Ketua Panitia Lokakarya Made Suprapta menambahkan, lokakarya ini dilaksanakan untuk menyatukan visi ke depan sehingga dapat merumuskan program khususnya di bidang sosialisasi bahaya hubungan seks bebas di kalangan usia produktif.

Melalui lokakarya itu juga, pihaknya berharap dapat ditanamkan pemahaman kepada anggota yang nantinya akan meneruskan di lapangan.

Dengan memperkuat posisi dan jumlah KDPA secara terstruktur, sistemik dan masif di pedesaan, diharapkan mampu memberikan kontribusi penting dan strategis dalam memperkuat upaya yang sudah dilakukan saat ini.

Dilaksanakannya Lokakarya Forum KDPA yang bertujuan mengupas posisi dan peran strategisnya, harus mampu menekan laju penularan HIV/AIDS di pedesaan.

Jika dikaitkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat, maka keterlibatan KDPA dalam penanggulangan AIDS merupakan wujud nyata peran krama desa adat di bidang kesehatan.

Implementasinya antara lain pararem anti korupsi, narkoba, sampah, rabies dan HIV/AIDS. Sehingga dengan pelaksanaan lokakarya selama dua hari ini, dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat searah dengan visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia