Jumat, 20 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Disbud Badung Kantongi 450 ‘Calon’ Cagar Budaya Pura

05 September 2019, 20: 55: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Disbud Badung Kantongi 450 ‘Calon’ Cagar Budaya Pura

CAGAR BUDAYA : Pura Puru Sada di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung menjadi salah satu cagar budaya. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung berupaya mengerem perusakan bangunan cagar budaya dengan dalih perbaikan, salah satunya pura. Setidaknya, Disbud mengantongi 450 pura yang diduga sebagai situs cagar budaya dan patut dilestarikan.

Meski begitu, pendataan yang dilakukan Disbud belum berhenti. Terbaru, ada 10 pura yang masih diteliti. Salah satunya adalah situs Pura Gelang Agung di Banjar Buangga, Desa Getasan, Kecamatan Petang. “Sesuai amanat Undang-undang Nomor 11 tahun 2010,  semua bangunan-bangunan yang sudah berusia 50 tahun ke atas patut diduga sebagai cagar budaya. Di Badung, bangunan itu cukup banyak,” ungkap Kadisbud Badung, IB Anom Bhasma dalam acara seminar kajian/penelitian situs cagar budaya bertempat di Kantor Disbud Badung, Sempidi, Kamis (5/9).

Berdasarkan data terkini, lanjut pejabat asal Desa Taman, Abiansemal ini, ada 450 bangunan ‘calon’ cagar budaya di ‘Gumi Keris’.  “Bangunan-bangunan yang sudah masuk dan kami inventarisasi sebagai calon cagar budaya sebanyak 450. Dari 450 yang  sudah masuk registrasi tingkat nasional, selanjutnya kami akan bahas dan seminarkan pada tahun ini sebanyak 10 buah di tingkat kabupaten,” jelasnya.

Anom Bhasma tak menampik saat ini pihaknya mendapat tantangan dalam pelestarian situs bersejarah tersebut. Misalnya dalih perbaikan yang justru mengakibatkan rusaknya saksi bisu sejarah. Hal ini tentu sangat disayangkan. Sebab nilai sejarah yang tersimpan dalam suatu bangunan cagar budaya sangat mahal. “Oleh karena itu, selalu kami tekankan agar masyarakat atau desa yang ingin melakukan renovasi atau perbaikan pura agar dikoordinasikan terlebih dahulu ke Disbud Badung, sehingga kami bisa menerjunkan tim untuk mengecek,” harapnya.

Sebagai bukti pentingnya pelestarian bangunan bersejarah itu, Disbud Badung bahkan telah mengeluarkan semacam surat edaran (SE) kepada bendesa adat se-Badung agar melindungi bangunan-bangunan kuno dari kepunahan dan tidak menghilangkan sejarah bangunan tersebut. “Kami tidak melarang pura-pura ini diperbaiki. Cuma sesuai SE, bangunan yang berusia 50 tahun ke atas harus dilindungi. Kalau ingin memperbaiki harus direstorasi. Kita pun bantu siapkan tim sehingga bisa membantu untuk mengembalikan bagian bangunan yang rusak seperti aslinya,” tegasnya.

Guna melindungi keberadaan bangunan-bangunan bersejarah ini, pihaknya menggandeng BPCB, Balai Besar Arkeologi Denpasar dan Universitas Udayana.

“Sebagian besar bangunan yang umur 50 tahun ke atas itu masih berupa pura. Jadi, 450 bangunan itu semua pura,” ucapnya.

Ditegaskan lagi, dari 450 bangunan pura itu, pada tahun 2019 ini, Disbud baru bisa melakukan kajian dan seminar untuk 10 bangunan pura, yakni Pura Gelang Agung di Desa Getasan, Pura Puseh Lawak, Pura Kahyangan Jagat Luwur Giri Kusuma di Blahkiuh, Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo, Pura Dalem Sarin Buana di Jimbaran, Pura Goa Selonding di Pecatu, Pura Dalem Surya Sekala di Sembung, Pura Dalem Madya  Taulan Kerobokan dan Pura Dalem Gede Puseh Sading dan Kereban Langit.

Ditambahkan, pentingnya melindungi keberadaan situs cagar budaya ini karena selain sebagai sumber penelitian dan pendidikan, juga sebagai sumber sejarah. “Penting kita melestarikan bangunan tersebut, tahun berapa didirikan, jangan sampai kita menghilangkan sejarah. Karena kalau itu hilang, kita akan kehilangan sejarah,” pungkasnya.

Hadir dalam seminar tersebut Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Bali Ni Komang Aniek Purniti, Pamong Budaya Madya Bidang Kepurbakalaan I Wayan Muliarsa beserta bendesa adat dan pengempon pura se-Badung.

(bx/adi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia