Jumat, 20 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Lupa Berdoa di Pasucian Pancoran Dalang, Wong Samar Bakal Bikin Ulah

06 September 2019, 11: 40: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lupa Berdoa di Pasucian Pancoran Dalang, Wong Samar Bakal Bikin Ulah

SAMAR : Pemangku Pura Pasucian Pancoran Dalang, Jro Mangku I Wayan Sana, pernah diusilin wong samar. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Layaknya sebuah desa adat di Bali, Desa Kekeran, Mengwi, Badung juga mempunyai Pura Beji untuk pasucian Ida Bathara. Di pura yang kini menjadi Pura Pemaksan ini banyak menyimpan misteri.

Pura Pasucian Pancoran Dalang mulanya  adalah Pura Beji Desa Kekeran di Mengwi. Pura yang kini diempon oleh 24 Kepala Keluarga (KK) ini mempunyai banyak cerita diluar akal sehat.
Untuk menuju tempat suci ini, semenjak tahun 2003 telah dibuat jalan paving. Menurut pemangku Pura Pasucian Pancoran Dalang, Jro Mangku I Wayan Sana, saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di kediamannya di Mengwi, jalan menuju pura telah berubah sebanyak tiga kali. Hal ini dilakukan karena susahnya akses menuju ke pura melalui dua jalur jalan sebelumnya.

Menaiki sepeda motor, Mangku I Wayan Sana mengajak koran ini masuk ke sebuah gang kecil di selatan jalan. Sekitar 50 meter memasuki gang, kemudian berbelok ke kiri menuju area persawahan. Selanjutnya belok ke kanan memasuki jalan paving di tepi sawah. Hamparan sawah di minggu pertama Bulan September ini hijau mengahampar di depan mata.

Menelusuri sampai ujung jalan paving akan ada tangga turun, dan  Pura Pasucian Pancoran Dalang akan terlihat dari ujung jalan itu.  Ada 99 anak tangga yang harus ditapaki.  Suasana hening dan segar sangat terasa, apalagi terdengar suara air mengalir di kali kecil sebelah tangga. Sepi dan hening sampai di depan pura. Hanya ada suara air dari pancoran di jaba sisi pura. “Dahulu di sebelah timur pura ada jalan, sehingga pintu di pura ini masih ada tiga,” ujar Mangku I Wayan Sana sambil menunjuk tiga apit surang (gapura jalan masuk).

Sebelum memasuki pura, berdoa untuk kemudian menuju  area utamaning mandala. Terdapat ada gua yang  terletak di hulu pura. Ada juga gapura khusus untuk memasuki area tempat kelebutan (sumber mata air). Telaga berisi ikan ada di depan gapura, sehingga menambah suasana asri. “Ada Palinggih Beji Pancoran Dalang tempat air suci mengalir dan Palinggih Sang Hyang Paramesti Guru Leluwur di sebelahnya,” ucap Mangku I Wayan Sana.

Di utamaning mandala sebelah beji terdapat palinggih Candi Sang HyangTunggal yang tinggi menjulang. Candi ini didirikan untuk menggantikan Pohon Wani tempat stana Ida dulu. Disebelahnya ada Candi Pasimpangan Ida Bathara Uluwatu dan Ida dari Batu Ngaus. “Pohon wani tidak boleh ditebang, tetapi akhirnya ditebang asal digantikan dengan palinggih. Maka dibangun candi menjulang tinggi ini,” ungkap pria 70 tahun ini.

 
Selanjutnya ada palinggih Pasimpangan Dalem Ped, Dalem Rsi Uluwatu, Palinggih Surya, Kahyangan Dalem, Gedong Luhur, Kahyangan Desa, Bale Pelik dan Sambyangan. Kemudian di jaba tengah terdapat Palinggih Ratu Nyoman. Kesemua palinggih tersebut, kecuali bale pelik masih menggunakan arsitektur lama dengan lumut yang memenuhi sisi bebatuan palinggih.
Lingkungan pura dengan hutan lebat di tepi sungai dan palinggih yang bernuansa kuno itu,  membuat suasana terkesan magis dan angker. “Ada wong samar di sini. Harus  mengatakan permisi kalau ke sini, berdoa minta izin kepada Ida yang berstana juga,” saran Mangku I Wayan Sana sambil menunjuk area hutan dekat pura.


Tanda eksistensi wong samar di dekat pura ini bila ada suara masuryak (riuh bersorak) terdengar. Kejadian seperti itu kerap dialami adik pemangku I Wayan Sana.

Saat menghaturkan canang di kajeng kliwon tiba-tiba ada suara orang masuryak. Ketika dicari dari mana asal suara itu, tidak ada sama sekali. Tidak hanya saat itu saja, sering suara suryak didengar dari berbagai arah, tetapi tidak ada yang tau orangnya dimana.

Bahkan yang lebih usil lagi, wong samar  pernah menyamar menjadi anak Mangku I Wayan Sana. “Saat itu saya mau sembahyang ke pura pas piodalan Buda Umanis Dukut, ada menantu saya di jalan menuju pura dan  barengan ke pura. Pas sampai pura, tiba-tiba datang anak saya lagi ke pura dan mengaku  baru datang dari rumah,” ucap Mangku I Wayan Sana.

Sontak saja dia terkejut kala itu, karena beberapa saat sebelumnya  ia sudah ajak anaknya bersembahyang  ke pura. Artinya, yang menemani sebelumnya bukan anaknya,tapi wong samar yang menyerupai wajah anak.

Tidak hanya dialami dia dan keluarganya doal wong samar. Ada cerita lain dialami seorang pemancing yang nekat mancing sendiri di pinggir sungai. Namun, ketika melewati pura ia tidak pernah berdoa dan minta izin untuk memancing. Akibatnya, dia selalu ingin datang ke sungai Yeh Penet seperti ada yang mengajak. Akhirnya dibuatkan banten untuk dihaturan ke pura, sekaligus  dimohonkan maaf atas ketidaktahuannya.

Tidak hanya itu, ada orang datang masuk ke pura karena melihat keindahan pura, namun nyelonong langsung,  tidak berdoa sebelum masuk,,dan yang terjadi pria tersebut kebingungan mencari jalan keluar. “Untungnya ia ingat, lantas berdoa baru menemukan jalan keluar. Saya selalu ingatkan agar kalau mau masuk ke pura mending sama pemangku, kalau pamedeknya bukan pangempon pura,” ujar Mangku I Wayan Sana serius.

Ditambahkannya, ada  duwe  (sosok yang dikeramatkan ) berupa be  (ikan) julit dan ular.  "Wanita hamil pantang datang. Menurut cerita turun temurun, duwe Ida sangat suka anak kecil, sehingga ditakutkan wanita hamil tersebut akan keguguran. Anak kecil yang mulai pertama kali sembahyang pun dibuatkan banten prasdaksina. Dihaturkan dulu sebelum mengajak sembahyang. Usai ngaturan prasdaksina baru diajak anaknya sembahyang. Biasanya anak kecil, setelah otonan pertama,” terang Mangku I Wayan Sana.

Soal karauhan (trance) menjadi hal biasa yang terjadi ketika piodalan. Setiap piodalan akan selalu ada pamedek yang karauhan meniru gerkan be julit. Bergerak meliuk-meliuk berputar tiga kali di Gedong Sasuhunan sehingga bajunya jadi kotor. Usai tiga kali berputa, lanjutnya,  yang karauhan akan berdiri dan mencabut keris dari Pura Siwa Bentuyung yang dipegang pamedek lain, kemudian ditusukkan ke dadanya, begitu terus berulang. Setelah usai baru diperciki  tirta agar kembali sadar. Ditambahkannya, sebagai Pura Beji, banyak yang malukat dengan bebantenan prasdaksina 2 soroh, banten palukatan 1 soroh, ayaban 1 soroh, prascita byakala, klungah nyuh gading 1 buah, lalang 3 katih, carang dwin kem , muncuk pandan berduri 3 buah terikat benang tridatu, jempere, dan sarana semabahyang. “Tidak hanya orang lokal, wisatawan asing juga pernah malukat di sini,” tandasnya. (agus sueca merta)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia