Jumat, 20 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tangis Lutung Isyarat Bencana dari Pura Siwa Bentuyung

05 September 2019, 10: 59: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tangis Lutung Isyarat Bencana dari Pura Siwa Bentuyung

UMUM : Pura Siwa Bentuyung, Pura Paibon yang akhirnya menjadi pura untuk umum. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Pura Siwa Bentuyung di Kekeran, Mengwi, Badung, punya kisah unik. Pura yang awalnya Pura Paibon lantas berubah menjadi pura umum kala penjajahan Jepang. Ada apa dengan tempat suci yang berlokasi di Jalan Beji ini?

Kelian Pura Siwa Bentuyung, I Made Kardana, menjelaskan bahwa dahulu
Pura Siwa Bentuyung adalah Pura Paibon atau Pura Ibu. Namun, semuanya berubah saat masa pendudukan Jepang.

Diceritakan pria 54 tahun ini, setelah Jepang menginvasi Hindia Belanda, mereka kemudian juga menyerang Bali. Pada suatu waktu, tentara Jepang yang ditugaskan menduduki Bali berniat menyerang Kekeran dari Desa Kapal yang sudah diduduki sebelumnya. Mengetahui hal itu, warga merasa pasti akan kalah, mengingat persenjataan Jepang sudah modern, sedangkan warga hanya punya bambu runcing.

“Bukti rencana Jepang mau menyerang Kekeran, dahulu ada gua Jepang di sebelah timur sungai. Waktu saya kecil masih ada, namun sekarang sudah hilang  karena ada proyek galian C  di sana,” terang pegawai salah satu BUMN ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di rumahnya di Mengwi, Badung, kemarin.

Warga yang ketakutan, akhirnya berdoa dan berjanji di Pura Paibon yang bakal menjadi Pura Siwa Bentuyung sekarang, bahwa jika Jepang gagal menyerang Kekeran maka mereka akan menyungsung pura ini. “Doa warga Kekeran  dijawab, karena tiba-tiba saja hujan deras turun malam hari sebelum rencana penyerangan oleh Jepang. Hujan deras membuat debit air sungai naik dan banjir, yang menyebabkan Jepang membatalkan  menyerang ke Kekeran ,” ungkap I Made Kardana.

Kemudian karena kejadian tersebut, lanjutnya, pura yang berstatus paibon ini pun berubah menjadi Pura Pemaksan dan bisa didatangin umat secara umum. Nama pura kemudian berubah diambil dari pratima di pura yang berbentuk Dewa Siwa dan dari nama Pura Bentuyung di sebelahnya. “Pura Siwa Bentuyung menjadi nama pura sejak saat itu,” terang pria yang sempat ditugaskan di Kupang ini.


Pemangku Pura Siwa Bentuyung Jro Mangku I Wayan Darsa, 65, menambahkan, Pura Siwa Bentuyung dianggap sebagai pura paling tua di Banjar Dangin Pangkung, Kekeran.

Pura yang  piodalannya jatuh  saat Buda Kliwon Pahang ini, ternyata punya duwe (sosok penjaga niskala)  berupa Lutung Tangis. Hal ini bisa dilihat dari bentuk patung di kanan kiri Gedong Ida Ratu Dukuh. “Selain Lutung Tangis juga ada patung perempuan menari. Nah di pura ini juga  para seniman bisa mencari taksu. Bahkan, seusai sembahyang meminta restu, kadang juga latihan di jaba pura beberapa saat,"
imbuh Jro Mangku I Wayan Darsa yang tinggal tidak jauh dari Pura Siwa Bentuyung.
Dikatakannya, duwe Lutung Tangis di Pura Siwa Bentuyung kerap memberikan pertanda kepada warga, jika akan ada musibah, termasuk tanda akan banyak warga yang jatuh sakit. 

"Duwe Lutung Tangis akan berikan peringatan dengan suara tangisan anak kecil di timur pura, dari utara ke selatan begitu terus berulang akan terdengar. Dan, bila itu terjadi segera persembahkan banten dan berdoa memohon agar tidak terjadi bencana,” ujar Jro Mangku I Wayan Darsa yang diiyakan Made Kardana.


“Lutung Tangis pun juga akan menangis saat piodalan kalau tidak ada tari-tarian, kekidungan dan gamelan,” timpal Made Kardana. Menurut keduanya, yang berstana di pura yang berlokasi di Jalan Beji, Desa Kekeran ini, suka dengan seni, sehingga  tarian, kakidungan dan gambelan selalu dipentaskan. Bahkan, kerap ada warga karauhan dengan tiba-tiba menari-nari. Kipas yang ada di gedong kemudian digunakan menari oleh yang karauhan. Selain itu, keris juga diambil oleh yang karauhan, kemudian  ditusuk-tusukkan ke tubuhnya.


Made Kardana juga sempat kaget karena akeris yang dibawa tiba tiba diambil pamedek yang karauhan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemangku biasanya memberikan tirta, dan yang karauhan pun sadar kembali. Karena sudah menjadi keyakinan, lanjutnya, anak-anak pun kerap menangis jika tidak diizinkan ikut ngayah menari di pura. “Saya kasih saja ya, itu cucu cucu saya kalau ingin nari saat piodalan. Sebagai bentuk ngayah,” ujar Made Kardana.


Diapun  mengakui, anak yang masih kecil akan terlihat sangat luwes menari di pura. “Anak-anak  kalau latihan nari di Pura Siwa Bentuyung, cepat sekali pandai. Mungkin inilah kuasa Ida bagi damuhnya di pura ini ,” pungkas pria yang sejak tahun 1994 menjadi Kelian Pura Siwa Bentuyung. 


Pura yang diempon 82 Kepala Keluarga (KK) ini memiliki palingih utama berupa Gedong sebagai stana Ida Ratu Dukuh, dengan pratima berbentuk Patung Pendeta, Gedong Taksu, Gedong Pasimpangan Tengah Segara, Kemulan, Sambyangan Alit, Sambyangan Gede, dan Bale Pesamuan di utamaning mandala. Sedangkan di jaba ada bale kulkul dan bale gong. (agus sueca)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia