Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Ngamuk di RS, Didatangi Kembang, Sueca Minta Maaf dan Mengaku Emosi

06 September 2019, 11: 06: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngamuk di RS, Didatangi Kembang, Sueca Minta Maaf dan Mengaku Emosi

DISAMBANGI: Wakil Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan saat bersama I Made Sueca di rumahnya di Desa Tegal Badeng Timur, Kamis (5/9) kemarin. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, NEGARA - Adanya polemik keluhan masyarakat akan layanan di RSU Negara beberapa waktu lalu hingga sempat viral di media sosial disikapi langsung Wakil Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan. Kamis sore ( 5/9), Kembang langsung mengunjungi kediaman I Made Sueca, warga  Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara yang diberitakan sempat mengamuk lantaran kurang puas akan pelayanan RSU Negara.

Tiba sekitar pukul 15.00, Kembang langsung bertemu pemilik rumah I Made Sueca.  Selain mengucapkan turut berbelasungkawa, Kembang mengatakan kalau tujuannya datang menemui Sueca bukan untuk mengklarifikasi salah atau benar dari kasus yang memantik beragam reaksi warga terutama di media sosial. Dijelaskan Kembang, dirinya sore itu ingin mendengar langsung dari bapak Sueca apa yang menjadi keluhan serta apa yang harus dilakukan untuk perbaikan layanan yang lebih baik ke depannya. Hal ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi sekaligus catatan pihaknya, sekaligus juga akan dikordinasikan kepada Bupati Jembrana. “Pemerinatah tidak boleh antikritik, harus juga mendengarkan sekecil apapun saran maupun keluhan warganya,” ujarnya.

Ia menambahkan jika saat ini pemerintah daerah terus berkomitmen meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Jembrana.  Selain pembangunan gedung baru RSU yang  memakan anggaran APBD sebesar Rp 179 miliar lebih, warga Jembrana juga dimanjakan dengan adanya program JKN KIS. Bahkan pemerintah daerah menganggarkan sebesar Rp 53 miliar untuk mengkover masyarakat berobat sebagai peserta BPJS dikelas III. Hanya saja Ia mengakui kalau sosialisasi program tersebut masih belum maksimal, sehingga program ini belum mampu diserap dengan baik. “Masih ada masyarakat yang belum memiliki kartu karena belum didaftarkan atau terdata. Bahkan ada juga yang sudah terdaftar namun belum mendapatkan kartu, seperti yang dialami anak dari bapak Sueca ini sendiri,” terangnya. 

Bahkan beberapa bulan yang lalu, diakui Kembang dirinya sudah sempat mensosialisasikan sekaligus membagikan kartu JKN KIS di wilayah Tegal Badeng Timur. Sosialisasi juga dilakukan di 260 banjar lainnya. “Kebetulan enam bulan yang lalu saya sempat sosialisasi pembagian kartu JKN KIS dibanjar ini termasuk tata cara penggunaan kartu,” jelasnya.

Terkait persoalan berita yang sempat viral itu, Kembang melihatnya lebih disebabkan penyampaian komunikasi antara keluarga pasien dengan paramedis yang bertugas. Kesalahpahaman sering terjadi saat masyarakat datang berobat namun tidak menyiapkan  kartu BPJSnya terlebih dahulu.  “Masyarakat datang berobat tidak memiliki kartu, diwajibkan petugas mengurus kartu terlebih dahulu. Ada kerugian waktu, pikiran bahkan tenaga  disitu. Padahal inginnya cepat dilayani. Nah, hal-hal itu kerap kali terjadi dan menyebabkan emosi sehingga timbul keluhan,” ujarnya.

Karena itu Ia berharap masyarakat pro aktif menyiapkan terlebih dahulu kartu BPJSnya, mengecek apakah masih aktif atau belum terdaftar sama sekali. Karena setiap orang pasti akan pernah sakit dan dirawat. Termasuk bagi mereka  yang baru menikah  agar segera mendaftarkan diri. “Segera bikin akte sebagai  syarat mengurus BPJS. Penting dicatat, untuk menghindari permalasahan saat berobat, sebaiknya BPJS sudah harus ada sebelum digunakan,” terangnya.

Sementara itu kepada Wakil Bupati Kembang Hartawan, I Made Sueca mengakui dirinya pada Senin (2/9) malam lalu sempat emosi dan jengkel terhadap pelayanan yang diberikan petugas di IGD RSU Negara. Saat itu diceritakan Sueca kalau sehari sebelum ke RSU Negara, (Minggu, Red) anaknya pulang dari Denpasar karena keadaan janin dalam kandungan istrinya tidak ada gerakan seperti biasanya. Kemudian Anak dan menantunya melakukan kontrol ke salah satu praktek dokter spesialis kandungan di Negara. “Ke dokter Rai, kontrol di sana katanya sudah tidak ada denyut nadi. Keputusan dari dokter Rai itu katanya sudah meninggal. Kemudian diberikan surat rujukan harus ke rumah sakit,” ujarnya.

Selain itu Suweca juga mengaku kesal dengan pelayanan petugas rumah sakit, seolah-olah dirinya dispelekan sehingga mengakibatkan malam itu dirinya mencak-mencak karena dalam pikirannya, sangat khawatir dengan kondisi kesehatan menantunya yang saat itu janin dalam kandungannya sudah meninggal. Atas kejadian itu kepada Wabup Kembang, Sueca menyampaikan permohonan maafnya. Terlebih lagi beritanya itu sempat viral dan menyudutkan RSU Negara. “Saya memohon maaf atas kejadian itu bukan maksud menjatuhkan nama baik RSU Negara. Tidak sama sekali. Saat itu saya sedang bingung karena mendapat pelayanan yang saya anggap kurang baik dari petugas.  Tapi yang saya juga sesalkan kenapa bisa viral bahkan ada informasi hoax yang beredar,” cetusnya.

Suweca juga mengakui saat itu sedang emosi karena tidak mendapatkan informasi yang utuh akan kondisi penanganan menantu beserta bayinya yang dinyatakan sudah  meninggal dalam kandungan. Namun saat ini diakuinya  semuanya  sudah terselesaikan , menantunya  dalam kondisi baik  usai melahirkan secara normal  dan telah diperbolehkan pulang. 

(bx/tor/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia